8 October 2009

Misi Suci “Human Rescue”

BAGIKAN
“Menjadi relawan harusnya didasari panggilan kewajiban demi kemanusiaan.Semoga bukan tujuan lain yang dicari, tetapi mengejar nilai ideal dari hati.” (HU Pikiran Rakyat, 4/10/09).

KUTIPAN di atas saya ambil dari berita harian ini, Minggu (4/10/09), yang menyoal kedatangan relawan dari berbagai negara menyusul musibah gempa di Padang. Bencana alam berupa gempa dengan kekuatan 7,6 SR itu bak magnet yang menarik simpati dan empati manusia lain. Tak hanya warga negara Indonesia saja. Warga asing pun “terenyuh” hingga cepat betul mendatangkan bala bantuan guna menanggulangi kerusakan akibat gempa dahsyat ini.

Kedatangan tim penyelamat dari negara Swiss yang bernama Swiss Rescue, misalnya, memberi pesan bahwa manusia di dasar hatinya ada tersimpan solidaritas kemanusiaan. Terlepas dari kepentingan lain, penanggulangan bencana kini menjadi persoalan yang mesti ditanggulangi bersama. Koordinasi antara pemerintah, lembaga kemanusiaan, dan stakeholders merupakan wujud realisasi semangat kemanusiaan. Triliunan dana sumbangan untuk korban bencana, tak pantas rasanya kalau disunat di pertengahan jalan sehingga warga semakin terimpit kesulitan.

Persoalan bencana yang menelan korban manusia, tanggung jawab kemanusiaan yang mesti dilandasi kebeningan yang tanpa “selubung niat” keuntungan materi. Apalagi bantuan asing berupa materi, yang berdatangan ke daerah Padang dan sekitar, dengan jumlah yang tidak kecil. Maka, jangan lantas timbul niat “menyunat” dana kemanusiaan untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Bangsa beradab ini tidak pantas mengambil kesempatan di atas kesempitan warga Sumatera Barat. Memperkaya diri, menambah penghasilan, dan memperoleh sejumlah fee yang menyebabkan projek pembangunan tersendat-sendat.

Mendasarkan aktivitas penanggulangan bukan atas dasar kebeningan hati, saya pikir itu merupakan laku merusak di muka bumi. Di dalam Al-Quran kita diingatkan, “Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (di muka bumi)” (QS. Al-Qashash; 77). Maka, proses penanggulangan bencana di berbagai daerah, khususnya di Jawa Barat, Padang, serta daerah lain tidak menghasilkan kekecewaan berbagai pihak. Kalau hal itu terjadi, sama saja dengan menodai sifat kemanusiaan kita.

John M Echols dan Hassan Shadily (1997) mengartikan kata “human” dengan manusia yang bisa berubah menjadi “kepentingan manusia” jika ditambah dengan kata “interest”. Manusia, dalam bahasa apa pun adalah subjek yang mestinya tidak egoistik. Dari kata humane, humanism, humanist, humanitarian, humanitarianism, dan humanize; maknanya tertuju pada mewujudkan sifat perikemanusiaan di muka bumi. Ini artinya sifat perikemanusiaan telah melekat pada diri manusia dan terbentuk sejak alam lahir sampai bertemu azal. Jadi berdatangannya relawan ke ranah Minang, menggambarkan masih terhunjamnya rasa kemanusiaan pada umat manusia.

Memang, bencana di muka bumi banyak memupus harapan manusia untuk mengukir arti dalam hidup. Tak sedikit, akibat bencana orang silap dengan penderitaan, hingga jiwanya tertekan. Akibatnya, bencana alam banyak menyisakan luka jiwa yang sulit disembuhkan. Namun, saya yakin warga Minang adalah manusia teguh-kuat-bersemangat. Bencana, tak akan memupus harapan mereka – untuk kembali membangun ranah Minang – yang terkenal dengan produsen pemikir, tokoh bangsa dan para penggerak sektor perekonomian bangsa. Kita lihat saja, hampir di seluruh kepulauan Nusantara, khususnya di Jawa Barat, rumah makan khas Padang demikian menjamur. Nah, bukankah hal itu merupakan indikasi warga Padang berperan dalam menggerakkan sektor perekonomian setiap daerah?

Tugas bangsa ini adalah menjaga dan menyirami harapan warga korban bencana secara telaten sehingga dapat tumbuh berkembang laiknya pepohonan yang disirami air secara rutin. Mengutip kata-kata sakti mendiang Martin Luther King, “We must accept finite dissappointment, but never lose infinite hope.” (Kita boleh menerima kekecewaan sementara, namun jangan sampai kehilangan harapan yang tak berbatas). Oleh karena itu, memanfaatkan kesempatan di balik kesempitan orang lain tanda tidak berfungsinya dimensi kemanusiaan kita. Sebab, di imaji hanya ada kerja yang bergepok dana. Bukan menjadikannya sebagai kerja yang berpahala.

Seperti diberitakan sebuah media Nasional, warga China di daerah Padang-Pariaman, mendapatkan perlakuan diskriminatif ketika toko dan gedungnya roboh. Mereka, diwajibkan membayar ratusan ribu agar gedungnya yang rubuh tersebut diangkat oleh oknum petugas yang tak berperkemanusiaan.

Di dalam Al-Quran dijelaskan, “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu, dan berbuat baiklah. Supaya kamu mendapat kemenangan” (QS. Al-Hajj: 77). Ayat ini memberi pesan kepada kita untuk mendasarkan aktivitas berbuat baik dengan landasan keikhlasan atau kebeningan hati. Kalau saja datangnya ke daerah bencana bukan hanya menanggulangi, tapi mencari keuntungan di balik reruntuhan dan mayat yang tertimbun. Beningkan hati, luruskan niat, mari kita menyelamatkan manusia bukan hanya diinisiasi kepentingan duniawi sesaat. Namun, atas panggilan kemanusiaan sebagai misi suci ideal yang terhunjam di dalam hati.

Penyelamat manusia, adalah yang mampu menyelamatkan korban bencana tanpa melihat suku, ras, Agama, Ideologi, haluan politik, dan “tetek bengek hijab” yang di medan sosial kerap menjadi sekat hingga menghalangi berbuat kebajikan pada sesama manusia. Bencana yang bertubi-tubi ini, seperti halnya ujian bagi seorang siswa. Dalam bahasa lain, kesucian niat kita sedang diuji kawan!!! Wallahua’lam
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: