7 September 2009

Meniru “Puasanya” Tuhan

BAGIKAN
Pernahkah kita melihat Tuhan sedang makan? Ataukah meminum air zam-zam di tanah Suci ketika kita ber-haji? Lantas, bagaimana laku Tuhan yang Esa ketika ingin bercengkrama dengan pasangan-Nya? Pertanyaan-pertanyaan setengah gila – dari saya – yang miskin landasan teologis ini relevan dibahas pada bulan Ramadhan kali ini. Karena Tuhan bukanlah seperti manusia yang punya segudang nafsu, pertanyaan-pertanyaan itu validitasnya bisa dikesampingkan.

Namun, ada kecocokan dengan syariat puasa bagi umat Islam dan umat beragama lain yang diwajibkan menahan nafsu kejasadan. Misalnya menangguhakan jam makan, minum, berhubungan intim, dan yang lebih esoteris – menahan diri melakukan tindak amoral sebagai tanda kesucian diri. Kunci pengosongan (takhalli) diri dari segala bentuk praktik kenafsuan binatang dalam diri manusia selama sebulan penuh adalah misi menghadirkan Tuhan dalam hidup.

Ketika kondisi kita sedang dalam keadaan lapar, biasanya Tuhan menjelma hadir di dalam akal-pikiran. Apa pun agamanya, Tuhan-nya menghadir selama seseorang sedang berlapar ria. Pantas sekali jika ada pepatah bijak yang mengatakan Tuhan hadir di dalam diri manusia fakir dan miskin. Rabbul mustadz’afin.

Saya, tak pernah mengira bahwa Tuhan suka makan dan minum seperti halnya dewa yang memproklamirkan diri sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Saya juga – boro-boro sampai berpikir – tidak percaya Tuhan memiliki segudang nafsu keserakahan. Apalagi membayangkan Tuhan yang sedang melahap makanan kecil ketika sedang menonton panggung sandiwara manusia yang disutradarai-Nya. Tuhan adalah zat yang tak terjangkau yang tak bisa diutak-atik hingga menyerupai manusia berkaki, bertangan, bertelinga, bermulut, berhidung dan bernafsu.

Kesucian-Nya tak terjamah manusia setingkat Nabi, wali, dan malaikat sekalipun. Dia mengindependenkan diri-Nya sebagai pencipta yang Mahasuci dan tidak bernafsu keserakahan yang manusiawi. Dia Mahasuci dan bersifat ilahiyah.
Si miskin yang jarang makan adalah manusia terdekat dengan-Nya. Apalagi bagi orang yang tersesat di padang pasir. Mereka akan menjelmakan sang penolong dalam hidupnya.

Ketika tidak ada seorang pun yang mampu menolongnya dari kesusahan, Tuhanlah satu-satunya sang penolong itu. Puasa – yang didalam syari’atnya – tak boleh makan, minum, bersetubuh pada jam-jam tertentu adalah pembelajaran bagi ruhani kita agar kita sadar. Bahwa Tuhan itu ada. Tuhan yang memelihara kesucian-Nya tanpa mengantarkan keinginan nafsu kejasadan.

Coba bayangkan seandainya Tuhan dalam ketakterbatasan asmaul husna-Nya terdapat label Tuhan yang Mahapemakan. Bukan boleh jadi dong dunia ini bakal habis ditelan bulat-bulat. Namun, Tuhan tidak seperti manusia yang harus makan dan minum. Dia tidak membutuhkan santapan jasadi. Melainkan santapan ruhani yang diperoleh tatkala umat manusia mempersembahkannya lewat praktik amal ibadah di dunia nyata. Dalam bahasa Qur’ani manusia harus menyerahkan segala amal ibadah, hidup dan matinya buat Allah semata. Itulah yang tidak mematikan eksistensi Tuhan dalam hidup keseharian.

Maka, ketika kita berlapar di siang hari – puasa – selama satu bulan penuh adalah medium untuk menghadirkan eksistensi Tuhan. Sebab, menjadi sebuah keniscayaan bahwa orang-orang lapar akan merasakan kedekatan dengan-Nya tanpa hijab selembar kain pun menutupi kesadaran ilahiyah (God Spot). Kaum sufi – untuk menggapai tingkat keruhanian seperti ini – rela tidak makan selama mungkin. Demi merasakan ketersiksaan diri kala kebutuhan jasadi sengaja tidak dipenuhi.

Nah, karena saya dan anda tidak bisa menyamai Tuhan, puasa di bulan Ramadhan cukup menjadi penghantar menemukan kesadaran ilahiyah yang hilang selama 11 bulan lamanya.

Tak perlu repot-repot puasa sehari semalam selama puluhan hari hanya untuk menggali God Spot yang terkubur itu. Sebab, kita bukan Tuhan yang tak pernah makan, tidak minum dan tidak bersetubuh. Fitrah manusia adalah makan dan minum secara teratur dan tidak berlebihan. Sahur, menahan lapar (imsak), dan berbuka (ifthar) adalah menu sehat lima sempurna yang harus dibarengi dengan shalat tarwih dan meninggalkan laku tak bermoral selama mungkin. Baru, dengan begitu kita mengaku bahwa Tuhan itu ada.

Dan puasa-nya Tuhan berbeda dengan puasa-nya umat manusia.


BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: