24 October 2009

IMM Berkabungkah?

BAGIKAN

Bagi saya idealisme mahasiswa itu penting. Bangunannya mesti sekokoh tembok pertahanan. Sayang, kekokohannya kerap lapuk seiring guliran waktu. Tak heran jika mantan aktivis mahasiswa ketika kecipratan projek politik praktis berani menggadaikan idealismenya. Tak hanya kader HMI, PMII, KAMMI, dan organisasi mahasiswa Islam lainnya; IMM pun tak bisa lepas dari tarik-ulur kepentingan politikus. Demi mencapai “keberkahan” material dan karir, pada pemilu bulan lalu ada banyak mantan aktivis mahasiswa yang menjual kantong suara demi kepentingan pribadi. Saya tidak akan membuka kartu. Biarkan saja saya, dia dan Tuhan yang mengetahuinya.

Irikah saya? Ooo..saya tidak iri. Melainkan ada setitik kekhawatiran yang menggunung tentang arah gerak bangsa ini ke depan. Pendewaan segala yang berbau kepuasan material dapat menggusur seseorang untuk tidak dapat berpikir jernih. Akibatnya, ada jutaan rakyat yang telah dirugikan. Boleh Anda bayangkan seandainya kelak mereka memimpin negeri ini. Boleh jadi, sistem kenegaraan kita dapat sekejap diubah karena anggota dewannya silau dengan harta. Berapa banyak mantan aktivis mahasiswa yang berkarir di dunia politik praktis?

Alhamdulillah, saya mengucap syukur menteri pendidikan bukan berasal dari Muhammadiyah. Meskipun keputusan SBY-Boediono terlihat “agak politis” karena Muhammadiyah pada pemilihan presiden 2009 mendukung JK-Win - ini hanya kira-kira. Mudah2an salah - sebagai kader Muhammadiyah saya bersyukur banget. Idealisme gerakan Muhammadiyah tidak akan direceti kepentingan politik. Independensi gerakan pun akan lebih terjaga. Muhammadiyah itu organisasi besar, tidak akan mati ketika tidak mendapatkan jatah menteri pendidikan.

Dua tahun saya telah menyelesaikan kuliah (2007). Sejak menjadi mahasiswa, saya membiayai sendiri, beli buku sendiri, makan sendiri, hehe, pake kamar mandi juga dapet nyewa sendiri. Semuanya dari kantong sendiri. Meskipun menteri pendidikannya berasal dari Muhammadiyah (Pak Bambang Sudibyo). Saya teringat ungkapan seorang teman, bahwa Muhammadiyah lebih tua daripada Indonesia. Peletak dasar pendidikan modern juga digawangi Muhammadiyah. Siapa yang tidak mengakui ribuan lembaga pendidikan Muhammadiyah menjadi produsen manusia terdidik di Indonesia. Universitas, sekolah tinggi, lembaga kursus, SD, SMP, SMA, sampai pendidikan tingkat kanak-kanak, Muhammadiyah berperan serta dalam pendidikan bangsa ini.

Kabarnya, mendiang presiden Soekarno juga mantan aktivis Muhammadiyah di bidang pendidikan (majelis dikdasmen). Jenderal Sudirman juga bersekolah di sekolah Muhammadiyah. Saya masih bangga menjadi bagian dari Muhammadiyah meskipun jatah menterinya direbut. Karena kita masih bisa beramal usaha di bidang non-pemerintahan. Ungkapan ini muncul ketika pada hari yang lalu chating dengan teman saya. Dia menilai bahwa menteng (sebutan bagi kantor PP Muhammadiyah) akan puasa selama lima tahun. Saya tidak berpikir maksud puasa-nya dia adalah tidak akan mendapatkan projek-projek “politis”.

Saya jawab saja dalam hati, “Alhamdulillah…”

Berkabungkah mahasiswa Muhammadiyah? Ya tidak lah…(khususnya mahasiswa Muhammadiyah di UIN Bandung). Siapa pun menterinya, mahasiswa Muhammadiyah di sini (UIN Bandung) masih tetap semangat memperkokoh idealisme gerakan Muhammadiyah. Kami, dari dulu sampai sekarang, masih kalah oleh organ ekstra HMI untuk mendapatkan beasiswa yang dikucurkan melalui departemen pendidikan nasional. Jadi, tak rugi kalau menteri sekarang berasal dari non-Muhammadiyah.

Meskipun secara pribadi ada rasa bangga kalau ada menteri dari Muhammadiyah. Tapi, takut juga. Hehe…takut menteri tersebut terantuk kasus korupsi. Ih amit-amit jabang bayi…ka sabrang ka palembang, balik-balik mawa kurupuk. Boleh jadi organisasi Muhammadiyah dibikin malu dong. Lantas bagaimana dengan Partai Amanat Nasional (PAN)? Ah.., mereka bukan orangnya Muhammadiyah (ini tesis sementara).

Bagi saya, perasaan berkabung tidak akan pernah terlintas di hati. Karena aktivis mahasiswa Muhammadiyah yang berada di tingkat komisariat (bawah) tidak akan merasakan projek menteri pendidikan nasional. Ya, meskipun dia berasal dari kalangan Muhammadiyah. Bravo Muhammadiyah….! Selamat berjuang dan terus bergerak demi menggapai cita-cita mulia kita. Mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial di negeri ini. Negeri, yang katanya, diwanti-wanti akan menanamkan kebijakan ekonomi neoliberal…???? Ah.., ini berkaitan dengan selera ekonomi. Think local act global ataukah think global act local? Ekonomi mikro ataukah makro????

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: