18 September 2009

Mudik dan Kesadaran Balik Manusia

BAGIKAN

Mudik atau pulang kampung menjelang Lebaran kini menjadi aktivitas kebudayaan yang menasional. Bukan bagi masyarakat pulau Jawa semata; melainkan hampir kebanyakan rakyat di Nusantara yang merantau selalu mudik meskipun ada kesulitan mengadang. Kemacetan, misalnya, meskipun terus menjadi soal klasik bagi pemudik, tidak menyurutkan warga kampung untuk merehatkan diri di tempat muasalnya. Jadilah prosesi mudik sebagai puncak pengalaman religi bangsa Indonesia, sekaligus sebuah kebudayaan yang diinisiasi hari raya Idul Fitri.

Bahkan hebatnya, kini, mudik bukan hanya milik orang Islam. Banyak juga saudara kita dari kalangan non-muslim yang ikut meramaikan kebudayaan mudik ini sehingga suasana menjadi kian ramai dan kian meriah. Para pemudik via kapal laut, motor, mobil pribadi, bus, bahkan ada yang mudik bersama keluarga dengan menggunakan kendaraan roda tiga, Bajaj. Arus mudik ini tentunya mengakibatkan jalan raya di beberapa tempat seperti Nagreg dan Cadas Pangeran dapat dipastikan akan dijejali para pemudik.

Sistem nilai budaya

Koentjaraningrat dalam bukunya, Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan (1990:25) menulis suatu sistem nilai budaya (cultural value system) berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia. Di mana dalam sistem kebudayaan itu masyarakat menganggap sebuah laku kebudayaan amat bernilai dalam hidupnya. Seperti halnya mudik bagi masyarakat muslim Indonesia. Ia (mudik) menjadi suatu keniscayaan dilakukan sehingga Islam Nusantara menjadi unik. Dalam bahasa lain, mudik telah menjadi kebudayaan yang memiliki sistem nilai di jiwa umat Islam.

Mudik menjadi sangat penting dalam menghadapi datangnya hari raya Idul Fithri atau lebaran. Bagi orang yang mengadu nasib di perantauan, aktivitas mencari nafkah ditujukan untuk merayakan hari lebaran bersama keluarga di kampung halaman sebagai tempat kelahirannya. Meminjam analisis Koentjaraningrat tentang sistem nilai budaya (cultural value system), sejatinya budaya mudik jelang lebaran dapat membentuk mental dan mentalitas kita ke arah yang berperadaban. Singkatnya, dapat berperan bagi pembangunan kampung tempat muasal masyarakat kampung yang mencari penghidupan di kota.

Penghasilan dari kota berupa pemikiran, uang, dan semangat mestinya dapat mengangkat kehidupan warga di tempat muasalnya untuk membangun peradaban ke arah yang lebih baik. Koentjaraningrat mengatakan cultural value system – apabila dipegang secara kukuh – akan melahirkan sikap mental dan mentalitas yang mengacu pada nilai kebudayaan tersebut. Ini artinya, ketika mudik menjadi kebudayaan yang sarat dengan nilai, tentunya akan melahirkan semangat yang tak sekadar wacana. Melainkan semangat yang mewujud dalam aktus transformatif sehingga bermanfaat bagi lingkungan, yakni memberdayakan tempat muasalnya.

Sayangnya, mental buruk orang kampung yang sukses di kota, mereka hanya setahun sekali mudik ke kampung halamannya. Setelah lebaran berlalu, mereka banyak yang tidak mengingat kembali tempat muasal dilahirkannya itu. Sehingga kesadaran baliknya, yakni kesadaran untuk membangun daerahnya menjadi redup-redap, hanya setahun sekali. Bahkan, ada yang lima tahun sekali ketika kampanye pemilihan tiba (ini bagi pejabat); atau tidak ingat sama sekali. Kesuksesan di kota seringkali dijadikan kesempatan untuk menambah angka kaum urban. Bukan mengembangkan kampung halaman agar memiliki keberdayaan dan kekuatan ekonomi bangsa, misalnya dengan mengoptimalkan potensi pedesaan lewat usaha kecil dan menengah (UKM).

Mengembalikan diri

Secara hermeneutis, gerak kembali ke asal atau popular disebut mudik adalah proses mengembalikan diri ke arah kebeningan hati, kedamaian laku, dan kepedulian terhadap soal kemiskinan. Modernitas, tentunya akan melahirkan keterasingan diri, sebagai dampak dari kapitalisme, di mana pekerja yang menghadapi raksasa impersonal di lingkungan perkotaan. Ketakberdayaan, perasaan terpencil, dan tidak bermakna cenderung menghinggapi jiwa manusia modern ketika mereka berada pada kuasa pemilik modal. Tak hanya itu, individualisme pun menguat karena di kota sekumpulan hari adalah waktu untuk bekerja, “I Only Work Here”. (Kuntowijoyo, 2006: 109).

Itulah yang disebut Kuntowijoyo sebagai sebuah kesadaran balik. Seorang pejabat kembali kepada perilaku “udik” yang tidak berani mengambil hak milik orang lain. Pengusaha dan pekerja dapat menyisihkan sebagian hartanya untuk warga di tempat tujuan bermudik. Sebab selama tinggal di kota, hidup ini sedemikian ditunggangi ketidakmerdekaan diri. Mudik ke kampung halaman adalah upaya pembebasan diri dari penatnya aktivitas masyarakat kota yang individualitstik. Di dalam kata mudik dan “udik” juga terkandung kesamaan arti bahwa perilaku asali manusia mesti mencerminkan keaslian diri seperti kolektivisme, kejujuran, dan peduli terhadap sesama sebagai ciri khas warga di tempat asal kita.

Selama kita hidup di perkotaan yang individualistik, tak salah kalau sehari dua hari meluangkan waktu untuk berbagi dengan warga kampung. Socrates pernah berbisik, hidup yang tak diperiksa tidak layak diteruskan. Kenapa? Sebab ketika tidak diperiksa atau direfleksikan, tiada bedanya dengan hehewanan. Peristiwa gempa beberapa pekan lalu, diharapkan dapat menyadarkan kita untuk sejenak berefleksi, berbagi dengan sesama adalah misi suci tanpa henti. Bagi pemudik dari Daerah Jawa Barat Selatan, itu adalah pesan kemanusiaan untuk mengingat kembali penderitaan warga miskin.

Mudik kali ini, dengan berusaha menumbuhkan kembali “sense of crisis” adalah awal membentuk harapan korban bencana sehingga kembali menguat dan menemukan optimisme. Seperti dibilang Martin Luther King, “We must accept finite dissappointment, but never lose infinite hope.” (kita boleh menerima kekecewaan sementara, namun jangan sampai kehilangan harapan yang tak berbatas).

Selamat bermudik! Semoga tradisi kembali ke tempat asal ini jadi awal memulai aktivitas hidup dengan kejujuran, amanah, antikorup, transformatif, kritis, konstruktif, dan paling utama bisa meringankan beban penderitaan warga kampung yang jarang melihat uang dan makanan enak. Jadi, mudik ke kampung halaman bisa menyadarkan kita untuk merefleksi kehidupan selama ini kalau aktivitas sosial-kultural-religius ini bisa ditangkap semangatnya. Wallahua’lam



BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: