15 September 2009

Islam "Ramah"-nya Mana?

BAGIKAN
Sebagai seorang muslim, saya kecewa dengan tindakan barbar salah satu organisasi keagamaan yang mengatasnamakan pembela Islam. Minder, malu, dan inferioritas muncul dari dalam diri kala 1 Juni 2008 lalu orang tak berdosa dipukuli. Parahnya, pemukulan itu dibarengi pekikan “Allahuakbar”. Maka, stigma keras, bengis, dan arogan kepada Islam pun menemui keabsahannya. Apakah itu yang dinamakan dengan pembelaan?

Itu bukan membela Islam namanya. Tapi, merusak citra Islam sebagai agama damai. Andai saja baginda Nabi Muhammad SAW masih hidup, beliau akan menangis. Menangisi perilaku sebagian umatnya yang agresif dan tak terkendali ketika ada perbedaan faham. Dan, Abdullah bin Ubay bin Salul akan tertawa terbahak-bahak. Sebab, tipu muslihatnya mengadu domba ternyata dipelihara sampai 14 abad lebih lamanya.

Islam kekinian – khususnya oknum penoda Islam di Indonesia – terasing dari putaran ruang dan waktu. Ruang keindonesiaan yang tak diperdulikan dan waktu yang tak bisa digusur kembali jarumnya ke masa peperangan. Islam mereka bukan khas keindonesiaan. Tapi, khas kearaban yang barbarian. Islam keindonesiaan mestinya menjunjung tinggi kebhinekaan. Perbedaan adalah rahmat dari Allah agar kita bisa saling belajar. Membelajarkan diri untuk mengakui atau menghargai keberbedaan di sekitar.

Satu hal yang bikin saya berefleksi tentang peristiwa Monas, 1 Juni 2008 lalu. Muslim Indonesia semestinya menghargai perbedaan. Memelihara keharmonisan. Dan melindungi para penganut agama lain. Itu adalah implementasi dari “la iqraha fi al-din”, yakni keberagamaan (religiusitas) yang tidak boleh memaksakan kehendak. Ketika kekerasan dijadikan jalan terakhir untuk menyelesaikan masalah, saya sempat gelisah. Ada apa dengan Umat Islam Fundamental? Apakah perbedaan harus dipoerlakukan dengan cara membeda-bedakan?

Namun, kegelisahan saya terobati ketika menemukan Madina. Majalah Keislaman ini saya peroleh sejak edisi Mei 2008. Alhamdulillah pada bulan Juni 2008 juga saya mendapatkannya. Utamanya, pada edisi Juni 2008, secara pribadi saya acungkan jempol untuk Madina. Dengan menghadirkan artikel 25 tokoh Islam Damai dari Indonesia. Apalagi dengan bahasa yang renyah serta enak dibaca, Madina seakan memikat hasrat saya untuk terus berlanggaanan. Konsistensi terhadap sikap toleran yang harus dipraktikkan umat Islam, sangat terasa dari artikel pada edisi Juni 2008.

Jadi, kegelisahan saya terobati ketika kehadiran teks mengarahkan saya untuk menghargai perbedaan dan toleran. Islam saya pun menjadi Islam santai. Sebab, tidak merasa dikejar-kejar oleh orang lain. Akhirulkalam, semoga saja dengan mengusung penghargaan terhadap pluralitas di Negei ini, Majalah Madina bisa menghadirkan Islam berwajah "ramah". Utamanya, Madina bisa terus eksis untuk mengimbangi media "berbaju Islam" lain yang bisa mengarahkan umat melakukan tindak kekerasan. Sebab, media merupakan satu pilar dari tegaknya masyarakat madani (civil society). Alhasil dalam aktus keseharian, ketika berinteraksi dengan sesama, bangsa ini bisa lebih beradab dan arif-bijaksana menyikapi perbedaan.

Hidup terus Majalah Madina!
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: