30 October 2009

Maaf-Memaafkan (IQRA’ 1)

BAGIKAN
Suatu hari aku pernah diejek dan difitnah seorang teman. Aku sakit hati banget. Setelah beberapa bulan, temanku itu meminta maaf. Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus memaafkannya? Salahkah kalau tidak memberinya maaf? Sebab, aku masih merasa sakit hati.

Selang beberapa hari, aku merasa gelisah. Hati merasa berat untuk memaafkannya.
Kemudian, aku teringat dengan kitab suci Al-Quran. Oh…di sana mungkin aku bisa mencari jawaban atas kebimbangan bersikap ini. Bisikku waktu itu. Ya…, mencari kata “maaf” yang sekarang masih memberatkan hatiku hingga tidak mau memaafkan temanku itu.

Mataku…akhirnya sampai pada ayat suci Al-Quran berikut, “Hendaklah mereka memberi maaf dan melapangkan dada, tidakkah kamu ingin diampuni oleh Allah?” (QS Al-Nûr [24]:22). Hmmm, rasanya Tuhan juga telah memberikan jawaban tentang pentingnya memaafkan ini.

***

Karena ingin lebih jelas tentang makna ayat tadi, aku pun berusaha mencari referensi tentang tafsir ayat itu. Dari beberapa bahan bacaan itu, aku mendengar suara sang guruku, Ilman Nursyifa, suaranya menggelegar mencoba menjelaskan makna ayat di atas.

Beliau dengan sorban putih membelit kepalanya. Bersila, memegang kitab suci Al-Quran dan mencoba mulai menafsirkan ayat tersebut. Wajahnya bercahaya, damai, dan tidak terlihat sangar. Seraya membetulkan sorbannya, dia memulai pembicaraan itu.

“Tahu tidak,” katanya.

“Tidak kyai.” Jawabku sambil menggelengkan kepala, karena jujur tidak tahu jawabannya.

Ilman Nursyifa menghela nafas. Kemudian bangkit dari tempat duduknya dan mulai berceramah sejuk, “Allah Swt. memerintahkanmu agar membina hubungan yang harmonis ketika mengarungi kehidupan ini. Kamu, harus saling membebaskan diri dari segala dosa dan kesalahpahaman. Juga, harus menyadari kesalahan sendiri, kemudian berusaha mendekati orang yang pernah kamu lukai hatinya. Maka, tak salah kalau agama Islam, mensyariatkan melakukan “shilaturrahim” dan saling memaafkan.”

“Bagaimana?” tanya beliau kepadaku.

“Masih tetap berat memaafkannya kyai”, ujarku sambil menundukkan kepala.

Saat itu aku lihat, Ilman Nursyifa, kyai muda berusia 35 tahun, mengerutkan dahi. Memegang dagunya dan sesekali menggaruk dadanya. Kemudian meneruskan lagi ceramah penafsiran ayat yang aku temukan tadi.

“Memberi maaf seharusnya bukan sesuatu yang sulit dilakukan. Apalagi kalau yang pernah menyakiti hatimu sudah meminta maaf. Bukankah memberi maaf kepada seseorang yang bersalah, ada di dalam Al-Quran. Seperti yang terkandung dalam makna “shilaturrahim”. Istilah ini bukan hanya sikap membalas kunjungan atau mempererat hubungan yang telah terjalin saja. Tapi bisa juga menyambung yang telah terputus.”

Dia berhenti sedikit. Mencoba mengingat ayat suci yang mengandung kata “shilaturahrahim”. Dengan wajah yang sedikit berseri sambil menuliskannya di papan tulis dia berujar.

“Di dalam Al-Quran Al-Karim diisyaratkan pentingnya memelihara “shilaturrahim”, seperti pada Surah Al-Nisâ’ [4], ayat 1, Bertakwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain (dan peliharalah hubungan) rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
Sebelum meneruskan…..ia menghela nafas..

“Selain ayat tadi, ada juga ayat yang mengecam orang yang suka memutuskan tali persaudaraan, seperti, Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa akan membuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dikutuk Allah; ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya pula mata mereka (QS Muhammad [47] : 22-23).”

Kemudian ia meminum air putih yang diletakkan di meja….dan melanjutkannya.

“Bahkan, Al-Quran mewajibkan hubungan yang serasi setelah terjadi keretakan. Cobalah kamu perhatikan ayat berikut, Allah mengetahui bahwa kamu tadinya mengkhianati dirimu sendiri (tidak dapat menahan nafsumu sehingga bersetubuh di malam hari bulan Ramadhan dengan dugaan bahwa hal itu diharamkan), maka Allah memaafkan (QS Al-Baqarah [2]: 187).”

Seraya membuka sebuah buku tebal Ilman Nursyifa kemudian melantunkan ayat yang lain, Balasan dari kejahatan adalah kejahatan setimpal, tetapi siapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka ganjarannya ditanggung oleh Allah (QS Al-Syûrâ [42]: 40).

“Nah, tidak ditemukan satu ayat pun yang menggunakan kata harus menunggu permintaan maaf sesama manusia. Yang ada hanya perintah memberi maaf, Hendaklah mereka memberi maaf dan melapangkan dada, tidakkah kamu ingin diampuni oleh Allah?” (QS An-Nuur [24]: 22). Dalam ayat ini, kamu dianjurkan untuk memberi maaf (al-afw) dan berlapang dada (al-shaft), yakni perintah memberi maaf sebelum berlapang dada menandakan pentingnya memberi pengampunan kepada seseorang.”

“Bagaimana sekarang? Apakah kamu masih tidak mau mmaafkan temanmu itu? Kalau kamu tidak mau memaafkannya, berarti kamu mengkhianati pesan suci Al-Quran, dong?”

Aku menghela nafas. Mencoba menekan perasaan agar bersikap bijak. Memaafkan adalah suatu keniscayaan. Tanpa keharmonisan maka dunia ini akan dipenuhi permusuhan.
Kemudian aku menyimpulkan penjelasan sang kyai muda bersahaja itu.

“Ya.., pesan yang dikandung ayat-ayat tersebut juga adalah tidak menanti permohonan maaf dari seseorang, tapi memberinya sebelum diminta.”

“Ya, betul sekali.” Ujar Ilman Nursyifa.

Ia melanjutkan, “Coba kamu amati juga Surah Âli ‘Imrân (3), ayat 134, yang mengemukakan sifat-sifat muttaqiin, antara lain: Yang mampu menahan amarah dan memaafkan manusia (yang bersalah). Allah menyenangi orang-orang muhsin (yang berbuat baik). Dalam ayat ini, kamu dapat melihat tiga bentuk sikap positif terhadap orang yang bersalah. Pertama, sikap terendah adalah “menahan amarah”, karena kamu belum bisa menghapus luka hatinya. Kedua, “memaafkan”, kalau belum bisa memulihkan hubungan harmonis. Ketiga, yang tertinggi dan dicintai Allah Swt. adalah sikap orang muhsin, yakni berbuat kebajikan terhadap yang pernah bersalah.”

Aku menyela sang kyai, “jadi, memaafkan adalah sebentuk laku kebajikan sehingga kita layak dikategorikan muhsinin? Seperti dijelaskan Al-Quran, Maafkanlah mereka dan biarkan mereka, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS Al-Maaidah [5]: 13). “ itulah kesimpulan yang kuketengahkan padanya waktu itu.

Ilman Nursyifa kemudian berpesan, “Nah, kalau begitu, apa susahnya, sih, kamu memberinya maaf, meskipun dia belum datang memintanya. Sebab, yang paling penting adalah terciptanya hubungan harmonis antar sesama. Saya berharap kamu kembali membangun hubungan harmonis sebagaimana seorang insan beriman, hingga kedamaian menyelubungi hidupmu, kalbumu, dan bahkan menaungi semesta alam raya. Kalau masih bermusuhan dan tidak mau saling memaafkan, apa kata dunia!”.

“Hehehe….” Kami berdua tersenyum girang.

“Hahaha….” Temanku dari luar Masjid melompat-lompat kegirangan. [Bersambung]

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: