12 January 2010

2010 dan Agama Membebaskan

BAGIKAN
SAYA yakin hari ini optimisme hidup kita tengah merekah karena berada pada ruang dan waktu gress atau baru (new year). Dalam kalender Masehi ini, kita tengah bercengkrama dengan tahun 2010. Tahun yang baru dilalui beberapa hari. Pun begitu bagi umat Islam yang berada pada tahun 1431 dalam kalender Hijriyah. Memang pantas mengisi tahun ini dengan segudang karya transformatif dan membebaskan. Kita, sebagai bangsa majemuk disertai diversitas budaya, keyakinan, ideologi, dan paham; memang pantas merekahkan optimisme pada tahun baru ini menjadi bunga cantik yang indah dilihat.


Dalam bahasa lain ide, harapan, cita-cita, resolusi diri, dan imajinasi kesejahteraan bangsa mesti mewujud dalam bentuk nyata. Bukan lantas menjadi fana dan tiada. Matikanlah titik api yang membakar nasionalisme, pluralisme, demokrasi dan toleransi pada tahun 2009 lalu. Saatnya komponen bangsa-negara (nation state) mulai bahu membahu membenahi ”gedung kebangsaan” yang reyot demi kemajuan peradaban.

Peradaban utama

Seperti diungkapkan M.Amien Rais, Indonesia memiliki potensi besar menjadi negara hebat di dunia kalau ditopang dengan konstruksi peradaban utama (Republika, 04/01). Artinya menjadi mainstream peradaban yang menjadi kiblat kebijakan negara lain. Akan tetapi, rintangan tentunya tak akan berhenti merongrongi gairah kebangsaan. Peristiwa memilukan dan memalukan tahun 2009 seperti teror, korupsi, kecurangan, bencana alam, mafia hukum, dan carut-marut birokrasi tak pantas menjadikan bangsa ini dipenuhi sikap pesimis. Bakal ada perubahan ketika segenap elemen bangsa menyadari dengan ikhlas negeri ini membutuhkan tonggak kejujuran dan penghargaan.

Kejujuran dan penghargaan itu mesti mewujud menjadi kesadaran kolektif (coletive awareness) yang dapat dimulai dari setiap individu yang tercerahkan. Dalam posisi ini, agama mesti dijadikan ”tulang punggung” penyadaran individu. Apa yang dikatakan Nasarudin Umar (Pikiran Rakyat, 04/01) pada pertemuan tokoh Islam dan Lembaga Dakwah memang benar. Pemuka atau tokoh agama jangan hanya dijadikan sebagai ”pemadam kebakaran” saja, tanpa menyertakannya dalam menanggulangi masalah di hulu. Saya pun sependapat dengannya ikhwal peran ulama di negeri ini. Tak arif rasanya kalau ulama sibuk diri sendiri memadamkan ”jenggotnya yang kebakaran” ketika muncul perbedaan pemahaman.

Dalam upaya mewujudkan peradaban utama, ormas dan tokoh Islam sepatutnya mengejawantahkan visi pembebasan. Ketika virus kemiskinan terus menggerayangi bangsa ini, ulama berada di garda terdepan untuk menggenjot mental warga miskin agar mereka berdikari. Agar mereka memiliki semangat hidup. Agar mereka tak mengidap inferioritas hidup. Terakhir, agar mereka meresapi eksistensi agama memiliki fungsi kemanusiaan yang membebaskan.

Alquran me­negaskan bukan hanya individu, tapi bangsa dan masyarakat juga memiliki prinsip yang menentukan keruntuhan dan kebang­kitan. Karena itu, se­bagai individu dan kelompok, kita ber­tanggung jawab atas diri sendiri dan masyarakat. Berkaitan dengan perubahan hidup dalam Alquran, kita akan menemukan dua hukum bagi pelaksanaan perubahan hidup. Perubahan diri lebih baik adalah kewajiban mutlak, sementara perubahan dalam masyarakat, cukup dilakukan segelintir orang saja. Namun, di tengah kompleksitas kenegaraan dan kebangsaan kini, dibutuhkan kerjasama antar stakeholders agar melahirkan perubahan bangsa yang sempurna. Umat, umara, dan ulama – sebagai trias politika Islam – mesti berfungsi menanggulangi persoalan kemanusiaan yang melilit bangsa ini.

Penentu perubahan

Di dalam Alquran dijelaskan, ”Tuhan tidak mengubah keadaan suatu masyarakat, sebelum mereka mengubah (ter­lebih dahulu) sikap mental mereka.”(QS Ar-Ra’d [13]: 11). Ini menunjukkan bahwa Dia (Allah) menempatkan manusia sebagai faktor penentu kelahiran sebuah perubahan dalam se­jarah kehidupan. Dengan demikian, ketika berusaha mengubah diri ke arah lebih baik, seharusnya memberi manfaat bagi orang di sekitar. Perubahan diri bagi seorang muslim akan berdampak positif terhadap lingkungan sekitar, karena dilandasi dengan misi suci dari Ilahi. Pada posisi ini, manusia yang berusaha mengubah diri lebih baik sedang melakukan perjuangan untuk keluar dari kelemahan yang membungkus dirinya.

Kemudian, pesan suci itu terbaca kembali, ”Mengapa kalian tidak berjuang di jalan Allah, sedangkan kaum lemah tertindas, baik lelaki, wa­nita, maupun anak-anak bermohon agar mereka dikaruniai penolong dan pelindung dari sisi Allah” (QS Al-Nisa [4]: 75). Ayat ini mengindikasikan keniscayaan berjuang di jalan Allah dan tanggung jawab melindungi kaum lemah. Perjuangan yang dilakukan karena Allah dan yang digerakkan nilai-nilai suci itulah yang memajukan umat manusia dan per­ada­b­­an­­nya sekaligus mengukir sejarah­nya dengan tinta emas.

Kalau individu, umat, masyarakat atau bangsa mam­pu mengisi ruang dan waktu yang berlalu dalam hidup­nya atas dasar kesadaran Ilahi, di sana­lah dia memperoleh kebahagiaan otentik. Alquran menegaskan, ”Mereka itulah yang akan menerima lembaran sejarah hidup­nya de­ngan tangan kanannya.” (QS Al-Isra’ [17]: 71). Menurut A Munir Mulkan, perubahan adalah salah satu gerakan dakwah yang akan menghasilkan kondisi positif. Diantaranya tumbuh kemandirian hingga berkembang sikap optimis, tumbuh kepercayaan diri sehingga dapat mencapai tujuan hidup ideal, berkembangnya suatu kondisi sosial, ekonomi, budaya, politik, dan IPTEK sebagai pertanda adanya peningkatan kualitas hidup. (Nanih Machendrawaty & Agus Ahmad Safei, 2001:35).

Ketika kita berusaha mengubah diri dan bangsa lebih baik, itu berarti sedang melakukan dakwah. Proses dakwah tak hanya mengandalkan aktivitas lisan, tetapi juga menyertakan aktivitas amal dan perbuatan. Utamanya, aktivitas yang mengarah pada perubahan bangsa hingga berubah lebih baik kondisinya. Itulah kenapa ajaran optimisme dalam Islam acapkali memenuhi lembaran kitab suci umat Islam. Artinya, kita sewajibnya memandang masa depan dengan pandangan positif, visioner dan optimis. Wallahua’lam

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: