16 October 2009

Puisi 2007

BAGIKAN
Dulu, terlihat saya tak bisa berpuisi. Sekarang apalagi. namun, puisi bukan menyoal tentang bagus dan tidaknya; melainkan ada yang ingin kita sampaikan pada dunia. Inilah inisiator saya menulis puisi, puisi 2007 ini hanya beberapa saja yang dapat saya posting di weblog ini. Ada banyak kumpulan puisi saya yang nggan diterbitkan secara cetak. Karena, ya itu tadi, puisi saya jelek semua. hahaha

#1
Hilang

suara parau itu mati juga
bosan aku terus berteriak lantang
tak didengar meski itu meneriaki ketulianmu
kesal aku melemparkan kepalan tangan ke angkasa
yang berbalas letupan-letupan senapan
dengan gagah perkasa

akhirnya, suaraku makin parau; tak terdengar
di tengah-tengah genjlong yang mengguncang dunia maya
bahkan dengan pekik histeris pun tak kunjung membuka lem perekat
di telinga kiri dan kananmu yang tuli dan tak mendengar

suara parauku sekarang tak pernah terdengar berteriak-teriak
mungkin, telah mati diterjang peluru panas yang mengganas
innalillahi wa inna ilaihi raaji'un!!!

suara perjuanganku kini tengah duduk di sisi tuhan
2007



#2
tempatku di sini


tempatku di sini
lahir dan mati
tak kan kutinggalkan
kendati kekumuhan menghantui

tempatku di sini
berkeluarga dan beranak pinak
menuliskan tinta takdir kehidupan
yang berjibun ketidakpastian

gerangan kuhampiri wajah jijikmu
kusemburkan ludah bau
dan kulepaskan kepalan tinju
karena aku hanya akan terus menetap
hidup di sini dan mati pun aku mau di sini

di kampung tempatku berdendang teduh
yang pancari hidup dengan cahaya ke seluruh tubuh yang ringkih
seringkih tiang dari bambu kuning!
2007



#3
Pesan dari Kampung

aku mulai membosani tingkah polah
yang datang bertubi dari ketakmanusiawian diri
kepulan asap dari dapur, hanya kepulan kesedihan
pembunuh kepercayaan

kata-katamu hanya disimpan di bawah bantal
yang tebarkan harum pesona
wajahmu jernih tak sejernih hati
hingga aku menolak buncahkan kata
yang berjibun kekaguman



kau tersenyum,
aku ketus tersenyum dalam hati
kau melambaikan tangan,
aku kepalkan tangan kebencian dibelakangmu
kau sorotkan pandang kebahagiaan,
aku tersedu-sedu seminggu setelah kunjunganmu itu berlalu
pesanku ternyata tak kau baca!

2007


#4
Surau Kotor

kotoran hidup jengahi tuhan
atap genteng dari keringat kemunafikan,
menghisap ketulusikhlasan;
tembikar dari penghisapan kaum miskin
tak dikehendaki tuhan. korupsi!

2007



#5
Lelah pada Hidup

terkungkung jiwa dan rasaku
menukik aku ke dasar alam bawah sadar
namun tak kutemukan secuil pun
kebebasan rasa

aku hanya lilitkan kelelahan rasa
di kedua belah mata
yang kosong dari cahaya kehidupan
2007



#5
Aku Bukan Sisifus

aku mengangguk,
bahwa hidup tak semestinya begini terus-menerus
karena aku bukan sisifus
manusia yang terjebak rutinitas
dan nihil kreativitas

tapi kegembiraan hidupnya adalah aku
yang berwujud orang lain
karena ingar-bingar jiwanya seroboti
semangat diri yang telah sekian lama
terpendam di relung-relung ketakberdayaan
2007



#6
Bebatuan Rasa

manusia batu yang memendam kegelisahan di pagi, siang, sore
dan malam hari; hanya sekadar menumpuki diri
dengan jutaan kilogram harta

mencekik inti diri ketuhanan
hingga mati dari sisi kemanusiaan
urat nadi dan hati tak berdegup,
mati merasai kehadiran sisi kemanusiaannya
nafas kepeduliaan di hati sanubari pun tertimbun lapisan ruang
dan waktu; mati tak menjelajahi sisi ketuhanan di kedalaman spiritualitas

pancaroba membentuk hatinya sekeras batu
sembilu yang tak merasai norma, etika dan nilai-nilai kehidupan
rengekan mereka, adalah milik mereka
tak sudi hantarkan kegelisahan manusiawi,
karena telanjur ku menjadi manusia dari bebatuan rasa
yang miskin dari empati
2007



#7
mencari makan

cari makan halal saja susahnya minta ampun!
bagaimana dengan yang haram?
ah, sama saja susahnya

kalau tidak ada kesejahteraan, nirkeadilan
dan dikejar-kejar orang berdasi
2007



#8
Nasi Aking

lari kecilmu menahan lapar. Ma aku ingin makan!
tak ada apa-apa di rumah! Jawabnya.
hanya sisa-sisa nasi kemarin ditinggali jamur, lumutan,
dan kekuning-kuningan hampari jutaan harap di dasar keramaian.


ambil! Marilah masak rame-rame
biar dunia tahu
kemunafikan masih menjadi
jadi menu sistem nilai bangsa ini
sudah tiga bulan hujan tak kunjung mengunjungi

lihatlah sawah, masih sisakan retakan-retakan menyayat hati
ketika hujan guyuri tanah ini, benih dan pupuk pun susah kugenggam
jengah ema-mu ini de!

makanan sehari-hari juga nasi aking.
bagaimana kamu mau pintar, nak!
2007



#9
Hemat Kata

itu saja judul puisi yang kutulis
di atas kertas putih
tak sudi kuhambur-hamburkan isi kepala
kalau saja masih sisakan kepedihan
2007

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: