5 January 2010

Fungsi Pakaian Muslim

BAGIKAN
Pelarangan jilbab oleh sebuah perusahaan adalah bentuk dari kesalahan memahami fungsi dan tujuan berpakaian. Apalagi jika ditinjau dengan kerangka kemanusiaan. Hal itu sangat bertentangan dengan semangat kebebasan dan hak asasi manusia (HAM). Menurut Al-Quran, Nabi Adam a.s. ketika masih berada di surga diperingatkan oleh-Nya, “Hai Adam, se¬sung¬guhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu. Jangan sampai ia mengeluarkan¬mu berdua dari surga, sehingga menyebabkan engkau bersusah payah (dalam memenuhi ke¬butuhan sandang, pangan, dan papan).” (QS Thâ Hâ [20] : 117).


Memang, salah satu persoalan yang me¬nyang¬kut peradaban umat manusia, bahkan kebutuhan pokoknya, ialah persoalan san¬dang. Pakaian berkaitan bukan saja dengan etika dan estetika, tapi juga dengan kondisi sosial eko¬nomi dan budaya, bahkan iklim. Tidak heran jika Al-Quran berbicara tentang masalah ini, walaupun pembicaraannya tak menyangkut mode atau bentuknya. Yang di¬bicarakan Al-Quran adalah fungsi dan tujuan berpakaian.

M Quraish Shihab, berpendapat ada tiga fungsi pakaian yang disinggung Al-Quran: Pertama, memelihara pe¬makainya dari sengatan panas dan dingin serta segala sesuatu yang dapat mengganggu jasmani (QS Al-Nahl [16] : 81). Kedua, me¬nun¬juk¬kan identitas, sehingga pemakainya dapat ter¬pelihara dari gangguan dan usilan (QS Al-Ahzâb [33]: 59). Ketiga, menutupi yang tidak wajar kelihat¬an (termasuk aurat) dan menambah ke¬indahan pemakainya (QS Al-A’râf [7]: 26).

Ketiga fungsi di atas hendaknya dapat menyatu pada pakaian yang dikenakan. Identitas seseorang dan garis-garis besar cara berpikirnya dapat diketahui dari pakai¬an-nya. Pakaian seseorang bahkan dapat me¬me¬ngaruhi tingkah laku dan emosinya. Orang tua yang memakai pakaian anak muda dapat mengalir di dalam dirinya jiwa anak muda. Bila seseorang memakai pakaian kiai, dia akan berusaha berlaku sopan, demikianlah seterusnya.

Peranan pakaian begitu besar, sehingga tidak jarang ada negara yang mengubah pa-kai¬an militernya setelah mengalami ke¬kalah¬an. Bahkan, Turki melarang pemakaian tarbûsy dan menggantinya dengan topi ala Barat, karena Kemal Attaturk menilai bahwa tarbûsy tersebut adalah bagian dari pemikiran kolot yang menghambat kemajuan masya¬ra¬kat¬nya. Demikian besar pengaruh pakaian pada diri seseorang dan masyarakat.

Adalah suatu kekeliruan jika mengingkari pentingnya pakaian, tetapi lebih keliru lagi yang tidak selektif dalam memilih pakaian yang sesuai dengan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Namun demikian, sa¬ngat keliru mereka yang mengabaikan petunjuk-pe¬tunjuk agama dalam hal berpakaian. Salahlah apabila perasaan seseorang di-singgung karena memilih pakaian yang di¬anggap¬nya baik. Tetapi lebih salah lagi jika me-larangnya memakai suatu pakaian yang dinilai oleh agamanya baik.

Allah Swt. berfirman, “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS Al-A’râf (7) : 26). Wallahua’lam
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: