6 October 2009

Gerakan Praksis Antikekerasan

BAGIKAN
Judul Asli : Non-Violence in The World Religions
Judul Terjemah : Agama yang Bertindak; Kesaksian Hidup dari Berbagai Tradisi
Penulis : Hagen Berndt
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta
Cetakan : I, 2006
Tebal : 191 hlm

Kekerasan adalah sebentuk pelanggaran terhadap kebutuhan-kebutuhan dasar (basic needs) yang mengakibatkan bertebarannya konflik hingga pada ambang batas yang mengkhawatirkan. Kekerasan juga dapat berproduksi jadi dua stigma yang bertentangan yakni kekerasan “dapat diwujudkan” dan “dapat dielakkan”.

Kekerasan muncul acapkali dibumbui doktrinasi Agama, politik kekuasaan, dan perbedaan etnis. Perdamaian dalam arti keadilan sosial dan implementasi hak-hak manusia jauh melebihi soal tidak adanya perang. Berarti, perdamaian dalam konteks ini adalah tidak adanya kekerasan fisik yang bersifat langsung dan struktural (hlm 7).

Proyek antikekerasan

Proyek antikekerasan tidak semata-mata menjauhkan diri dari kekerasan, tidak juga berarti diam atau non-aktif, bahkan tidak sama sekali mesti pasif. Namun, berupaya aktif menebarkan perdamaian demi tegaknya hak asasi manusia untuk menghirup udara damai. Karena itu, memulihkan relasi sosial tanpa dikungkung aneka macam tindak kekerasan adalah salah satu usaha pengembalian misi profetik yang secara substantif diusung sistem sosial keberagamaan manapun.

Membicarakan sumber antikekerasan dalam seluruh tradisi agama di dunia seperti Yahudi, Kristen, Islam, Hindu dan Budha; barangkali menjadi kewajiban bagi setiap pemeluknya untuk menghindari penyalahgunaan doktrin Agama sebagai sumber legitimasi kekerasan. Sebab, pemahaman agama berulangkali – meski tidak seluruhnya – menjadi mediator kekerasan dan mendorong orang formalistis untuk memercikkan “api” konflik.

Oleh sebab itu, gagasan pemulihan pemahaman berbasis substansialisasi etika religius terhadap tantangan konfliktual di konteks dan ruang-waktu tertentu adalah tema sentral dari gerakan antikekerasan, sebagai hasil dari usaha kritis atas gejala kehidupan yang sedemikian karut marut dengan ragam pertentangan yang dapat memuaikan ikatan persaudaraan antar sesama manusia. Maka, rekonstruksi masyarakat ke arah pemahaman inklusif dan toleran adalah gagasan genius, ketika banyak terjadi peristiwa yang mengindikasikan mencuatnya gejala kekerasan di tubuh bangsa.

Sebab, hembusan konflik yang menyebar ditubuh bangsa banyak bermula dari ketidaksadaran kita akan pluralitas pemahaman, keyakinan dan pandangan hidup. Kendati berbeda pemahaman, namun dalam setiap tradisi agama terkandung nilai-nilai kemanusiaan yang sama, yakni mengharapkan terciptanya realitas kedamaian dan ketentraman. Bukan ide-ide kosong nihil praksis.
Ajaran antikekerasan

Dalam perspektif White Head, sebuah keyakinan doktrinal yang berasal dari Agama ternyata mampu memotivasi perilaku para penganutnya. Maka, ketika Agama dipahami oleh kita sebagai ideologi yang maha benar, akan terjadi “The Clash of Civilization” (meminjam istilah Samuel P Huntington). Tidak salah jika kemudian muncul kekerasan yang mengakibatkan berjatuhannya korban jiwa, imbas dari gerakan radikalisme Agama tertentu.

Hal demikian sangat bertentangan dengan cita-cita praksis para tokoh gerakan agama antikekerasan yang lebih tertarik mengejawantahkan nilai-nilai keyakinannya dengan berpedoman pada stigma bahwa kekerasan “dapat dielakkan”. Oleh sebab itu, merefleksikan dan menjabarkan ajaran antikekerasan adalah jalan pertama menuju terwujudnya wawasan baru yang manusiawi dan terlihat jelas dalam relasi sosial yang dihiasi kedamaian sikap dan tindakan. Itulah sebenarnya wujud dari ajaran kearifan tradisi gerakan antikekerasan. Bersikap toleran tatkala disekelilingnya menggejala perbedaan.

Beberapa tokoh

Tokoh dari tradisi gerakan antikekerasan Islam adalah: Farid Essack, sang pejuang toleransi dan penggagas dialog agama-agama di dunia. Abdul Ghaffar Khan, penganut ajaran sufistik “kiri” yang menghamba pada-Nya dengan cara melakukan perubahan-perubahan kondisi sosial-politik negerinya dengan kebeningan hati.

Sementara itu, tokoh dari kalangan tradisi Agama Kristen adalah: Martin Luther King, bapak reformasi rigiditas ajaran-ajaran Kristen sehingga mengalami ketercerahan peradaban. Dorothy Day, Carlos Filipe Ximenes, Belo, Adolfo Perez Esquivel, Hildegard, merupakan tokoh yang mengkaji dan mengamalkan wacana antikekerasan dan antikemapanan dalam tataran praksis.

Tokoh-tokoh dari tradisi Agama Yahudi seperti Joseph Abileah, Halina Birenbaum, Martin Buber, Natan Hofshi, lalu Jeremy Milgron merupakan tokoh Agama Yahudi yang bervisi dan bermisi memerjuangkan kebebasan dengan jalan damai tanpa menggunakan kekerasan yang dapat memecah belah persatuan antar manusia di seluruh dunia.

Dari tradisi Agama Hindu kita bisa menyebut beberapa nama yang dengan ajaran damainya mampu mengusir kolonialis “asing” tanpa pertumpahan darah yang terus-menerus hingga India sebagai sebuah Negara terjajah dapat melepaskan diri dari kungkungan bangsa “luar”. Diantaranya: Mahatma Gandhi yang berkonsentrasi penuh memerangi kekerasan dengan jalan damai atau lebih terkenal dalam penjabaran gagasan praksis sosial “Swadesi”.

Demikian juga dalam tradisi agama Budha, kita akan menemukan ajaran Budhisme yang menebarkan cahaya damai dalam bentuk sikap dan tindakan sehingga kehidupan tanpa kekerasan nyata terjadi. Misalnya, peran dari seorang Dalai Lama XIV yang mampu memancarkan cahaya keluhungan pribadi dan tentunya menyejukkan jiwa. Wallahua’lam


BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: