6 October 2009

Hentikan Penderitaan Warga Padang

BAGIKAN
Belum reda dengan efek dahsyat gempa bumi, warga Padang mesti menghadapi kesulitan memeroleh kebutuhan pokok. Pada berita harian Tempo (Senin, 5/10/09), penderitaan warga di ranah Minang semakin menebal bagai kabut di pegunungan. Ratusan korban jiwa melayang. Belum lagi gedung dan toko yang luluhlantak dalam hitungan detik. Di tengah derita akibat bencana gempa, ada yang membuat saya bersedih. Harga kebutuhan pokok di sana melambung tinggi dari harga semula.

Bahkan, air minum saja harganya menanjak naik sampai tiga kali lipat. Mie instan dua kali lipat dari harga biasa. Belum lagi minyak goreng, cabai merah, dan sayur mayur. Semua kebutuhan pokok itu kini tak mengakrabi kehidupan warga Padang. Pemerintah, ketika terjadi kenaikan seperti ini, seharusnya bisa menanggulanginya secara elegan. Seperti halnya ketika ada rumor tiket penerbangan yang naik menjadi 3 juta per penerbangan ke Padang. Pemerintah dapat menghentikan para pebisnis untuk mengambil keuntungan dari sebuah bencana alam.

Sejatinya, persoalan kenaikan harga bahan pokok ini diselesaikan pula. Jangan sampai larut karena akan menambah penderitaan warga hingga berlipat-lipat. Pasokan dari daerah Jawa, yang sehari bisa tiga mobil dan sejak bencana terjadi hanya berjumlah dua mobil, sebetulnya dapat ditanggulangi secara baik oleh pemerintahan. Ketika terjadi kendala dalam hal transfortasi darat, saya pikir masih ada moda angkutan udara. Perizinan di tengah kondisi darurat harus dipermudah. Jangan dipersulit sehingga lahir kelancaran distribusi kebutuhan pokok.

Dengan demikian, persoalan membengkaknya harga kebutuhan pokok dapat ditekan ketika terjadi bencana alam. Bergerak cepat adalah rumus pertama ketika sebuah negara tertimpa bencana alam. Perizinan yang berbelit hanya akan melahirkan penderitaan terus-terusan korban bencana. Kita, tidak ingin, kan, kalau dicap sebagai negeri atau bangsa yang lalai? Makanya, bagi pemerintahan bergerak cepat ketika musibah menerjang sebuah wilayah adalah ciri dari tanggung jawab sebagai instansi kerakyatan yang “ngemongi” rakyat. Bukan menjadi lembaga yang “ngedalangi” rakyat agar sedih dalam penderitaan yang semakin besar ketika musibah datang.

Bukankah persoalan klasik, dari dulu sampai sekarang, ketika terjadi musibah kita terkendala oleh putusnya jalur transfortasi darat? Nah, untuk itulah negara ini memiliki jalur transfortasi udara. Tujuannya untuk dijadikan jalur alternatif ketika jalur darat dan laut tidak berjalan baik akibat rusak. Sehingga warga korban bencana dapat menikmati harga normal kebutuhan pokok. Bantuan makanan juga kalau dapat didistribusikan secara lancar, warga tidak akan bersusah payah mendapatkan kebutuhan pokok. Sumbangan dari pihak asing juga, jangan lantas “disunat” sehingga sampai di daerah bencana. Kebiasaan negeri korup adalah menelikung setiap dana yang mengalir ke departemennya. Bencana alam di Indonesia jangan dijadikan komoditas bisnis oleh bangsa ini, khususnya oleh pemerintah dan pengusaha.

Cobalah ketuk hati kita masing-masing. Sudikah diri ini ketika keluarga atau sanak saudara berada pada posisi korban bencana? Ataukah anda sendiri yang merasakan seperti yang saudara kita rasakan hari ini. Bencana seharusnya melahirkan rasa simpati dan empati sehingga membentuk rasa kemanusiaan dalam diri. Harapan warga di Padang kini, jangan lantas dikhianati dengan laku korup. Ketika hal itu dilakukan, tidak ada bedanya kita dengan serigala berbulu domba. Bahkan, lebih buas daripada hewan yang seringkali dijadikan prototype ketakmanusiwian diri. Terima kasih!!!!

Sukron Abdilah
E-mail sukron.abdilah@gmail.com
Blogger pengelola http://sakola-sukron.blogspot.com
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: