6 October 2009

Menulis Puisi Itu Bebas

BAGIKAN
Ah…, rasanya nikmat ketika saya menulis puisi atau sajak. Meski secara teoritis saya tak begitu memahami struktur puisi dan sajak, toh saya masih bisa menikmati rangkaian kata hasil buah gagasan saya. Anda boleh tidak setuju dengan saya. Apalagi kalau melihat puisi bikinan saya yang tidak seindah pujangga angkatan 45. Saya memegang kepercayaan menulis puisi itu mesti bebas menggambarkan keresahan jiwa atas segala bentuk realitas maupun non-realitas. Disinilah letak ketertarikan saya terhadap puisi. Saya tidak mau didikte oleh vakum-aturan dalam membuat puisi. Makanya, puisi saya adalah khas deskripsi saya sendiri. Bukan berdasarkan aturan yang digariskan sebuah media massa atau penerbitan.

Saya sedemikian senang ketika rangkaian kata dari dasar jiwa itu tersusun. Meskipun tidak seindah, seapik, dan sedramatis sastrawan mainstream. Inilah puisi-puisi saya….! Coba kau nikmati kalau kau tertarik. Kalau tak tertarik, tak apalah kau berpindah ke halaman lain.

Ingat…aku tak bisa tidur

aku tak kunjung tertidur
ingat ayah, ingat ibu, ingat kakak, ingat adik
kupejamkan mata, tapi masih tak tertidur juga
ingat kekasih, ingat janji, ingat obat-obatan

suara cericit burung, mendenging
namun aku tak kuasa menutupkan mata ini
ingat kesengsaraan, ingat kekuasaan, ingat wara-wiri politik,
ingat sby, ingat utang, ingat jk, ingat puisi, ingat kampung halaman,
ingat kpk, ingat rapbn, ingat 2010, ingat notebook, ingat calon istri,
ingat gawean, ingat tak bisa mengingat, ingat dompet, ingat almari,
ingat kawan, ingat dosen, ingat mahasiswa, ingat pengamen, ingat pengemis,
ingat…..capek ngetiknya.

Bandung, 18 Agustus 2009

Indonesia 64
ah, guratan itu tanda kepedihanmu
sebab ada di sekitar pipi
lingkaran di dadamu juga gambarkan kepedihan
karena menjadi borok yang mencengkram

64 usiamu kini tak berarti
terlihat tubuh yang ramping semampai
17 kelahiranmu tak sisakan jiwa muda untuk mendaki
kekayaan, kesejahteraan, apalagi martabat

Bandung, 18 Agustus 2009

Puisi tak selesai
hanya itu yang dapat kutulis
selebihnya aku mengeja kata
MER-DE-KA

Bandung, 18 Agustus 2009

KAU
dulu kau adalah penjara
kau adalah selaksa jiwa
kau adalah mayat tak hidup
kau adalah wasit kehidupan
kau adalah “tuhan” kecil
kau adalah kebenaran mutlak
kau adalah kini
kau adalah maju
kau adalah beradab
kau adalah jujur
kau adalah sepatu hebring
kau adalah signal kuat
kau adalah tak terpikir
kau adalah atasan segala sesuatu
kau adalah sombong
kau adalah tanah airku

kau adalah tak bisa kutuliskan
kau adalah semuanya…
kau adalah tak kan pernah habis-habisnya
kau….bikin capek ku berpuisi
Bandung, 18 Agustus 2009

Ayat-ayat Antiteror

bom di sini, bom di sana
teroris atas nama agama harus diberantas tuntas
pak korup, memang berdasi
tapi bukan berarti tak boleh diberantas tuntas

teror tidak berdasar pikiran luhur
semangat persatuan adalah tanda pikiran mulia
kebencian bukan berbalas kebencian
kebencian mesti dibalas cinta kasih karena kekal abadi

teror bukan sikap yang mulia, ia adalah tanda keasusilaan
mati dan hidup adalah firman tuhan
urusan tuhan hingga membunuh adalah dosa besar

teror bukan laku kekudusan
sebab manusia adalah muara ajaran hidup damai
ramahlah pada setiap orang
berkasih sayanglah pada si congkak
karena tuhan maha pengampun

Muhammad berkhutbah
berlaku adillah
berbuat bajiklah
jangan berbuat keji, mungkar dan saling memusuhi
karenanya mereka dibenci Allah sang rabbulalamin

mari renungkan ayat-ayat anti-teror
agar tidak menjadi pelaku teror

Bandung, 20 Agustus 2009

Angkara
kini kutertegun pandangi sejumput ilalang
keramahan pun menjadi kadung menghilang

kini kuterpekur menatap gorong-gorong jiwa
kekudusan diperkosa manisnya kata

kini kuhela napas sedalam samudera
namun tak kuasa kuhirup udara keserakahan
yang memorakporandakan keharmonisan
hingga bercampur darah kemurkaan

aku melingkari logika tak beraturan
kenapa sampai hidup di jejaran manusia angkara?
Bandung, 20 Agustus 2009

Sukron Abdilah. Lahir di Garut 22 Maret 1982. Ketua Insitute for Religion and Future Analisys (Irfani) Bandung. Alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung (2007). Mengasah kemampuan menulis puisinya di komunitas sastra Wau Qasam (Bandung). Karya tulisnya pernah dimuat di Pikiran Rakyat, Kompas Jabar, SINDO, Pelita, Galamedia, Tribun Jabar, SKM Medikom, Majalah Suara Muhammadiyah, Percikan Iman, Tabloid Al-Hikmah, dsb. Sekarang mengelola www.sunangunungdjati.com. No kontak 081322151160.

BAGIKAN

Penulis: verified_user

3 komentar:

Sorpus Ipse said...

mang tadinamah bade ngomentaran puisina, tapi aya tulisan kieu

"Bijaklah memberi komentar..."

janten bingung, ...

puisina rada nyeredet ka gaya matdon menuju mas Goen, hehe, duka ketang

Sukron Abdilah said...

hehe...teu apal si matdon...mun mas Goen mah apal atuh. tapi tara maca puisi...hihi diajar we ieu mah...yi. eta gambarna meuni penindasan ka perempuan....cadarisme....

kamisama said...

emm
i like it puisi..mari brkata untuk menye,mangati