20 October 2009

Ampunku

BAGIKAN
Hamparan rumput ilalang satu meter lebih hijabi seluruh mata memandang. Kutambatkan hati buat sang kekasih yang tak pernah mau mengerti. Bahkan, tak mau memahami jika aku adalah orang tak berarti dan hampa masa depan. Rona wajahmu bayangi terus kemana arah imajiku menghampar di ketinggian bebukitan dekat gubuk rumah tua. Goresan luka hatiku pun mulai membesar, menganga dan sakitnya tak tertahankan menusuk-nusuk.

Ah, kau ini! Kenapa hidupmu mesti sisakan aneka kepedihan yang tak kunjung mereda, meredup, dan mengecil. Walau secuil!


Pun hingga ketakutan banjiri sebongkah rasa tatkala hadapkan diri pada hari esok yang katanya secerah dan seindah bintang-bintang di langit. Ya, aku kira kau seorang manusia yang tak pernah berharap keelokan hari esok tiba, Sony? Bisik hatiku lirih.
Keputusasaan, ketidakbergairahan, kebencian dan keanekamacaman diksi yang lukiskan ketidaktentraman luluhlantakkan rasa yang berjejalan hendak keluar dobraki kebersemangatan dan kecintaan yang teramat sangat pada hidup.

Lamunan dan amalan imajiku pun buyar seketika manakala dari arah belakang terdengar suara menggelegar dahsyat.

“Duaaar! Ayo melamun saja kamu ini Son!”

Kutolehkan wajah kusut layu tak bersari ini. Terus kudapati wajah cengengesan yang tak lekang sedikit pun darinya meski sesaat.

“O.., kamu Har! Aku kira gemuruh suara bom?”

“Ah, kamu ini ada-ada saja. Suara bagus begini kok dibilang seperti gemuruh bom!” Jawabnya kegatelan.

Hari.., nama yang begitu asing di telinga namun begitu melekat dikedalaman hati sanubari. Maklum, dia satu-satunya teman yang terus-menerus bertamu ke rumah meskipun pemuda di kampung mengisolirku karena aku disangka gila. Huh, kesal dan bosan aku dibikinnya.

Sejak saat itulah, hari – sekumpulan detik, menit dan jam – dalam desah nafas hidupku adalah diksi tak bermakna, tiada ingin didengar dan tak diharap pula kedatangannya.
Namun, Hari.., temanku itu. Longokan wajahnya saja telah menepis segala kerisauan jiwa. Bahkan mempreteli segala aneka keputusasaan dan kesakitan rasa yang selama ini aku tanggung. Ya, semenjak dua tahun lalu, ketika Siti mengatakan bahwa hubungan aku dan dia tak usah diteruskan. Putus!

Sejak tahun itulah, aku seakan terus mengasyiki hidup dalam kesendirian dan kekosongan hati. Akibatnya, aku tak sudi jika harus berbagi rasa dengan orang lain selain dirinya. Untung saja si Hari terus mengajakku berbincang-bincang, hingga beban berat itu terasa ringan. Seringan kapas putih yang terbang terbawa hemilir angin dari Timur.

Tapi hanya sebentar. Setelah si Hari meninggalkan aku sendiri, beban itu menghantam kembali. Membuatku serasa seperti tertimpa batu besar. Sesak, pengap, dan letih. Nama dan wajah Siti terus menggentayangi pikiranku. Kendati diriku adalah laki-laki yang tabu untuk meneteskan air mata. Dua tahun ini aku terus mengotori dua kelopak mata dengan air tangis. Ah, kamu memang wanita satu-satunya yang paling ku cinta.

***

Tak terasa aku pun mencoba mengingat kesakitan rasa yang dua tahun lamanya direpresi hingga laku lampah jadi obsesif dan dijibuni sindrom kesakitjiwaan. Ya, dua tahun yang lalu, pagi itu cuacanya tak seindah yang dibayangkan. Kelam pekat warna lembayung tak tertahankan hijabi setiap sudut mata memandang yang berkunang-kunang akibat tak makan semalaman.

O, malam tadi kucoba menunggu kedatanganmu yang sejak pagi kupunggungi dan kutambatkan hati. Ah, kau pun tak kunjung datang hingga tubuh ini kedinginan, gemetaran dan perut berkeroncongan gaduh tak karuan.

Kesal betul walau hanya untuk menunggu kebebasan diri dan kemerdekaan jiwa yang sedang tertunduk lesu akibat serangan virus yang memekakkan hati, telinga, jiwa dan raga yang kuperoleh dari sang Maha Suci yang tak pernah sucikan diriku dari dosa. Virus itu adalah penantian yang membosankan.

Kukotori hati sanubari yang telah lama dijubeli ragam sampah kemunafikan, ketidakjujuran, dan ketidakcintaan yang dibungkus kata sayang. Sayang! Kata itu tak pernah kupercayai lagi walau hanya untuk sesaat, hanya untuk selima windu berlalu, dan mungkin untuk sepanjang tahun hidupku yang tak pernah bertemu.

Kenapa kau tak mendatangiku malam tadi, sayang? Ada apa denganmu, ibu dan ayahmu? Bertengkarkah kau dengan kedua orang tuamu, yang tak sudi punya mantu dari keluarga yatim-piatu? Ah, tak berarti rasanya hidup ini tatkala kau ambil keputusan yang memekakkan telinga. Keputusan yang aku dengar dari aliran udara (sinyal) handphone pada pagi hari, ketika aku masih asyik terlelap tidur.

Telah satu tahun lamanya hidupku bergantungan pada gajimu. Tiga tahun lamanya kita mengikat keterceceran rasa dalam ujud cinta yang membutakan. Logis sekali bila kau menetaskan cinta pada yang lain, sayang!

Bosan, ya? Pusing, ya? Kesal, ya? Karena aku lemah tak berkutik hanya untuk sekedar melawan derasnya gelombang pasang hidup.

“Ya, aku bosan, pusing dan kesal Son! Kau tak pernah mau berubah jadi dewasa sedikit saja. Kenapa kau ini, Son? Kayak anak kecil saja, tak bisa memandirikan kedirianmu, aku muak. Kita putus saja, Son!” Teriakan itu memekakkan telinga kiri. Dan, memutus kerongkongan hingga tak dapat dialiri gelombang suaraku.

Itulah kalimat terakhir kalinya kudengar dari bibir manis Siti. Seorang perempuan gila kerja dan berdarah biru; tapi baik hati, namun tak mau menghargai jalan hidupku. Bahkan saking darahnya membiru, nasib Siti bagaikan perempuan rigid yang mesti dipersunting hanya oleh orang-orang yang sederajat dengannya.

Maka aku tarik kembali tali tamali hati yang tersangkut di ketinggian ketakberartian hidup yang mengerangkeng jiwa. Tak kuat rasanya jiwa ini meskipun hanya sekadar berlari menemukan ketidakjelasan akan datangnya hari esok.

Aku sakit!

Teramat sakit kasih!

Aku ragu!

Teramat ragu menjalari seluruh tubuh yang kaku serasa seribu tahun tak pernah kunjung berlalu. Naïf betul kau kasih!

Ternyata masih ada pola pikir feodal gerayangi rasa, karsa dan karya-cipta masyarakat modern seperti orang tua si Siti itu. Kasihan kau ini Sitiku terkasih. Coba saja bila aku lahir dari kalangan ningrat. Bisa-bisa orang tuamu beringas mempersilahkan aku ongkang-ongkangan di atas kursi empuk ruang tamu rumahmu. Tapi, kini khayalan itu terkubur bersama kenangan dan terpahat sudah di pusara hati. Karena kita telah memudarkan ikatan cinta. Putus!

***

“Son aku pulang dulu ya!” Setengah berteriak Hari menepuk punggungku yang sedang asyik merangkai dan melukis hati dengan sejuta warna masa lalu yang kelabu. Aku hanya anggukkan kepala, karena malas betul buncahkan kata-kata.

Oh, bayanganmu kembali hadir Siti. Menggendong anak, tertawa riang, dan mencla-mencle menghardik wajahku yang sedang melongo kosong tatap begundal rasa yang mendeterminasi laku lampah. Begundal rasa yang menjajah jiwa selama dua tahun lebih ini. Aku bosan! Aku ingin bebas, tapi susah betul!

Ah, bunuh diri saja. Bisik hati kecilku. Biar jiwaku terbebas dari segala macam rasa yang pahit bagai daun batrawali di belakang rumahku yang menjorok ke arah Barat daya.
Lantas, lirikan mataku hampiri seutas tambang yang menggelantung di atap kamar. Berjinjit aku berusaha menggapai lingkaran tambang yang menganga hendak mengajakku berlari tinggalkan pahit-getirnya kehidupan. Ragu! Aku agak sedikit ragu. Namun, tekadku sedemikian bulat hingga tak ada lagi penjara tata norma dari super ego yang berani menghalangi keinginan-keinginan.

Dan, melayang penuh kebebasan aku tinggalkan hidup ini. Ah, kulihat si Hari termenung di depan pintu kamar melihat tubuh yang terbujur kaku kusut mirip dengan wajahku. Ibu dan ayah juga berteriak sambil memegangi dan menggoyang-goyang tubuh pemuda yang tiada lain adalah aku sendiri. Muncul rasa ibaku pada kedua orang tua, ingin kumasuki kembali tubuh pemuda itu. Namun, tak kuasa kutahan gemuruh angin yang membawaku terbang ke angkasa raya. Meninggalkan dunia yang semestinya kuhadapi. Bukan kuingkari seperti ini.

Ah, andai aku diijinkan oleh-Nya untuk rasuki kembali jasad pemuda itu. Akan terus kuraih dan kugunakan kesempatan ini agar dapat mengabdi pada-Nya. Bukan mengabdi pada kekecewaan-kekecewaan yang kerap kali didramatisir.

O, aku rindu…Tuhan, pada kehidupan yang telah kutinggalkan. Akankah kuhirup kembali segarnya udara kehidupan di dunia?

Andai kau tak bunuh diri, gemerlap sinar mentari dan leganya udara dunia pasti akan kau dapatkan, Sony!

Tapi, semuanya telah terlambat. Dan tak akan berputar seperti lari-lari kecilnya jarum jam pada angka satu dan kembali lagi ke angka satu. Satu detik berlalu pun tak pernah kembali, bahkan hari kemarin tak mungkin terulang dikehidupanmu.
Celaka! Aku berteriak meratapi nasib dan laku lampah yang telah sedemikian kukhianati. Aku hanya bisa menahan rasa sakit yang tak terperikan. Hantaman cemeti mematikan rasaku sebentar saja. Kemudian, aku merasakan kembali sakitnya diinjak dan dibakar.

Awww…ampun?! Teriakan itu tidak menolongku sama sekali.
01: 00 pagi hari kelabu


BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: