3 September 2009

Ngabuburit sambil Ngeblog

BAGIKAN
Bulan Ramadan bagi umat Islam adalah bulan penuh berkah. Segala aktivitas di bulan ini akan berbuah pahala. Menjadi keniscayaan bagi seluruh umat Islam yang akil-baligh untuk memanfaatkan moment Ramadan dengan aktivitas bermanfaat.

Menahan lapar, haus, dan nafsu jasadi, untuk saat sekarang bisa dilakukan dengan cara yang beragam. Bagi masyarakat kampung, mengisi Ramadan seringkali diisi dengan acara ngabuburit.

Teknis ngabuburit-nya di setiap daerah akan berebeda. Ada yang sekadar jalan-jalan, mengikuti pengajian sore, tadarus Al-Quran atau sekadar ngobrol ngalor-ngidul dengan tetangga sekitar.

Dengan latar belakang pendidikan umat Islam yang beragam, maka acara ngabuburit juga akan diisi dengan cara yang sesuai dengan hobi dan minat masing-masing. Salah satunya dengan melakukan aktivitas ngeblog (blogging). Meskipun bagi masyarakat di perkampungan ngeblog adalah entri aneh untuk dipahami, namun, bagi sebagian masyarakat kota, ngeblog telah menjadi bagian hidupnya.

Jauh sebelum bulan Ramadan tiba, generasi muda Islam telah terbiasa mengupdate blog dengan tulisan, photo, gambar atau sekadar catatan pengalaman hidup. Era internet (cyberspace) ini telah mengubah cara anak muda mengisi waktu menjelang Maghrib dengan menongkrongi layar monitor PC atau notebook. Seperti yang dilakukan sebagian anak-anak muda Islam, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati dalam mengisi acara ngabuburit. Mereka sebagai generasi muda Islam “melek internet” menunggu waktu Maghrib tiba dengan cara ngeblog. Dengan ngeblog, waktu yang terus berjalan pelan seakan tak terasa karena sedang terkoneksi ke dunia luar (internet).

Ponggawa website Sunan Gunung Djati (web komunitas Blogger Kampus UIN SGD Bandung), Ibn Ghifarie malah telah menjalani aktivitas ngabuburit sambil ngeblog sejak 2006. Melalui laman blognya, http://www.boeldzh.blogspot.com, ia mencurahkan minat studinya terhadap gerakan antikekerasan dan studi agama-agama. Dengan ngeblog, ujarnya, dia bisa menjalin relasi ke berbagai pelosok di Indonesia. “Pemikiran-pemikiran saya tentang projek agama yang antikekerasan dapat diakses dan dikritisi oleh pembaca blog di luar Bandung.” Jawabnya, ketika ngobrol dengan saya ihwal rencana Blogshop Sunan Gunung Djati dengan tema kampanye Ayo Ngeblog, Ayo Berkarya.

Berbeda halnya dengan Cecep Hasanuddin, ia baru setahun rajin mengupdate blog-nya karena motivasi senior di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UIN SGD Bandung. Sekarang, dengan rajin memposting tulisan, ada semacam kepuasan yang tak kalah hebat ketika artikel dimuat media cetak. “Dulu, saya susah sekali menuangkan ide menjadi sebuah tulisan. Alhamdulillah setelah terbiasa menuliskannya di weblog kesayangan, saya sudah bisa menulis. Meskipun tidak sepenuhnya bagus.” Ujarnya seraya memberikan alamat blognya http://iramakata.blogspot.com.

Lain halnya dengan Reza S Nugraha, mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Arab ini memiliki blog karena tuntutan aktivitasnya di dunia pers kampus. Selama menjadi Pemimpin redaksi majalah Suaka, ia menjadi akrab dengan media online ini. Karena tren media mengarah ke interaktivitas dan kecepatan mengakses informasi, ia tidak bisa tidak, mesti mampu menguasai media cyber. Tuturnya yang bisa dilihat tulisannya di laman http://elfarizi.wordpress.com.

Sementara itu Dasam Syamsuddin, Amin R Iskandar, Jajang Badruzaman dan Badru Tamam Mifka merasakan hal yang sama dengan generasi muda “melek internet” lainnya. Mereka merasa telah mendapatkan kepuasaan yang sulit digambarkan ketika tulisan di blognya dikomentari pengunjung dan dengan itulah terjadi diskusi yang hangat. Namun, ketika ditanya ihwal publikasi tulisan di media cetak, mereka belum merasa percaya diri untuk mengirimkan tulisan ke media cetak. Meskipun dari beberapa anggota komunitas blogger kampus UIN SGD Bandung, tulisannya ada yang dimuat Koran.

Dengan alasan itulah, web komunitas Blogger Kampus UIN SGD Bandung lahir. Mereka semua berharap, media tempat berkumpulnya pemikiran civitas akademika UIN SGD Bandung dapat diakses setiap orang. Apalagi ketika sedang menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadan ini. Boleh jadi, aktivitas memposting tulisan di blog pribadi atau web komunitas, www.sunangunungdjati.com, bernilai pahala di sisi Allah SWT.

Manfaat blog di Bulan Ramadan

Bagi generasi muda Islam “melek internet” blogging di bulan Ramadan ini banyak dimanfaatkan untuk mengisi waktu dengan kegiatan bermanfaat. Kalau dahulu kala, orang tua kita ngabuburit dengan cara mengunjungi sebuah tempat yang ramai dijejali orang-orang. Sekarang, bagi generasi cyber, ngabuburit tidak hanya dilakukan secara berkelompok atau berjamaah. Dengan bekal notebook atau ngerental di warnet saja, mereka sudah bisa ngabuburit dengan menjalankan aktivitas ngeblog.

Alhasil, kegiatan nongkrong yang banyak tidak bermanfaatnya ketimbang manfaat, di bulan Ramadan ini diarahkan ke dalam bentuk yang bermanfaat. Adapun secara empiris, manfaat blog di bulan Ramadan adalah sebagai berikut:

1. Kemampuan menuangkan ide menjadi tulisan akan terasah

2. Dapat menjadi wahana bertukar ilmu pengetahuan dengan sesama blogger

3. Catatan online yang memiliki potensi untuk dijadikan pelajaran oleh kita dan pengunjung

4. Tempat mencari dan berbagi informasi seputar trik dan tips meningkatkan kualitas puasa kita

5. Sebagai ruang untuk katarsis (pembebasan) jiwa dari segala bentuk tekanan

6. Dan manfaat lainnya yang tak akan habis ditulis

Akhirul kalam, mengisi aktivitas ngabuburit dengan ngeblog dapat membentuk dan memperkokoh kualitas puasa kita. Itu juga kalau kita mendasarkan aktivitas ngeblog pada suara keilahiyan. Nusyuki, mahyaya, wa mamati lillahirrabilalamin (segala aktivitas, hidup, dan mati hanya diserahkan bagi Allah pemelihara alam raya). Artinya, ngeblog di bulan Ramadan dan bulan-bulan selanjurnya mesti didasari niat untuk menggapai ridha Allah SWT. Inilah yang saya sebut hasil dari ngabuburit sambil ngeblog seorang generasi muda Islam “melek internet”.

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: