6 September 2009

Puasa-nya Manusia Beradab

BAGIKAN
BULAN Ramadhan, katanya, adalah waktu yang tepat untuk membakar dosa yang telah menumpuk dalam diri kita. Saat-saat ramadhan, aktivitas keberagamaan kita bakal meningkat tinimbang bulan-bulan ke belakang. Di bulan ini kita sedang melatih diri menahan nafsu-duniawi, untuk mengejar predikat manusia takwa. Manusia yang tak sekadar takut karena siksa neraka. Namun, dengan landasan cinta (hubbun) ia sanggup menjalankan roda di jiwa untuk terus menggelindingkan aktivitas ke hal-hal yang bermanfaat.


Kata “amal”, misalnya, seringkali bersanding erat dengan iman, zakat, dan ibadah. Ini menunjukkan keberkahan memegang peranan penting dalam Islam. Amal kebajikan adalah sedekah, wujud keimanan dan ibadah kita kepada Allah SWT. Meskipun ada segolongan orang penganut humanisme sekular mengakui asas kebermanfaatan hidup sebagai murni dari keyakinan agama, bukan berarti kita juga menanggalkan suara agama dari hati. Tidak ada salahnya bagi kita yang beragama Islam memahami di balik puasa terdapat semangat kemanusiaan, yakni berbagi.

Pesan puasa

Puasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan, yang telah dilaksanakan 1400 tahun lebih mestinya dapat membentuk kita hingga mampu menangkap disyariatkannya puasa. Dalam lidah orang Indonesia, shaum berarti puasa yang berasal dari bahasa Arab, yakni “shaum”, diambil dari “shama-yashumu-shaiman” yang berarti menahan diri dari sesuatu, berhenti, atau diam di suatu tempat. Ini berarti, puasa harus mampu menahan atau menghentikan kita dari laku tak manusiawi dan biadab.

Sebab, Islam diturunkan-Nya hanya untuk menciptakan manusia beradab. Di dalam Alquran, saya temukan ayat suci, “Sesungguhnya manusia diciptakan dalam kondisi (bentuk) yang sebaik-baiknya (memiliki potensi manusia beradab)” (Q.S. At-Tiin, 95: 4). Sesuai dengan makna Ramadhan, yakni bulan panas dan membakar. Ramadhan kali ini mestinya dapat membakar nafsu-keserakahan, nafsu-kekuasaan, nafsu-monopoli perekonomian, dan nafsu-tak manusiawi lain. Dengan pembakaran tersebut, insyaallah, kita akan menjadi manusia yang berproses secara sempurna ke arah ketakwaan dan kebaikan laku.

Kita sempat dibuat resah ketika mendekati Ramadhan kebutuhan pokok mendadak hilang di pasaran. Kita juga sempat gelisah karena agama Islam disudutkan sebagai “biang kerok” tumbuhnya terorisme sehingga berdampak buruk pada sektor perekonomian bangsa. Generasi muda kita cemas karena sampai hari ini tak kunjung pula mendapatkan pekerjaan. Bahkan, pengusaha marah karena khawatir Ramadhan tiba, penghasilannya bakal melorot. Tak heran jika menimbun adalah cara tepat untuk mendulang keuntungan segede gunung Uhud.

Itulah api emosi yang menyala-nyala hingga mengaktifkan energi keserakahan dalam dirinya, sebesar kemarahan warga miskin yang sulit mendapatkan bahan pokok. Bulan ramadhan, seringkali kita sebut sebagai madrasah ruhaniah atau sekolah bagi jiwa. Dan, kalau betul bulan Ramdhan dijadikan sekolah bagi sisi ruhani atau jiwa, menahan diri dari perilaku tak jujur tersebut harus tetap dipegang teguh seorang muslim. Sehingga mampu menghasilkan manusia-manusia beradab. Bukan manusia biadab!

Hidup bermanfaat

Namun, dari segi materi pelajaran, tentunya tantangan yang hadir di madrasah ruhaniyah, kian sulit dan sukar. Godaan yang dapat membuat kita tidak lulus ujian terlihat tajam dan mencekam bagai pedang yang siap mengempaskan kepala. Begitu pun hidup. Nafsu-keserakahan semakin ditiup akan semakin membesar dan membuat kita dilumuri dosa. Ini sangat berbahaya. Apalagi kalau dengan sengaja memasukkan kepala ke nyala api keserakahan.

Jiwa dan akal kita akan terbakar. Akal kita akan tumpul hingga tidak mampu memilah mana yang hak dan mana yang bathil. Jiwa kita pun sama, tidak mampu merasakan mana si hak dan mana si bathil. Akibatnya, korupsi, aksi teror, nepotisme, dan kolusi menjadi lumrah dilakukan. Materi ujian seperti itulah yang harus kita redam sehingga, dalam pemahaman Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani, sejatinya puasa dilakukan selamanya. Selama badan mengandung hayat.

Di dalam buku terbarunya, The Road To Muhammad (2009:100) kang Jalal berujar, hidup yang penuh berkah tidak dihitung berdasarkan panjangnya usia, namun, dari banyaknya manfaat di kehidupan ini. Lebih bagus lagi, tulisnya, hidup yang panjang usianya dan baik juga amalnya. Ya, menjadi manusia bermanfaat adalah doktrin Islam yang hampir memenuhi lembaran kitab suci, hadits, dan Sunnah Rasulullah. Semangat puasa adalah merasakan penderitaan lapar, sehingga lahir kesadaran sosial (social counsiousness) berupa empati ketika di sekitar terdapat orang-orang yang lapar, menganggur, dan miskin.

Hidup harus sedemikian bermanfaat bukan hanya di saat Ramadhan saja. Di bulan yang akan datang pun mestinya dapat membakar dosa kita. Itulah yang dinamakan dengan tobat sesungguhnya. Disamping tobat personal, kita pun mesti bertobat secara sosial, bahkan tobat nasional. Pun begitu juga ketika berpuasa di bulan Ramadan. Puasanya kedah manfaat dengan menunaikan zakat dan menggelorakan sedekah. Karena, seperti dibilang Ibnu Qutaibah dalam kitab Fathul Baari, zakat fitrah adalah zakat jiwa karena istilah itu di ambil dari kata fitrah yang merupakan asal dari kejadian.

Dengan puasa sebulan penuh, kita dapat memperoleh derajat manusia beradab yang sesuai dengan fitrah diciptakan manusia untuk menjadi khalifah fi al-ardh. Dan, prasyarat menjadi khalifah adalah mampu menempa diri selamanya dengan menahan (imsyak nafs) untuk tidak berbuat biadab dan tak manusiawi. Itulah yang disebut oleh syekh Qadir al-Jaelani dengan manusia yang mampu menangkap pesan yang terkandung dalam “rahasia di balik rahasia”. Wallahua’lam

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: