9 September 2009

Syair Antiteror buat Ibn Ghifarie

BAGIKAN
Teruntuk saudaraku, Ibn Ghifarie, yang dikasihi Tuhan seluruh agama. Ayat-ayat Antiteror kamu sudah saya baca. Muaranya bermula dari kegelisahan saya menyikapi aksi terror di Indonesia yang sudah merambah ke berbagai sektor.

Di tubuh birokrasi, teror dilakukan dengan cara yang terlihat beradab. Motong proposal pembangunan, menyatut data kemiskinan untuk ambisi pribadi, dan segala hal yang berbau KKN dan itu membuat rakyat hidup dalam kegelisahan.

Itulah yang mungkin membuat gatal tangan saudara Badru. Ia menumplekkan ide seputar Ayat-ayat Antiteror hingga menelorkan tulisan saya, “Berjamaah secara Bijak”. Saya masih terpaku pada ranah agama saya, Islam, dalam meredam aksi teror. Sebab, agama saya sekarang sedang berada diambang batas kecurigaan Negara asing karena “biang kerok” Nurdin M (nge)Top.

Di harian Kompas, Kamis 20 Agustus 2009, alias kemarin, saya membaca berita. Isinya adalah soal diskriminasi artis Bollywood, Shah Rukh Khan. Dia diinterogasi pihak berwajib AS selama 90 menit karena ketiban nama Khan di belakangnya. Sejak 11 September kelabu itu, umat Islam yang punya nama “islami” harus bersedia menjalani tes antiteror.

Saya yakin, saudara Ibn Ghifarie juga akan mengalami hal yang sama. Kalau nanti masih terjadi gerakan teror yang mengatasnamakan umat Islam, dan kebetulan Ibn Ghifarie sekolah ke luar negeri. Hehe bersiap-siaplah diinterogasi pihak berwajib. Itu juga kalau mereka tidak membaca tulisan-tulisanmu yang kerap menyoal kebebasan beragama. Kalau mereka melek media, tinggal berikan alamat blog dan mereka sudah mengangguk-angguk, betul juga pasport kamu berlaku selama kamu suka.

Apalagi kalau membaca kutipan kiab suci di tulisan Ayat-ayat Antiteror. Sebagai muslim, saya memiliki kesamaan pemahaman dengan kamu dan penganut agama lain. Setiap agama di dunia, pasti mempunyai orang seperti kamu. Keberagamaan kamu sedemikian terbuka, sehingga dengan senang hati menghargai agama yang kerap ditempatkan sebagai “the other”.

Maka dengan senang hati juga saya tuliskan bukan syair di bawah ini. Jujur saja, syair ini adalah upaya koeksistensi kitab suci agama. Judulnya, Ayat-ayat Antiteror.

Bom di sini, bom di sana

Teroris atas nama agama harus diberantas tuntas

Pak korup, memang berdasi

Tapi bukan berarti tak boleh diberantas tuntas

Teror tidak berdasar pikiran luhur

Semangat persatuan adalah tanda pikiran mulia

Kebencian bukan berbalas kebencian

Kebencian mesti dibalas cinta kasih karena kekal abadi

Teror bukan sikap yang mulia, ia adalah tanda keasusilaan

Mati dan hidup adalah firman Tuhan

Urusan Tuhan hingga membunuh adalah dosa besar

Teror bukan laku kekudusan

sebab manusia adalah muara ajaran hidup damai

Ramahlah pada setiap orang

Berkasih sayanglah pada si congkak

Karena Tuhan Maha Pengampun

Muhammad berkhutbah

Berlaku adillah

Berbuat bajiklah

Jangan berbuat keji, mungkar dan saling memusuhi

Mereka itu dibenci Allah Rabbulalamin

Mari renungkan ayat-ayat anti-teror

Agar tidak menjadi pelaku teror

Sekian surat saya berisi Ayat-ayat Antiteror. Mari kita bangun Indonesia bebas dari segala bentuk gejala keberagamaan sangar. Keberagamaan yang tidak bisa dan tidak mau walaupun hanya menyigkirkan duri dari jalanan. Karena dia merasa dirinya yang kadung menjadi kekasih-Nya. Padahal, siapa tahu jihad bukan seperti yang mereka pahami. Kita bukan berada di fase Mekkah. Tapi fase Indonesia, yang menuntut keberagamaan damai nan sentosa.

Wassalam

Sukron Abdilah
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: