24 October 2009

Kompasiana Makin Seksi

BAGIKAN

Dewi Persik ataukah Sharah Azhari wanita terseksi di jagad mayantara? Jawaban pribadi saya, ya, Dewi Persik dong. Tapi, jawaban Anda bisa beragam. Luna Maya kah, Cinta Laura kah, atau Zaskia Meeca. Itu terserah Anda. Yang jelas setiap orang memiliki ukuran masing-masing untuk menyebut wanita terseksi. Pun begitu dengan tren media baru (new media) di dunia cyber.

User terus disuguhi tarian seksi media baru. Media baru itu di antaranya Friendster, Facebook, Twitter, Plurk, dan masih banyak lagi. Masing-masing media menari di depan netter agar dapat menarik perhatian mereka. Tarian seksi media baru, tentu saja menyedot perhatian bangsa Indonesia. Pengguna facebook di Indonesia saja mencapai 9,6 juta. Dari 55 juta pengguna Twitter, bangsa kita menempati posisi kelima. Hebat bukan?

Namun, bagaimana dengan nasib media bikinan bangsa kita sendiri, misalnya, situs sosial www.koprol.com? Sepertinya bisa dianalogikan penyuka wanita luar negeri ketimbang asli pribumi. Tapi, soal selera tidak ada larangan. Semakin dilarang, selera itu akan semakin kuat keinginan untuk memenuhinya. Menarik tidaknya media baru dapat diukur dari interaktivitas dan kemudahan menggunakannya. Orang sekarang lebih menyukai kemudahan karena ingin segalanya serba instan.

Dengan kreativitas media baru yang kian melesat, tampilan baru kompasiana sekarang terlihat seksi. Praktisi media, seperti halnya kang Pepih, mampu menangkap itu semua. Sampai tulisan ini dibuat, www.kompasiana.com menghadirkan rasa baru sehingga merangsang blogger, penulis, akademisi, profesional, pejabat, dan kalangan lainnya untuk bertukar informasi. Di Kompasiana inilah kita menemukan usaha serius kang Pepih dkk untuk menciptakan media “super seksi”. Usahanya itu berhasil karena beberapa kontributor yang tadinya “berpaling” ke media lain, kembali melirik. Sesekali bersuit-suit ria (ngoment) dan bahkan mencolek-colek kompasiana (memposting).

Kompasiana menjadi semacam blog social network sebuah gabungan weblog dengan jejaring sosial di internet. Ketika saya mengklik profil, misalnya, wah photonya keren banget. Deskripsi profilnya juga menghadirkan semacam penjelasan untuk mengetahui siapa sih si pembikin artikel itu. Ada daftar teman segala, sehingga agak mirip Facebook dan Friendster. Tak hanya itu, tulisan saya sudah berjejer rapi secara hirarkis di laman http://kompasiana.com/sukron. Saya merasa dihormati, dihargai, dan diakui oleh kompasiana. Dengan inilah mungkin, interaktivitas kontributor dengan pembaca akan terjalin secara jujur, sopan, intelek, dan saling menghargai.

Mungkin, tidak akan ada kasus, si pemberi komentar bentak-bentak emosional sembari menyembunyikan identitas. Seperti halnya di multiply.com orang yang ingin memberi komentar mesti mendaftarkan diri menjadi pengguna kompasiana.com. Ah, tidak menutupkemungkinan hal itu akan tetap ada sebab netter kan bisa mengisi biodata palsu. Kalau itu, sih, kembali kepada hati nurani masing-masing. Dikembalikan pada etika sosial masing-masing. Masihkah perlu menyembunyikan identitas di dunia yang sekarang menuju kenyataan hiperrealitas? Walahua’lam saya kira!

Kenapa saya memberi judul “Kompasiana Makin Seksi”? itu ada sebabnya lah. Ini standar keseksian sebuah media baru menurut saya. Karena saya bukan ahli media, mohon dimaafkan kalau ada kesalahan dan kekurang-tepatan.

1. Aksesable…..mudah digunakan dan diakses oleh siapa pun.

2. Interaktif……dapat berfungsi secara interaktif.

3. Menguntungkan…..kalau tidak secara materi, ya saya sih, mengharapkan ada keuntungan secara eksistensial.

4. User Friendly…..bersahabat dalam hal konten ataupun bentuk perwajahan. Mudah dimanfaatkan oleh orang awam sekalipun.

5. Promotif….mampu menjadi media mempromosikan diri, pemikiran, dan gagasan. Meskipun terlihat seperti gejala orang yang narsis, di era Cyber narsis adalah bukti dari eksistensi.

6. Silakan tambah lagi oleh Anda. Saya tidak akan menuntut anda meskipun mencaci kriteria kenapa media bisa dibilang “super seksi”.

Benarkah Kompasiana makin seksi? Ya, dibandingkan tampilan yang dulu, sekarang terlihat lebih seksi…bahkan super..super seksi. Namun, ukuran keseksian sebuah media baru akan terus berkembang dan bertambah. Tidak hanya aksesable, interaktif, menguntungkan, user friendly, dan promotif. Ada standar-standar baru yang terus diminati para pengguna internet, khususnya blogger dan berbagai kalangan yang menggandrungi budaya tulis-menulis. Hari ini kompasiana terlihat seksi, entah beberapa tahun ke depan, mungkin kalau tidak melakukan inovasi dan kreativitas, akan terlihat menua. Dan, kang Pepih bersama kawan-kawan di kompas.com sudah membuktikan bahwa ide dan gagasan kreatif memegang peranan penting dalam melahirkan media baru.

Mari berkreasi, mengalirkan gagasan terus-menerus, karena seperti diungkapkan pemilik Kompas Group, Jacoeb Oetama, ide tidak akan pernah habis kecuali kematian hadir. Bahkan, meskipun sudah mati, ide dan gagasan kreatif akan terus dikonsumsi untuk melahirkan ide dan gagasan baru yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Bravo kompasiana…bravo kang pepih…bravo saya sendiri. Ooo…bravo untuk Anda sekalian.

Saya Mengelola http://sakola-sukron.blogspot.com

http://www.sunangunungdjati.com

http://kompasiana.com/sukron

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: