15 October 2009

Puisi Redamkan Kekecewaan

BAGIKAN
Ah, sejak kecil saya selalu bisa menahan kecewa. Dalam puisi terkandung kekecewaan yang meluapkan kata-kata. Dalam puisi saya bebas mengekspresikan kekecewaan tersebut. Tanpa adanya puisi, saya rasanya akan terus terdiam, terpekur, dan merenung tentang ketidakadilan yang terus bertebaran bagai jagung yang dijadikan pakan ayam dan burung merpati.

berkepala dua

aku bukan munafik berkepala dua
benci kebatilan hanya dalam kata-kata

aku bukan anggota tim sukses berkepala dua
janji di mulut hanya penarik massa

aku bukan penguasa Indonesia
perjuangkan rakyat tak seindah dikira

aku, pokoknya, bukan aku yang menggadaikan jiwa
aku, keteguhan yang ditanam di jiwa manusia

keberanian berkata “tidak” untuk kejahatan
keperkasaan yang memorak-morandakan
kebatilan kaum otoritarian
Garut, Maret 2009

bukan atas nama Surga

kalau bersembahyang karena surga
Rabiah Al-Adawiyah akan membakarnya
menjadi berkepingan lebur bersama keserakahan
Garut, Maret 2009

menjenguk Indonesia

jarak tempuh serasa jauh dan menanjak
hembusan angin nusantara tak sesejuk tahun lalu
aku berguling
menungging
lari kecil-kecil
dan merebahkan badan
di atas alas kardus
dan plastik yang bergeresekan

sumpek betul rasanya Indonesia
sumpek karena dipenuhi pejabat korup !
Bandung, Maret 2009

Olah jiwa

ruang jiwaku dipenuhi kepompong
yang siap menyemai dirinya jadi kupu-kupu indah
namun di tengah perjalanan setapak jiwa

ia berhenti memerhatikan segurat keserakahan
lantas kemudian menancapkan belati hingga letih
menjalar merenggut nyawa dari persendian nadi

sumpah misi itu kembali “ter”nina-bobokan
di dalam sekantong biji hati yang membusuk

Tuhan…, hidupkanlah biji-biji itu
menjadi tanaman indah yang setiap hari
dapat menghidupi dua ratus juta jiwa manusia
di Indonesia tercinta
Bandung, Maret 2009

Ekstase jiwa

isi hatiku dengan cuka asmara
pikir sejenak apakah aku jalang
yang kebinatang-binatangan ?

aku rasa bukan !
tapi besar kemungkinan
seperti gunung yang menjulang

gila kiranya aku berhenti berefleksi
mati rasanya hati dari sepercik yang suci

dosa dan kejahatan menjadi karat
dalam hati hingga tak ada kebenaran
selain dari sang diri sendiri

rigid, kakuk, kikuk, reaktif dan fanatis !!!!!!
Bandung, Maret 2009

Sukron Abdilah, Lahir di Garut 22 Maret 1982. Mengedit buku agama
remaja, menulis artikel tentang budaya, media, informasi, sosial dan
agama di media cetak dan online. Ia alumni Universitas Islam Negeri
(UIN) Bandung (2007), bergiat di komunitas Wau Qasam.

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: