9 September 2009

Membijaki Laku Bangsa Nir-Identitas

BAGIKAN
LAKU bangsa Malaysia kini tengah menjadi-jadi, memalukan sekaligus memilukan. Demi mencari identitas kebangsaannya, mereka mengklaim beberapa warisan budaya saudara tertua, Indonesia. Entah untuk kepentingan apa, yang jelas sikap reaktif penduduk Indonesia mengemuka ke permukaan, setelah Tari Pendet dari Bali, diklaim negeri Malaysia. Konon, akibat ulahnya itu, kita kerap memplesetkan Malaysia dengan sebutan negeri “Malingsia”.

Belum lagi sengketa klaim pihak Malaysia terhadap pulau Ambalat, Nipah, Sipadan, dan Ligitan yang masih terus terjadi. Ini mengindikasikan tak hanya kebudayaan yang diklaim negeri Malaysia. Baru-baru ini juga kita dihebohkan dengan berita penjualan tiga pula di sebuah situs web. Pulau-pulau yang dijual itu adalah pulau Makaroni (14 hektar seharga 4 juta dollar AS), pulau Siloinak (24 hektar seharga 1,6 juta dollar AS), dan pulau Kandui (26 hektar seharga 8 juta dollar AS). (Pikiran Rakyat, 27/08/2009).

Pertanyaannya bagaimana dengan harga diri kita sebagai bangsa Indonesia? Apakah rasa nasionalisme kita masih tersisa dalam lubuk hati? Yang jelas, sikap reaktif tidak akan menyelesaikan masalah klaim sepihak dari negeri yang bisa kita sebut nir-identitas tersebut.

Harga diri

Harga diri bagi saya memegang peranan penting. Seperti halnya baju yang saya pakai dan cintai. Suatu hari ketika baju itu disimpan di dalam lemari dengan terkunci rapat, saya membutuhkannya untuk sebuah pesta. Namun yang terjadi, baju saya itu raib dicuri tetangga sebelah tanpa bilang ini-itu. Parahnya tetangga itu memakainya di sebuah pesta yang saya juga ikut menghadiri. Harga diri saya terinjak-injak karena si tetangga memberi kabar bahwa baju yang dipakainya adalah miliknya.
Bukan tak mustahil juga kalau saya bertindak reaktif, sehingga kepalan tangan bersarang di pipinya yang saat itu sedang cengengesan.

Begitu pun bagi bangsa Indonesia yang menyikapi ulah “tak tahu malu” secara reaktif. Ketika ada klaim kebudayaan nusantara oleh bangsa Malaysia, sambil berkacak pinggang, menganjurkan pemerintah untuk menghantam negeri itu dengan senjata. Reaktivitas tersebut, lahir karena kita sedemikian gerah dengan laku si negeri Malingsia itu. Namun, sebagai bangsa berkebudayaan kita tidak mesti menghalalkan “perang” dengan alasan apa pun, kecuali dalam rangka defensif.

Ketika kita melakukan hal itu, apa bedanya dengan bangsa yang tidak berbudaya. Dalam bahasa lain, tidak ngeindonesia. Biarlah mereka mengklaim hak milik negeri ini, karena fakta akan berbicara lain. Misalnya, ketika angklung dihakpatenkan mereka, toh pohon bambu dan Saung Ujo-nya masih tetap ada di Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Saya sangat terkesan dengan bangsa Cina. Mereka memperkenalkan dan mendirikan bela diri Kungfu di setiap Negara tanpa menghilangkan kesan bahwa ilmu kungfu berasal dari Cina. Sekarang ketika ada yang mengklaim bahwa kungfu berasal dari Amerika Serikat, misalnya, seluruh manusia pasti akan menertawakannya. Tertawa terbahak-bahak!

Kalau begitu, bagi masyarakat dan pemerintah mulailah memperhatikan warisan kultural di negeri ini. Jangan lantas kita menyia-nyiakan. Namun setelah ada yang mengklaim, baru kita tergugah rasa nasionalismenya. Bahkan, emosi memuncak sehingga tidak dapat berpikir jernih. Malu rasanya, kalau rakyat menjadi miskin karena anggaran belanja Negara dialokasikan guna memerangi Malaysia. Bukankah ada metode berkebudayaan dengan mendaftarkan kebudayaan nusantara kepada masyarakat internasional?

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, pada posisi ini mesti mengoptimalkan kajian keilmuan di bidang kebudayaan dan promosi lewat jalur pariwisata. Selain itu, sesegera mungkin mendata aset bangsa dan mendaftarkannya ke UNESCO, agar mendapat pengakuan internasional. Sehingga masyarakat internasional tahu, bahwa itu adalah milik negeri kita, Indonesia. Bukan milik negeri Malingsia, bukan milik Malaysia!!!

Menggugah nasionalisme

Dalam tradisi Islam, mencintai tanah air merupakan bagian dari iman. Pepatah ini dalam literasi berbahasa Arab, adalah “hubbulwathan minal iman”. Agama, khususnya Islam, bukan duri penghalang tumbuhnya rasa nasionalisme dalam diri setiap warga Negara. Mempertahankan diri dari serangan bangsa luar, seperti pada masa pra-kemerdekaan adalah jalan untuk mencapai kematian yang suci. Pekikan kalimat Allahu Akbar ketika membela tanah air adalah ibadah dan berpahala disisi-Nya.

Tidak hanya tari Jaipongan, angklung, Batik, Reog Ponorogo, wayang kulit, tari Pendet dan warisan leluhur lainnya, bahkan sumber daya alam pun mereka incar untuk memperluas daerahnya. Saya sih, sebagai warga Negara Indonesia merasa harga diri diinjak-injak. Tak tahu dengan pemerintahan kita. Yang jelas, kekesalan warga Indonesia kembali memuncak kala di internet menyebar plesetan lagu Indonesia, yang disinyalir digubah oleh warga yang berasal dari Negara Malaysia.

Sehingga gubahan lagu Indonesia itu – entah menyudutkan atau membeberkan realitas – memberi pesan bagi seluruh bangsa Indonesia.
Pesan itu ialah meskipun kita memiliki potensi yang “lebih” tinimbang negeri Malaysia, namun kalah cerdas dalam pengelolaan. Alhasil dengan kemajuan negeri Malaysia itu, mereka bersikap superior. Sehingga Indonesia tidak memiliki harga diri (self esteem) dalam pandangan mereka. Oleh karena itu, laku tak beradab sebagian warga Malaysia itu jangan disikapi secara tidak cerdas bahkan dengan dasar emosi.

Bersikap bijak, proaktif, dan mengusahakan diplomasi adalah awal membangun Indonesia menjadi Negara berkebudayaan. Pelarangan mahasiswa dari Malaysia oleh beberapa perguruan tinggi juga, misalnya, bukan jalan keluar yang diproduksi manusia beradab. Segelintir orang yang melakukan laku “tak tahu malu” itu, bukan berarti warga Malaysia harus menanggung diskriminasi memperoleh pengetahuan, wawasan, dan ilmu dari Indonesia.

Bukankah Indonesia bercita-cita menjadi Negara kiblat ilmu pengetahuan? Nasionalisme kita boleh merasa diinjak-injak. Namun dengan picuan reaksi yang tak berdasar hanya akan mengakibatkan kita tidak mampu berpikir jernih menghadapi bangsa (Malaysia) yang nir-identitas itu. Wallahua’lam ***
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: