7 September 2009

Paksalah Kamu Menulis Buku

BAGIKAN
Kamu boleh tidak setuju dengan judul provokatif di atas. Namun, seperti halnya pemerintah, yang tak sudi menurunkan harga bahan pokok. Pun begitu denganku. Tak sudi menghentikan tulisan ini.

Kali kesempatan ini, aku terpaksa menulis tentang tahapan menulis buku. Aku yakin kamu sudah sedemikian mahir menyetubuhi notebook kamu, buku bacaan kamu, dan keyboard PC (Personal Computer) di rumah kamu. Dari persetubuhanmu itu, lahirlah jejeran teks buah karyamu. Formatnya bisa dalam bentuk catatan, diary, bahkan blog kamu yang aduhai mantapnya.

Nah, untuk menghasilkan buah persetubuhanmu dengan pengalaman, buku, dan refleksi hati butuh keterpaksaan. Hasil persetubuhan itu lahir kalau kamu terpaksa. Punya bakat terpaksa dalamdiri mesti dimanfaatkan. Misalnya, ketika kamu disuruh membuat makalah oleh guru atau dosen, kamu bisa menyelesaikannya. Kalau pacar kamu ngasih deadline untuk mengatakan “I Miss U”, kamu bisa menulis pesan singkat (SMS). Kala sedih menerpamu, buku catatan (online maupun offline) akan menjadi tempat curhat mengasyikanmu.

Jujur saja, aku terpaksa menulis buku karena punya kebutuhan. Kalau tidak sedang butuh uang, popularitas, dan peningkatan intelektual, aku tidak akan pernah menulis buku. Uang, popularitas, dan peningkatan intelektual (UPPI) adalah segerombolan motivator yang memaksaku menulis buku. Itulah hal pertama yang aku rasakan. Setelah, beberapa karya berupa buku lahir maka minimalnya per tiga bulan aku dapat memenuhi kebutuhan perut, jiwa, dan akalku. Bisa membeli buku, bisa nraktir kawan-kawan, bisa ngasih sedekah ke fakir miskin, utamanya nama kita bisa popular. Intelektualitasku juga semakin bertambah. Sebab, ada dorongan untuk menjejali diri dengan pengetahuan.
Malu, kan, kalau penulis tidak melek pengetahuan?

Terpaksa dalam bahasa penerbitan buku hampir sama dengan istilah “deadline”. Kalau kamu sudah berhadapan dengan penerbit harus siap dikejar “deadline”. Atau, siap-siap saja kamu kecapean mengejar si “deadline” itu. Aku kagum pada guruku, seniorku di dunia penulisan, namanya Bambang Q-Anees. Dia, mampu menghasilkan karya hampir puluhan buku dalam beberapa tahun. Belum lagi, puluhan artikelnya di koran dalam setahun. Sampai-sampai, aku memanggilnya soko guru dunia penulisan.

Aku yakin dia awal mulanya terpaksa menuliskan ide dan gagasannya karena kalau tidak, bisa sakit jiwa. Hehe. Aku yakin juga dia mengejar “Deadline” yang diberikan Tuhan untuk menelurkan karya sebagai tanda manusia beradab. Andai seluruh dosen di perguruan tinggi punya semangat seperti dia, walah…walah, TOP begete deh.
Lantas kamu bertanya padaku, “sudah berapa judul yang kamu tulis?”

Aku hanya bisa menjawab, “ah…tidak banyak. Karena kamu memaksaku berbagi pengalaman, aku rela membaginya. Jujur, kali ini, aku tidak merasa terpaksa. Mungkin aku sudah mendekati kedewasaan berpikir. Hehe! Terlalu murah mengukur sebuah karya dengan segepok uang.”

“Hahaha idealis banget deh.” Itu kamu yang menimpal perkataanku.

Aku teringat Umberto Eco, seorang kolumnis dari negeri seberang berujar, “menulis,” katanya, “adalah kewajiban moral.” Aku muslim, dan karena kemuslimanku ini hingga mendorongku untuk menulis buku.
Kemudian, kamu kembali bertanya, “bisa dibagi nggak pengalaman suka maupun duka hingga dapat menerbitkan buku?”

Hmmm, asyik juga tuh. Aku akan paksakan menulis trik, tips, dan bekal agar karyamu bisa diterbitkan sebuah penerbitan. Yang jelas, siapkan jiwa dan raga menghadapi penolakan-penolakan. Jangan pernah putus asa! Gugur satu tumbuh seribu pokoknya.

Mulailah menulis buku dengan terpaksa. Mumpung kamu masih bisa bernafas. Mumpung kamu bisa berpikir. Mumpung kamu punya tangan. Lihat Gola Gong, hanya dengan sebelah tangan, dia mampu menghasilkan karya agung. Lihat juga Andrea Hirata, yang tak pernah menulis buku sebelumnya, tapi melahirkan karya fenomenal, tetralogi Laskar Pelangi. Paksalah dirimu untuk menulis buku. Maka, akan lahir sebuah buku sebagai hasil persetubuhanmu dengan buku bacaan, pengalaman, dan keberfungsian hatimu. Setelah bukumu terbit, bahagia rasanya; meskipun kadang-kadang muncul ketidakpercayaan diri. Takut karyamu itu dibilang tidak berkualitas.

Biarkanlah mereka berkata seperti itu. Yang terpenting, gue udah mengada. Gue udah jadi manusia beradab. Gue udah menjalankan perintah “Iqra” dari Tuhan. Gue udah mampu mencapai puncak kebahagiaan. Setelah memaksakan diri, bahkan terpaksa menulis buku, lama-kelamaan kamu akan menemukan setitik air dari telaga kebahagiaan hidup: berkarya tanpa henti.

Sekian dulu cakap-cakap kita hari ini. Besok atau lusa, gue tulis lagi bagaimana langkah awal mengelola ide hingga menjadi buku. Ya, itung-itung belajar bareng bikin buku. Karena sampai saat ini aku juga tidak tahu, buku seperti apa yang ditolak dan diterima itu. Ditolak bukan berarti ide dan gagasanmu jelek. Diterima, bukan berarti juga naskah kamu itu bagus. Ada beberapa faktor yang menyebabkan lahirnya akibat-akibat tersebut (diterima dan ditolak). Dan, itu akan aku bahas pada tulisan nanti.

Let’s Write for Happiness!!!!
BAGIKAN

Penulis: verified_user

1 komentar:

Anonymous said...

nyobiah ah