15 September 2009

Menumpurkan “Ego Keserakahan”

BAGIKAN
Gemuruh takbir membahana ketika gempa berkekuatan 7,3 Skala Richter mengguncang bumi Jawa Barat. Daerah Tasikmalaya, Garut, Cianjur, Pangalengan, Ciamis, Banjar, dan daerah selatan lainnya banyak berjatuhan korban. Pesan apakah yang lantas mesti kita tangkap dalam merenungi bencana alam ini? Menyalahkan alamkah? Terus bersedih dan ketakutankah? Atau berusaha bangkit dari derita ini untuk kembali menjalankan aktivitas keseharian seperti sedia kala?

Sejatinya bencana bagi manusia yang berpikir, dapat menyadarkan perihal aktus yang tak luhung selama ini. Perilaku yang banyak menggusur manusia pada tingkah polah yang berbalut keserakahan. Alam ini sudah tua, begitu ujar kaum agamawan, maka jangan engkau eksploitasi semena-mena. Perutmu jangan dijadikan kuburan alam dan demi menjejali keserakahanmu itu, segala cara dilakukan.

Selama ini kita mungkin tidak menjadi manusia yang peduli terhadap sesama. Belenggu keserakahan sedemikian menggurita mencengkram jiwa, hingga pengemis pun dilarang di bumi Nusantara. Sedemikian serakahnya kita, hingga tak sudi memberikan uang receh bagi si miskin, yang siapa tahu mereka mengemis karena di negeri kita susah mencari pekerjaan? Susah mencari modal untuk membuka usaha? Bahkan, susah menjadi manusia sejahtera?

Kita seolah menjadi manusia yang dipenuhi kecuigaan-kecurigaan. Manusia yang tak sudi orang lain mendapatkan keuntungan melebih kantong kita yang ditebali dengan mengeksploitasi alam. Mungkinkah alam marah pada kita? Kemudian, kenapa warga tak bersalah yang harus menanggung derita? Bukan para pemangku jabatan yang hidup enak karena duduk di kursi kekuasaan. Kemudian, kecewakah kita karena Tuhan terasa tidak berlaku adil?

Merajut harapan

Redamlah kekecewaan dan hapuslah dalam beberapa detik. Kemudian, rajut kembali harapan dengan berkarya tanpa henti. Seperti dibilang mendiang Martin Luther King, “We must accept finite dissappointment, but never lose infinite hope.” Artinya, kita boleh menerima kekecewaan sementara, namun jangan sampai kehilangan harapan yang tak berbatas.

Puasa kali ini mesti dijadikan awal untuk merefleksi hidup kita selama ini. Socrates pernah berbisik, hidup yang tak diperiksa tidak layak diteruskan. Kenapa? Karena ketika tidak diperiksa atau direfleksikan, tiada bedanya dengan hehewanan. Peristiwa gempa pekan lalu, diharapkan dapat menyadarkan kita untuk sejenak berefleksi, berbagi dengan sesama adalah misi suci tanpa henti. Apalagi, gempa yang menelan kerugian sekira satu triliun ini bertepatan dengan dilaksanakannya ibadah puasa bagi umat Islam.

Mungkin Tuhan sedang menjentik eksistensi kita. Dia mencoba mengingatkan bahwa “ego keserakahan” sedemikian akut menyergap laku kita. Puasa yang seharusnya dijadikan ritua mengasah kepedulian, tidak kita hayati sungguh-sungguh. Dengan gempa inilah, rasa kepedulian itu tumbuh hingga seterusnya kita mesti membina relasi sosial secara berkeadilan. Jawa Barat sebagai lumbung padi, misalnya, tapi tidak dirasakan berupa lumbung oleh warganya. Di daerah Pameungpeuk, daerah teman saya terkena gempa, tapi bantuan berupa pangan tidak bisa mereka akses. Bukankah ini pertanda, bahwa pemerintahan Jawa Barat harus menanggung dosa menyengsarakan rakyatnya?

Kali ini, dengan berusaha menyentuh relung hati kita yang terdalam. Cobalah sentuh hati kita dengan menumbuhkan kembali ’sense of crisis’ dalam diri. Bukan menjustifikasi, bahwa ini adalah kesalahan manusia sehingga Tuhan menimpakan adzab. Persoalan teologis ini, untuk konteks kekinian mesti dikesampingkan. Karena ada yang lebih penting dari itu semua, yakni memberikan pertolongan kepada korban yang sekarang sedang dalam derita yang mendekam. Wallahua’lam***
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: