9 September 2009

Pesan Kemanusiaan Puasa

BAGIKAN
Islam – meminjam bahasa Dawam Rahardjo – merupakan agama pembebasan, baik dari kebodohan maupun perbudakan, karena itu Islam yang membebaskan dan emansipatoris bukanlah pengertian yang abstrak. Namun, Islam sebagai kekuatan pembebas dan emansipatoris kini telah menjadi abstrak. Buktinya, perhatian umat masih terpusat kepada Tuhan, sementara sisi horizontal terlupakan. (M Dawam Rahardjo, Paradigma Al-Quran, 2004).

Berhala kekuasaan dan harta merajalela, karena dengan mendewakan kekuasaan dan harta itulah, sisi kepedulian atas kesedihan, keperihan dan kesengsaraan rakyat miskin cerai berai. Gejala seperti ini melahirkan manusia yang memakan harta warisan secara rakus, tidak bertanggung jawab terhadap kemiskinan, dan tidak mau menyantuni rakyat miskin walaupun hanya sekadar memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

Pendusta agama

Kehilangan terbesar seorang manusia adalah tidak mampu melepaskan penjajahan nafsu-keserakahan, hingga mengakibatkan menyeruaknya penindasan. Dengan demikian, realitas sosial bangsa-negara saat ini membutuhkan peran agama yang membebaskan rakyat dari penjajahan dan kemiskinan. Sebab, perilaku kapitalistik, yakni menumpuk-numpuk harta dengan cara mencekik nafas kesejahteraan rakyat merupakan bentuk perilaku kongkret dari "mendustakan agama".

Dengan puasa sebulan penuh, sisi kemanusiaan kita sebagai implikasi kesalehan ketika menjawab permasalahan sosial menampakkan geliat yang membebaskan manusia dari determinasi berhala-berhala menjajah (thagut). Berhala tersebut bisa berupa apa saja; harta dan tahta yang merembet ke seluruh aras kehidupan seperti: politik, ekonomi, budaya serta institusi-institusi sosial kemasyarakatan.

Pesan moral Ramadhan, kita tidak boleh menjadikan perut sebagai kuburan orang lain. Jangan jadikan perut kita sebagai kuburan orang-orang miskin. Jangan pindahkan tanah dan ladang milik mereka ke perut kita. Itulah pesan moral Ramadhan, yang menurut saya, relevan dengan kondisi saat ini. Ketika kita dikejar-kejar konsumtivisme (senang pesta dan berbelanja barang-barang yang tidak bermanfaat) dan dikejar-kejar upaya meningkatkan status sosial, tidak jarang kita berani memakan hak orang lain.

Tidak cukup hanya sampai disitu. Ibadah puasa juga mengajarkan kendati harta itu milik kita, kita tidak boleh memakannya sendiri. Saya ingin mengutip ucapan Imam Ali karamallahuwajh, “Tidak pernah aku melihat ada orang yg memperoleh harta yg melimpah kecuali di sampingnya ada hak orang lain yang ia sia-sia kan”. Kita tidak usah menjadi Marxis untuk menyadari bahwa keuntungan yang berlimpah ruah dimiliki orang-orang kaya yang tinggal di negara-negara miskin, misalnya, karena upah buruh yang murah sehingga si pemilik perusahaan memperoleh keuntungan yang besar.

Seandainya kita memperoleh gaji yang tinggi, di dalam Islam, kita tidak boleh memakan semua yang kita terima walaupun itu hasil jerih payah kita sendiri. Bagi yang mempunyai gaji berlebih, ia berkewajiban menyantuni orang-orang miskin. Puasa tidak akan bermakna apa-apa sebelum kita memberikan perhatian yang tulus kepada orang-orang yang menderita di sekitar kita. Itu pesan moral ibadah puasa.

Kalau seseorang puasanya cacat, atau puasanya batal, atau melakukan hal-hal yg dilarang dalam ketentuan fiqih, maka tebusannya adalah menjalankan pesan moral puasa itu. Kalau tak mampu berpuasa berturut-turut selama satu bulan, dia diwajibkan menyedekahkan hartanya kepada kaum miskin. Memperhatikan orang-orang lapar dan menyantuni fakir miskin adalah pesan moral puasa.

Nilai kemanusiaan

Nilai-nilai kemanusiaan sebagai ciri kebumian doktrin langit, jika tak terperiksa secara kritis akan terseret arus kepentingan sesaat. Relasi sosial bakal dijibuni sekat-sekat kepentingan yang mengenyampingkan eksistensi wong cilik sebagai tanda menggejalanya dehumanisasi. Tak salah jika Socrates pernah berujar, hidup yang tak terperiksa tidak layak untuk diteruskan. Maka, salah satu jalan untuk memeriksa diri dan menghidupkan rasa kemanusiaan adalah dengan berpuasa, karena ibadah ini bisa dikategorikan sebagai personal religiousity dan social religiousity.

Artinya, kesalehan individual yang mampu berefek samping terhadap pola interaksi sosial seorang manusia. Dengan berlapar-lapar, haus dan menahan hasrat-nafsu, kita bisa belajar mengempati orang lain dan menahan diri untuk tidak berlaku jahat dan korup. Kita juga bakal menyadari bahwa hidup di dunia profan sangat memerlukan kehadiran orang lain. Ini artinya, sebagai seorang manusia, mesti mempertanyakan apa dan bagaimana fungsi kita di dunia profan ini.

Lantas, sudahkah puasa kita mengantarkan diri menyadari fungsi kemanusiaan di dunia? Karena, tak bisa kita sangkal ajaran Tuhan diturunkan ke dunia. Bukan ke akhirat sana. Jadi, seharusnya keberagamaan kita menampakkan semangat kemanusiaan. Manusia, secara eksistensial selalu punya keterangan yang jelas tentang dirinya dan menunjukkan kesalinghubungan bersama melalui cara hidup dalam ruang sosial berhiaskan empati pada sesama.

Kalau saja dihayati, puasa ternyata mampu menempa diri setiap umat Islam untuk mengempati segala penderitaan rakyat miskin, sebagai misi kemanusiaan yang selama 11 bulan telah hilang dari jiwa kita. Dan, betul kiranya jika puasa dikatakan sebagai salah satu ritual personal dan sosial yang berfungsi menemukan sisi kemanusiaan yang hilang dari diri. Sebab, inti dari pembebanan (syari'at) ibadah puasa menyadarkan manusia, betapa dirinya mesti merasakan penderitaan sesama.

Imam Ali bin Musa Al-Ridha mengatakan, sebab diwajibkannya puasa adalah agar manusia merasakan kelaparan dan kehausan. Agar mereka mengetahui kerendahan, kehinaan dan kemiskinan dirinya. Juga mengetahui beratnya kehidupan akhirat, sehingga mampu meninggalkan pelbagai dosa dan maksiat. Utamanya dosa mengeksploitasi manusia liyan dengan cara-cara yang tak manusiawi. Wallahua’lam
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: