23 October 2009

Perempuan Mandiri

BAGIKAN
Coba engkau berkunjung ke kampung saya. Distribusi perekonomian hanya terjadi sebulan sekali. Kesejahteraan hanya terlihat pada saat hari Lebaran saja. Tak heran jika banyak yang melakukan pernikahan pada bulan syawal. Bulan2 yang lain, keluarga hanya mampu menunggu kedatangan sang bapak, kakak, atau saudara yang mencari nafkah di kota. Selebihnya, ibu-ibu hanya senang bergosip ria. Aktivitas perkenomian hanya hak paten kaum laki-laki. Dominasi pemahaman bias gender ini, menjadikan warga di kampung saya sejahtera dalam waktu seminggu. Uang yang dibawa sang suami, habis dibayarkan kepada si empunya warung.

Tahukah engkau, bahwa perempuan di kampung saya tidak mandiri? Khususnya yang masih bersuami. Hanya ibu saya, kakak saya, dan saudara saya yang mengisi sela kekosongan waktu untuk berbisnis. Ibu saya, berjualan pupuk; kadang menjadi tengkulak hasil pertanian (jagung, cabai, padi). Itu logis terjadi karena ibu saya seorang janda. Coba bayangkan kalau beliau bukan seorang janda. Untuk memenuhi kebutuhan hidup anak-anaknya, pasti diserahkan kepada sang suami. Ada keunikan yang mengernyitkan dahi saya soal perempuan di kampung saya. Ya, kemampuan mempertahankan hidup lahir ketika dirinya ditinggal sang suami.

Dua bulan ke belakang, program PNPM Mandiri berhasil masuk ke daerah saya. Hampir seluruh penerima modal dari PNPM adalah janda. Ibu saya, tidak mendapatkannya karena sejak tahun 1988 menjadi perempuan yang giat berwirausaha. Sayang, usahanya serabutan. Tidak berfokus pada satu kebutuhan masyarakat. Dari mulai tukang jahit pakaian, kredit barang rumah tangga, tengkulak hasil pertanian, kue kering, dan terakhir adalah menjual beras kepada masyarakat dengan sistem utang. Mungkin dengan alasan itulah, dia tidak mendapatkan modal dari PNPM. Hanya kakak saya, yang mendapat bantuan sebesar satu juta karena dia membuka praktek jahit pakaian.

Ada yang saya sayangkan dari penyaluran modal tersebut. Seharusnya, warga kampung diarahkan untuk dapat mengelola potensi lokal. Sehingga, tidak semuanya membuka warung kecil di kampung. Bisa dibayangkan, kampung saya yang hanya dihuni puluhan rumah, dipenuhi warung kecil sekitar belasan. Ini tidak efektif karena disinyalir akan menyebabkan kebangkrutan para janda yang membuka warung. Saya pernah berdiskusi dengan kakak saya — yang berprofesi sebagai penjahit pakaian — untuk menjadikan rumah sebagai sentra produsen pakaian muslim/mah. Sebab, kalau pangsa pasar hanya terbatas di kampung, tidak akan menjadi efektif. Lebih banyak menolongnya ketimbang mendapatkan keuntungan. Misalnya, dia menjahit pakaian seorang pemesan. Dia harus mengeluarkan uang untuk membeli kain, dan upah jasa sebesar 20 ribu, 30 ribu, kadang 15 ribu. Kalau kain seharga 30 ribu misalnya, dia hanya mendapatkan uang 45 ribu dalam jangka 2 bulan. Untuk biaya makan dan kebutuhan keluarganya, dia mengandalkan penghasilan suami.

Ketika ditanya serius dia hanya berujar, “Ah…yang penting bisa menolong orang kampung agar tidak ditataranyang.”

TImbul pertanyaan dalam benak saya, “Ah..sudah tidak mampu berpikir bisniskah perempuan kampung saya?”

Namun, melihat aktivitas keluarga saya — khususnya perempuan — merasa tenang dan tentram. Sebab, mereka tidak terjebak pada pemahaman bias gender, bahwa laki-lakilah yang memberi penghidupan kepadanya. Tak heran, apabila kakak ipar saya, tidak pernah melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Mungkin, malu karena pekerjaannya tidak terlalu berat dan dikejar-kejar target sang istri. Sebab, ketika kakak saya menginginkan beli baju baru, mainan untuk anak, dan membeli makanan kecil buat tamu, bisa membelinya sendiri.

Sekarang saya berharap, semoga kakak saya yang menjadi penjahit itu dapat memperluas usahanya. Minimalnya, dapat mempekerjakan perempuan2 di kampung agar dapat memperoleh penghasilan tambahan. Begitu pun dengan kakak saya yang menjadi tengkulak hasil pertanian, penyalur tabung gas, dan menjadi tukang cukur di kota. Semuanya diharapkan dapat mengembangkan usahanya. Sehingga dapat mempengaruhi perekonomian desa atau kampung.

Pemerintah, menurut hemat saya, mesti mempertajam kebijakan di sektor perekonomian mikro bagi perempuan. Mencengangkan sekali, dari sekitar 50 juta unit usaha lebih, hampir 60 persen dikelola oleh perempuan. Menggalakan Home industry di perkampungan, menurut saya adalah tafsir transformatif dari relasi gender, yang kerap ditafsirkan aktivis perempuan dengan menyamakan hak perempuan dengan kaum laki-laki. Tapi sayangnya, tafsiran tersebut lebih mengarah pada eksploitasi perempuan di dunia kerja. Tidak seperti Siti Khadijah — istri nabi Muhammad Saw — yang berprofesi sebagai saudagar dan pengusaha. Lihatlah para pegawai pabrik perempuan. Tenaga mereka diperas dengan sistem shift malam dengan upah yang tidak setara.

Saatnya aktivis perempuan mengarahkan pendampingan di bidang sosial ekonomi di perdesaan dan kampung. Khususnya kepada janda, warga miskin, dan masyarakat terpinggir. Segitu dulu ah!!!!

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: