5 November 2009

Intermezzo Keberagamaan

BAGIKAN
Pada tahun yang lalu, saya pernah dikirimi Majalah Madina. Katanya, sih, majalah ini sekarang sudah gulung tikar. Sangat disayangkan, karena secara substansial majalah ini menghadirkan Islam yang ramah terhadap pluralitas pemahaman. Dengan kiriman majalah ini juga, saya bisa ber-Islam sesantai mungkin. Apalagi, ketika membaca rubrik Humor. Saya jadi tidak memandang Tuhan dan ajaran Islam sebagai dua kekuatan yang menyeramkan.

Humor - dalam perspektif psikoanalisa Freud - adalah media untuk mengeluarkan sejumput keruwetan hidup (termasuk soal teologis) yang direpresi ke alam bawah sadar. Saya, secara pribadi merasa bahwa beban hidup sedikit berkurang ketika membaca dialog-dialog segar di dalam rubrik Humor.

Tuhan, malaikat, Nabi dan ulama dalam rubrik humor serasa dijungkirbalikkan. Keempat penentu eksistensi sebuah agama itu berubah menjadi sesuatu yang terjangkau dan kadang digambarkan sebagai manusia biasa. Tak terkecuali dengan Tuhan. Saya, yang tidak fundamental dalam ber-Islam merasa itu sebagai hal biasa. Tidak tahu dengan saudara-saudara seiman yang menganut fundamentalisme Islam.

Pertanyaannya, apakah ketakterbatasan zat Tuhan bisa didobrak oleh keterbatasan logika manusia? Saya melihat ada semacam menempatkan Tuhan sebagaimana halnya manusia yang bisa dikibuli dalam rubrik Humor. Padahal ketika kita menipu Tuhan, Dia bakal membalas menipu kita. Dalam bahasa lain, Dia tidak bisa ditipu dan dikibuli. Sebelum kita menipu dan mengibuli-Nya, secepat kilat Dia akan menipu dan mengibuli kita.

Karena Tuhan Mahakuasa, tak pantas rasanya jika bisa dikalahkan oleh manusia, malaikat, dan kaum pendosa. Tapi, karena Tuhan yang Mahatahu atas kondisi makhluq-Nya saya pikir Dia tidak akan marah ketika di rubrik Humor dikibuli dan dikalahkan umat manusia. Intermezzo keberagamaan itu memang perlu agar kita santai mengibadahi-Nya. Tidak grasak-grusuk. Bukankah tumaninah dalam ibadah adalah prasarat esoteris yang diberikan sang Nabi?

Tetapi ruginya orang yang suka ngelucu di hadapan Tuhan adalah ketika Tuhan tahu bahwa kita muslim humoris. Hehe, tentunya ibadah kita akan dipandang sebagai ketaksungguh-sungguhan. Misalnya suatu hari kita menunaikan shalat Tahajud dan berdoa. Waktu itu malaikat tahu bahwa kita sedang ada kebutuhan. Serta merta Tuhan dan malaikat bareng menjawab setiap permintaan yang kita panjatkan, “ah, paling juga kamu sedang bercanda ya!”




BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: