26 November 2009

Autentisitas Kebahagiaan Berkurban

BAGIKAN
(Artikel dimuat HU Pikiran Rakyat, 26 November 2009)

MENYEMBELIH hewan (kurban) di hari raya Iduladha dilakukan untuk menghancurkan jeruji egoisme dalam diri. Di balik ritus kurban, kemewahan duniawi mesti dibagi rata dengan sesama. Artinya, daging – sebagai simbol kemakmuran dan kesejahteraan – tak hanya milik kalangan mampu dan berduit. Dalam ritus kurban, ada semacam upaya perang terhadap energi destruktif. Keangkuhan, kesombongan, dan cinta berlebihan terhadap harta-tahta-jabatan ditumpurludeskan dari dalam diri.

Nabi Ibrahim a.s. sebagai bapak para nabi (abu al-anbiya) mewariskan ritus keagamaan yang sarat nilai kemanusiaan. Kesadaran terhadap nasib manusia "liyan" adalah fondasi kehidupan sosial dalam menjalankan aktus keberagamaan. Dalam kisah kenabian, Ibrahim a.s. merupakan manusia yang dermawan, mementingkan orang banyak, dan tidak egois. Tak heran apabila dia dijuluki khalilullah (sang nabi kekasih Allah) berkat kesalehan, kecintaan, dan kedermawanannya.

Makna "kurban" dekat secara semantik dengan esoterisme keislaman, yakni taqarub, yang berarti mendekati-Nya. Ini artinya kesalehan autentik (asli dan asali) adalah kemampuan jiwa untuk berbagi kesenangan dan kemewahan dengan sesama. Ya, kesalehan yang tidak hanya mengurusi ego "kepentingan" diri sendiri dalam mewujudkan kebahagiaan.

Kebahagiaan adalah kewajiban moral yang diemban setiap agama. Bagi umat Muslim, kurban dapat menghadirkan kebahagiaan. Secara psikologis perasaan ini identik dengan senang, gembira, lega jiwa, dan ada kepuasan tak kasat mata. Seperti Ibrahim a.s. yang senang ketika lelah berjalan di persimpangan, lalu mendapatkan warga miskin untuk diajak berbagi kesenangan, kemakmuran, dan kenikmatan menyantap hidangan.

Begitupun dalam syariat penyembelihan hewan pada hari Iduladha. Kebahagiaan akan terlihat pada wajahnya yang berseri-seri ketika membeli kambing, sapi, atau unta untuk dibagi-bagikan dagingnya pada masyarakat sekitar. Kurban hari ini adalah upaya penyembelihan aneka kepentingan pribadi atau kelompok dalam laku keseharian. Ketika aneka kepentingan berdasarkan egoisme diri berhasil disembelih, itu pertanda titik pijar cerahnya hidup di masa mendatang. Kemakmuran sebagai pangkal terciptanya kebahagiaan niscaya terwujud ketika tiap orang tak mementingkan nafsu pribadi dan kelompok.

Menjadi manusia berbahagia adalah dengan menumpurkan egoisme dalam diri. Berkurban dalam konteks ini merupakan hasil dari kemenangan diri dalam memerangi nafsu keserakahan yang egoistis. Apalagi bagi manusia yang hidup di tengah modernitas. Bagi manusia egoistis, berkurban akan menjadi panggilan suci yang superberat dilaksanakan. Namun bagi manusia pengejar kebahagiaan, ini tentunya akan menjadi jalan bebas hambatan untuk menemukan makna hidup.

Hidup bagi sang penunai kurban adalah ruang dan waktu yang harus diisi dengan kegiatan berbagi. Rasulullah saw., dalam berbagai riwayat, kerap menjunjung tinggi fakir miskin. Suatu ketika beliau berujar, "aku berada di tengah-tengah warga miskin. Maka berbuat baiklah kepada mereka." Manusia suci sekelas Muhammad saw. juga berbagi kesenangan dengan para dhuafa dan kaum miskin. Sebab, beliau tahu bahwa manusia di muka bumi tidak terkena "sekat sosial" dalam berinteraksi. Berbuat bajik kepada sang fakir adalah ritus yang dapat mengantarkan kita pada derajat kemuliaan akhlak dan kesempurnaan ibadah. Bukankah ketika kita berpuasa, salat, dan pergi haji tetapi tak mampu membina hubungan harmonis dengan sesama, segala amal akan sia-sia?

Itu berarti, ibadah bukan hanya mengurusi kepuasaan personal. Lebih jauh dari itu, ibadah sejatinya dapat mewujudkan kepuasaan kolektif, di mana kemewahan dan kemakmuran bukan milik segelintir orang. Bagi pemerintahan, "berkurban" bukan dilakukan satu kali saat pemilu saja. Namun, selama dia mengemban amanah sebagai wakil rakyat yang bertugas menyejahterakan rakyat, bukan sekadar ambil-tuntut-nikmati gaji yang bulan lalu sempat diusulkan naik.

Artinya, berkurban adalah memberikan pengorbanan untuk kepentingan orang banyak yang dilakukan agar tercapainya kebahagiaan autentik. Kebahagiaan yang tak pernah mampu dilakukan oleh manusia egoistis dan individualistis. Kebahagiaan yang dapat dirasakan oleh filantropis yang memandang dalam harta-kekayaannya ada sebagian hak bagi kaum miskin. Bukankah agama Islam diturunkan ke muka bumi untuk kemashlahatan umat manusia? Sewajibnya kita melakukan pengorbanan saat Iduladha dalam berbagai bentuk. Menyumbangkan tenaga, pikiran, pengelolaan adil, serta rela dan ikhlas memberikan kepada masyarakat sekitar tanpa berpikir ini itu. Kalau saja Anda dapat melakukan hal seperti itu, petanda telah mendapatkan kebahagiaan autentik.

Bukankah di dalam Al-Quran dijelaskan, "Celakalah orang yang suka mengumpat, mencela, mengumpulkan harta kekayaan, dan menghitung-hitungnya. Ia mengira kekayaannya itu dapat memberikan kekekalan pada dirinya. Tidak! Sesungguhnya ia akan dilemparkan ke dalam huthama. Tahukah engkau apakah huthama itu? Ialah api Allah yang membakar hati (orang-orang yang sangat kikir)." (Q.S. 104: 1-7). Wallahualam.***

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: