14 October 2009

Kemiskinan Kudus

BAGIKAN
Fajar menyingsingkan kegelapan dengan cahaya kemilau yang terpancar dari tubuhnya yang menyala-nyala. Merekahkan dedaunan layu yang kedinginan sedari malam karena diembusi angin semilir sepoi-sepoi. Dan, pagi buta ini. Di sebuah rentang ruang dan waktu, kekudusan-Mu mulai menggerayangi.

“Ashshalatu khairu minannaum”…

“Ashshalatu khairu minannaum”, suara muazin itu terdengar sayup-sayup dari bebukitan yang sepi tanpa penghuni.

Ki Jumantar, dua puluh tahun lalu adalah seorang pengusaha sukses. Rumah luas mentereng dengan halaman seluas lapangan sepakbola menambah kesan laiknya istana keraton di kerajaan Mataram. Istri cantik, dan anak sehat perawakannya adalah karunia Tuhan yang diberikan kepada Jumantar. Jumantar, selain pengusaha, juga seorang manusia yang haus ilmu agama. Setiap hari, aktivitas wirid-nya dihabiskan berjam-jam di depan mihrab masjid.

Ritual agama telah meresapi aliran darahnya hingga terobsesi menjadi setingkat wali yang suci. Sebagai manusia biasa, ia pernah gelisah. Gelisah dengan kondisi tetangganya yang miskin. Miskin akibat tak bisa mengolah potensi alam. Sumber daya manusia di kampungnya juga nol koma sekian.

“Bapak…Bapak…bapak”, suara Syahareza putra pertamanya terdengar memanggil dari luar bangunan masjid.

Kontan saja, wirid Ki Jumantar terhenti seketika. Ia kecewa. Meratap dalam batin. “Kenapa aku menghentikan ritual suci ini”, katanya setengah berbisik pada diri sendiri. Sambil menggeliatkan tubuhnya, yang ringkih dan tinggi. Dengan sorot matanya yang menyala keapi-apian, ia keluar dari ruang suci masjid.

“Ada apa Eza!”, teriaknya memecahkan suasana di tengah hiruk pikuk muslim yang sedang beribadah.

Syahreza ketakutan melihat sorot mata ayahnya yang tajam setajam silet pembedah hatinya. Ia mundur selangkah. Dan, menjawab pelan sekali:

“Itu..tu,” suaranya tersedak tak karuan, “ada mang Jumali datang bertamu ke rumah”, jawabnya sambil menundukkan pandangan ke arah tanah gembur berwarna merah di halaman masjid.

“Memangnya ada keperluan apa dia datang kesini. Mengganggu orang yang sedang beribadah saja”, gerutu Ki Jumantar terlihat kesal.

Syahreza, pemuda berumur 20 tahun hanya bisa tertunduk lesu. Ia merasa bersalah karena telah mengganggu ayahnya yang sedang menghadiri jamuan suci. Sekelebat bayangan putih dengan wajah bersih menakjubkan menengok ke arah Jumantar dan Syahreza. Setelah itu, hilang tak meninggalkan bekas bebauan yang janggal di hidung manusia.

“Ayo…Eza, kita pergi menemui pamanmu itu.”, kata Ki Jumantar melunak.

Kedua orang itu. Ayah dan anak berjalan menelusuri jalan sempit di kampungnya tanpa berbincang-bincang.

“Oh, kenapa engkau ini bapak. Rela berjalan 8 km hanya untuk shalat dan wirid di masjid ini.”, bisik Syahreza pelan-pelan.

Tanpa diduga, Ki Jumantar, pria berusia 43 tahun itu menjawab. Seolah tahu apa yang sedang dipikirkan anaknya.

“Eza.., aku rela berjalan ke masjid ini, karena disinilah ketenangan itu diperoleh.

Di Masjid kampung kita, hal itu tidak aku peroleh. Jamaah hanya sibuk dengan kemiskinan. Orang kaya seolah menyibukkan diri dengan kekayaannya. Alhasil, ritual agama kering dari ikatan primordial yang spiritualistis. Seharusnya, keduniawian tidak melenakan warga kita dari sisi lain Tuhan di muka bumi ini, Za.”

“Dunia ini, kalau kita memburunya, Za.”, ujar Jumantar sambil menengok Syahreza, “akan terus berlari. Dan, kita akan kelelahan mengejarnya, tahu ?”.

“Bapak kamu ini, Za. Tidak ingin menjadi bagian dari makhluk-Nya yang tak bersyukur. Kamu tahu tidak Za, bahwa kekayaan kita yang melimpah, di akhirat sana, tidak akan menolong hukuman yang diberikan-Nya”.

Syahreza saat itu hanya bisa mengangguk pelan, tentunya sambil berbisik kecil dalam hati.

“Kenapa Bapak tidak memanfaatkan harta kekayaan untuk menyelamatkannya di akhirat kelak. Bukankah, di sekitar rumahnya masih ada orang-orang miskin. Meskipun Bapak pergi ke Mekkah puluhan kali, kalau di sekitar masih ada warga yang kelaparan dan miskin, apakah status hajinya menjadi sah?, aku rasa tidak.”

Lagi-lagi Ki Jumantar seolah tahu apa yang dikatakan Syahreza.

“Bapak memang akhir-akhir ini sering merenung, Za. Kamu tahu, kan, kalau Bapak sudah pergi ke Mekkah puluhan kali. Tapi, merasakan ada yang tidak diperoleh dari ibadah haji itu. Setiap kali sedang berada dihadapan Kabah, Bapak melihat jerit tangis tetangga kita yang kelaparan. Setiap kali shalat di masjid al-haram, memang terasa nikmat dan khusuk. Pokoknya, ruh Bapak seakan bercengkrama mesra bersama Tuhan. Akhirnya, bayangan tetangga miskin itu lenyap kembali, Za.”

“Dan, ketika Bapakmu ini pulang ke tanah air, ibu kamu sibuk menggosipkan pengalamannya ketika di Mekkah, Za. Tanpa lirik samping kiri dan kanan. Tidak ada percik pertanyaan bahwa para pendengar setianya itu, dari pagi sudah mendapatkan makan.”

“Kenapa tidak engkau peringati Ibu, malah setiap kali Ibu bersikap seperti itu Bapak masuk ke dalam kamar. Dan, mulai tenggelam dengan kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali.”

“Ingat, Za !”, Ki Jumantar meneruskan perbicangan ruhaniyah dengan Syahreza, “selain kitab Ihya Ulumuddin, Bapakmu ini membaca kitab Risalah Tauhid-nya Ibn Taimiyah, belum lagi kemarin-kemarin sedang tenggelam dengan bulir pemikiran Muhammad Iqbal.
The Reconstruction of Religious Thought in Islam, memang membuka cakrawala pemikiran. Islam, katanya, Za. Bukan hanya gagasan, pengalaman dan pengamalan saja. Tapi, sebuah keseluruhan.”

“Sekumpulan karya, karsa, dan rasa.”, aku menjawab dalam represi batin yang terus bergolak kuat.

“Iya, betul sekali, anakku.”, jawab Ki Jumantar singkat sambil menengok ke belakang di mana aku berjalan setengah berlari terpincang-pincang.
***

Usiaku waktu itu delapan belas tahun. Terpaut dua tahun lebih muda dari Syahreza, kakakku. Aku adalah anak kedua dari lima bersaudara. Bapakku. Begitulah aku sering menyapanya. Sangat menyayangi sebesar gunung Krakatau yang meletus pada tahun 1800-an, yang kepulan asapnya sampai ke benua Eropa. Bahkan, aku kira tidak ada yang menandingi kasih-sayang Ki Jumantar padaku.

Ketika Bapakku sedang berkumpul di ruang tengah keluarga, biasanya aku menyelinap ke dalam kamarnya yang besar dan luas. Mata ini akan tertuju ke sebuah pintu yang tertutup rapat. Di mana didalamnya ada rak setinggi tiga meter, dengan tumpukan buku, kitab, dan catatan kecil Ki Jumantar yang terletak di meja. Biasanya catatan inilah yang akan aku baca sampai selesai.

Dan, waktu malam tadi. Aku menemukan buku terjemahan karya Muhammad Iqbal tergeletak di atas catatan harian Bapakku. Hebat, aku tertarik dengan konsep insan kamil-nya yang memadukan gagasan, pengalaman dan pengamalan dalam memahami Islam.

Belum juga selesai aku membaca pengantar penulisnya, tak terasa waktu seolah tak menghendaki aku berlama-lama di ruangan ini. Aku pun pergi menemui ayah, Ibu,
Syahreza, Maharani, dan dua adikku yang lain. Mereka asyik bercengkrama membincangkan segala soal yang tidak membuatku tertarik.

“Dari mana saja, Nak?”, tanya Bapakku malam itu.

Aku hanya terdiam. Dan, merebahkan tubuh ini di samping Ki Jumantar. Kakiku yang kepincangan dia elus-elusi selembut tangan menyentuh kapas yang ranum.

“Apa yang sudah kamu baca malam ini, anakku?”, tanya Ki Jumantar sambil terus kemudian berpindah membelai rambutku yang keriting keikal-ikalan.

“Pengantar Iqbal dan sepenggal syair puitisnya yang menggugah, Bapak.”

“Coba beritahu aku, anakku”, tanya Ki Jumantar.

“Wahai kawan yang mengembara di angkasa tinggi/Coba engkau sejenak yakin akan dirimu di muka bumi.”, aku membaca kalimat puitis Muhammad Iqbal dengan harapan Ki Jumantar tidak lagi berkeluh putus asa mencari kebenaran melangit.
Kepalanya mengangguk-angguk. Jenggotnya yang basah dengan air wudlu terus bersinar tak rasional dalam sudut pandanganku yang awam.

Dan, pagi buta kali ini. Ketika ia meracau menjawab pertanyaan batin Syahreza. Aku terhanyut dalam ketakmengertian. Baju putih bersih yang kukenakan menjadi basah diwarnai noda kecoklatan dari tanah merah yang berpuncratan dari jalanan becek yang kami lewati bersama. Hanya karamah ataukah mukjizat.

Atau, seperti yang dikatakan Sigmund Freud. Bahwa itu adalah akibat obsesi yang tertekan di kedalaman batin seorang manusia yang gelisah. Ia meracaukan sensasi kenikmatan ruhani yang melangit.

Memang betul bahwa ayahku terobsesi dengan kesatuan wujud dengan-Nya. Tapi di satu sisi ia tidak bisa meninggalkan realitas yang kongkrit. Akibatnya, ia seringkali merasa gelisah. Hingga suatu hari kegelisahannya itu meledak merembesi kebiasaan duniawi sehari-harinya. Ia menjadi duduk berlama-lama di depan mihrab masjid tempat mengasingkan diri dari hiruk-pikuk keduniawian.

Usaha menjual pupuk kepada petani juga, diurus oleh Mang Jumali, adiknya, sehingga hasil penjualannya jarang sampai kepada kami. Ia – Bapakku – menjadi hilang selera menumpuk-numpuk harta kekayaan.

Pernah suatu hari, aku berdiskusi dengannya soal konsep kefakiran dalam Islam. Ia mengartikan kefakiran sebagai jalan menuju penyucian diri. Aku mengartikannya sebagai jalan menuju pengingkaran kepada Tuhan (bahasa kasarnya kekufuran).

“Apa tadi kamu bilang anakku?”, dari arah depan wajah ayahku melebar laiknya duri-duri seekor Landak yang sedang terancam keselamatannya.

Sembari menghentikan langkah kakinya, ia terus memandangiku dari kepala sampai ke kaki.

“Memang benar pendapatmu itu. Tetapi, aku”, ujar Bapakku, “akan terus berada pada kemiskinan kudus ini. Inilah jalan terjal menuju kemuliaan yang tak pernah terkena kenisbian ruang dan waktu, anakku.”

Aku terpukul. Diam. Dan, terus mencari apakah benar apa yang dikatakan Ayahku itu.

“Ah, mana ada Tuhan yang memerintahkan manusia menjadi miskin. Yang ada kita harus berjuang seperti Bunda Teresa dan KH. Ahmad Dahlan, mengangkat manusia dari jurang kemiskinan yang menindas. Sebab, agama mengandung misi pembebasan”, batinku meratap dan merenungi kemiskinan kudus keluargaku ini.
18 Desember 2008

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: