6 November 2009

Haji, "Legenda Pribadi" Sang Janda

BAGIKAN
Aku tak mau dibilang nepotis ketika menulis cerita ibuku. Tapi, apa boleh buat untuk mewujudkan mimpinya naik haji, aku harus menuliskan kisahnya. Jujur saja, sebagai seorang anak aku merasa gelisah melihat keinginan ibu yang menggebu. Sejak sepuluh tahun yang lalu, ia selalu mengutarakan keinginannya itu padaku. Menginjak usianya yang ke 60, sekarang ia malah terus mengutarakan keinginannya menunaikan ibadah Haji.

Aku hanya bisa melerai kesedihannya dengan sejuta kisah para tamu Allah. Aku juga kerap menjelaskan padanya, bahwa Allah akan memanggil hamba-Nya. Kalau belum saatnya terpanggil, seseorang tidak akan pernah menginjakkan kakinya ke tanah suci. Meskipun ia tergolong kaya raya. Keinginan yang kuatlah yang dapat mengantarkan mereka bercengkrama asyik dengan-Nya di depan Ka’bah.
Itulah kata-kata yang selalu aku sampaikan padanya.

“Ibu ngiri dengan orang-orang kaya. Mereka hampir setiap tahun pergi naik Haji. Bahkan, ada yang sampai sepuluh kali. Umur ibu sudah mendekati 60 tahun. Sebelum ibu menyusul ayahmu, ingin rasanya pergi ke tanah suci. Ibu ingin merasakan bagaimana nikmatnya shalat di Masjidil haram, thawaf, sa’i, dan jumrah.” Jawab ibuku sembari menerawang haru ke tanah suci, Mekkah.

“Sabar saja bu. Kalau sudah saatnya juga nanti dipanggil Allah untuk pergi ke sana.” Ujarku sambil berusaha meredakan kesedihannya.

Aku jadi agak berdosa ketika tidak bisa berbuat apa-apa untuk mewujudkan mimpi ibu. Maafkan aku, bu, sekarang hanya bisa berdoa saja. Untuk mengumpulkan puluhan juta ongkos ke Mekkah aku belum bisa bu. Maafkan aku ibu…! Melihat usiamu yang semakin menua, kadang darah tinggimu kambuh, aku merasa serba salah. Pasti, keinginan pergi ke haji pangkal penyebabnya. Disamping itu pasti juga engkau memikirkan kedelapan anak-anakmu yang belum bisa mandiri.

Akankah ada sepercik keajaiban yang dapat mewujudkan keinginan ibu aku? Jikalau ada, aku rela menjadi budak belian orang tersebut. Sumpah aku akan melakukan apa saja untuk membahagiakan sang ibuku tercinta. Asal, tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keislaman!

***

Ibadah Haji dalam keyakinan setiap muslim adalah puncak dari segala ibadah. Setiap muslim, tak akan merasa sempurna keislamannya tatkala tidak berhasil pergi ke baitullah untuk berhaji. Meminjam istilah Paulo Coelho, itulah yang dinamakan dengan “legenda pribadi”. Mirip majikannya si Santiago yang terjebak di tengah padang Pasir, berjualan lampu dan barang furniture, ketika dirinya akan pergi menunaikan haji. Majikannya Si Santiago, melupakan keinginannya pergi berhaji karena terbuai nafsu keduniawian. Memunguti serak keserakahan yang terus membentuk fatamorgana mata.

Ketika mengingat kisah dalam novel The Alchemist itu aku terhenyak kaget. Akankah ibu aku bernasib sama dengan sang majikan si Santiago tadi? Oh…tidak! Aku pikir tidak akan pernah terjadi seperti yang menimpa sang majikan itu. Majikan si Santiago kaya raya. Tinggal sebentar lagi mencapai tanah suci.

Sementara ibuku? Ia berada jauh dari Arab Saudi. Jaraknya ribuan kilo meter. Kalau tak ada lautan yang memisahkan negeri ini dengan negeri Arab, dia pasti rela berjalan kaki menempuh ribuan mil perjalanan menuju baitullah. Akung, keinginan menggebu ibu aku hanya terpendam tak asyik di lubuk hatinya yang terdalam. Ketika musim haji tiba dan televisi banyak memberitakan jemaah haji, keinginan itu meledak ke permukaan.

Seperti pesan singkat dari kakak aku kemarin, “Ibu kambuh lagi darah tingginya. Alhamdulillah, sekarang sudah agak mendingan. Ya, si ibu dan keluarga mendoakanmu semoga sukses karirnya.”
Aku baru teringat bahwa ini adalah musim Haji. Sekitar 250 ribu lebih jamaah asal Indonesia pergi ke tanah suci. Pasti, darah tinggi ibu aku kambuh lagi. Ia ingin pergi ke tanah suci sejak sepuluh tahun yang lalu. Sebagai anaknya, yang bekerja serabutan, aku hanya bisa meneteskan air mata kesedihan. Kadang, aku menyalahkan takdir. Kenapa aku tidak dijadikan pejabat partai yang dengan mudah dapat pergi-pulang ke negeri Arab. Astaghfirullahaladzim! Eling ah….! Bisik nuraniku mengingatkan.

Aku terdiam. Rasa kesal itu datang kembali. Kenapa ibuku tak seberuntung tamu Allah lainnya. Si tukang becak, yang pergi haji karena bantuan sebuah lembaga zakat. Si ibu tukang mencuci pakaian yang dimodali pergi haji oleh sang pengusaha. Dan, Haji Pandi yang menjual sawah pemberian ayah angkatnya untuk pergi ke tanah suci. Ah, tapi saya yakin kekuatan doa begitu dahsyat. Seperti dibilang Paulo Coelho, “Barangsiapa yang menginginkan terwujudnya suatu keinginan, segenap alam akan membantu mewujudkannya.”

Terima kasih Coelho, kalimat bijaksanamu mengobati keinginan menggebu ibuku. Seperti darahnya yang mendidih minggu kemarin. Menjadi reda dan agak baik kondisinya ketika aku membalas pesan singkat ibuku dengan menyertakan kalimat saktimu itu.

Satu lagi yang mesti diperhatikan. Pergi ke haji memerlukan kesiapan keimanan, mental, fisik, dan duit.

Tanpa itu semua, banyak orang kaya raya tak bisa pergi haji selama hidupnya. Di sisi lain, ada orang-orang miskin yang berprofesi sebagai kuli bangunan, buruh pabrik, dan warga miskin mampu pergi haji karena mereka rajin menabung. Itulah kekuatan niat. Sebuah dorongan yang mampu menggerakkan setiap orang untuk mewujudkan legenda pribadinya. Legenda pribadi bagi seorang muslim adalah pergi ke haji.

Maka, setelah itu ibuku menukas singkat, “mulai hari ini harus ibu niatkan pergi ke haji dan menyisihkan keuntungan dari bisnis kecil-kecilan. Yang terpenting adalah ibu sudah menekadkan pergi ke haji.”

“Nah begitu dong, bu. Jaga kesehatan, jangan makan daging kambing lagi ya?”

“Hehe…kalau di Arab Saudi banyak daging kambing ya..”

Aku hanya menggelengkan kepala. Ibuku ternyata masih menyimpan kerinduan menggunung di dadanya. Kerinduan untuk bersujud di depan rumah-Mu, ya Allah. Mulai besok aku akan mencari informasi tentang ongkos naik haji di internet. Doakan aku ya bu biar bisa tambah-tambah ongkos naik hajinya?????

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: