17 September 2009

Kenali Siapa Pembacamu

BAGIKAN

Pembaca adalah raja. Dan, mereka berhak menilai jajaran teks yang kamu rangkai. Dulu, waktu aku masih sekolah di pesantren, diterima tidaknya surat bergantung pada kepiawaian merangkai kata. Hehe, aku punya pengalaman buruk tentang hal itu. Sejak kelas 2 Tsanawiyah, suratku ditolak sekitar 14 santriwati. Hebat aku pikir.

Satu dari ribuan bakal calon penulis, hanya aku yang tidak pandai merangkai kata. Waktu itu, aku adalah penulis surat cinta yang buruk. Saking buruknya, setiap bersaing dengan temanku, setiap kali itu juga aku KO.

Di Indonesia, ada potensi jutaan pembaca siap melahap karyamu. Nah, bersiap-siaplah karyamu dibaca ribuan orang. Menulis buku, tidak berbeda dengan menulis surat cinta. Kamu hanya butuh mengetahui siapa yang akan kamu kirimi surat itu. Kalau si target menyukai puisi, bikin surat cinta seindah kacamata yang dipake nenekmu. Berbeda dengan “someone” yang cenderung berpikir logis. Kamu, hanya perlu mengutip penelitian-penelitian ilmiah dari negeri Barat.

Pasa pembaca juga begitu. Aku, menulis buku populer keagamaan. Dan, aku rasakan ada jutaan pembaca di negeri kita. Potensi inila yang aku manfaatkan untuk menuliskan pemikiran tentang tuntunan praktis beribadah. Tentunya, tuntunan yang diselingi kutipan-kutipan hadis, Al-Quran, dan tokoh ilmuwan. Lihatlah karya agung-nya Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin. Begitu banyak orang yang membacanya. Sebanyak semut mengerubuti gula-gula. Buku nonfiksi juga kalau dikemas secara praktis, sederhana, dan menggugah; tidak kalah dengan novel fiksi.

Jalaluddin Rakhmat adalah contoh kongkritnya. Buku nonfiksi sederhananya laku di pasaran dan hampir semua karya beliau masuk dalam jajaran buku-buku best seller. Buku Wawasan Al-Quran, karya M Quraish Shihab juga adalah satu dari sekian buku-buku yang masuk kategori laris manis tanjung pinang. Apalagi Indonesia sebagai negara mayoritas Islam. Kebutuhan terhadap buku-buku keagamaan, ke depan akan semakin meningkat.

Aku terbiasa menulis buku nonfiksi keagamaan populer. Agar lebih diterima pembaca dari kalangan beragama, buku populer tidak perlu terdiri dari teori-teori yang rumit. Semakin sederhana teks, semakin mudah dikonsumsi oleh pembaca. Dan, satu yang perlu diperhatikan ketika menulis buku nonfiksi keagamaan: siapa pembaca yang hendak kita jadikan pasar dari karya kita? Kalau remaja, yang dijadikan pembaca karya kita, maka fakta dan relevansi bahasan harus dikaitkan dengan konteks remaja. Pun begitu ketika yang dijadikan pasar pembaca adalah masyarakat umum atau orang dewasa. Konteks pembahasan mesti sesuai dengan pengalaman dan kejiwaan manusia dewasa.

Konteks adalah ruang dan waktu yang menjadi berlaku atau tidaknya suatu pembahasan sebuah buku. Di penerbit buku-buku remaja, biasanya, mereka mencap buku dengan label For Teens, sehingga masyarakat dewasa tidak menyentuhnya. Kalaupun menyentuh buku pasti untuk dihadiahkan kepada anaknya. Tapi, di Indonesia budaya menghadiahkan buku anak masih bisa dihitung jari. Ringkasnya begitu, kawan, menulis buku perlu kesadaran. Kepada siapa tulisanmu ditujukan.

Nanti aku bahas, tata cara mengirim buku ke penerbit.

Let’s Write for Happiness!!!

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: