28 January 2010

Ngeblog Itu…Kompasiana; Lebih Beretika Dong!

BAGIKAN
Teman: “Dari mana saja kamu. Kemarin, kok, nggak datang ke kantor?”

Saya: “Maaf, kang, saya ketiduran. Ngeblog sampai subuh!”

Teman:“Ah..kamu memang kurang kerjaan. Mendingan menulis di media cetak daripada di blog. Selain terkenal….dapet honorarium lagi.”

Saya : “Ini soal idealisme, kang. Bagi saya eksistensi di dunia maya juga penting. Ini era internet. Semua orang telah terintegrasi dengan dunia maya ini. Lihatlah kekuatan dunia maya yang mampu mengumpulkan sekitar satu milyar untuk Prita Mulyasari. Soal materi adalah nomor kesekian…”


Teman: “Bagi saya, ngenet adalah kebutuhan tersier. Bukan kebutuhan primer. Cukup bisa buka email, menulis surat elektronik dan mengirimkannya. Sekali-kali chating dengan penulis. Tak lebih dari itu.”

Saya : “Pantesan nggak maju-maju pengetahuannya…(ini dibisikkan dalam hati saja)”
Teman: “Sudahlah…, sekarang kamu nggak boleh ngerjain projek saya. Tak percaya lagi aku padamu, kawan.”

Saya : “…………..(hanya terdiam)”

***

Percakapan saya dengan sang teman, aslinya bukan seperti di atas. Tetapi substansinya sama. Sejak saya keranjingan memposting artikel, curhatan, dan wacana lainnya; sejak itu pula saya larut di bloghosphere. Kendati masih kemarin sore menjadi blogger, saya merasakan perbedaan rasa, yakni hadirnya kebebasan dalam berekspresi. Tentunya sebelum saya menjadi anggota kompasiana, tak begitu tahu dengan etika seorang blogger. Yang saya tahu, memposting, memposting, dan memposting. Namun, setelah bergabung dengan komunitas blogger di kompasiana, saya jadi sedikit tahu ikhwal etika bertukar informasi dengan khalayak.

Saya tak boleh menjadi plagiator, pencuri tulisan orang lain, mengetengahkan ide secara elegan, tidak menyinggung SARA, dan berbagai aturan lainnya. Orang yang berjasa membentuk wawasan saya tentang blogging, ialah kang Pepih Nugraha. Saya mengenal beliau dari tulisan-tulisan di Koran Kompas tentang new media. Setelah beberapa bulan, sejak mengenal kang Pepih melalui artikel di media cetak, akhirnya lahirlah kompasiana.com. Terobosan baru, waktu itu saya berteriak dalam hati.

Blog keroyokan adalah istilah yang sering digunakan oleh kang Pepih ketika menyebut kompasiana.com. Hal itu memang betul adanya. Sekarang, kompasiana menjadi ikon baru new media di Indonesia, yang murni kontennya diisi publik. Dari kompasiana ini juga, saya yakin bakal lahir buku yang berasal dari kompasianer (sebutan pengguna kompasiana). Maka, menulislah di kompasiana agar lebih beretika…lebih beradab…dan lebih mengenal peradaban mayantara ini.

Kompasianer, tak sekadar berwacana tentang kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Namun telah melakukan sesuatu yang besar. Bertukar pikiran untuk memengaruhi kebijakan pemerintah Indonesia, yang kurang pro-rakyat. Perubahan, kata Hasan Hanafi, bermula dari revolusi pemikiran. Nah, kompasiana memberikan sepetak ruangan bagi publik untuk menyimpan ide dan gagasannya. Mudah-mudahan ke depan, anak cucu kita masih bisa menggunakan kompasiana sebagai media menyuarakan aspirasi masyarakat terpinggir.

Kalau perlu, nanti 40, 50, 60 tahun ke depan, ketika Tuhan masih memercayakan saya untuk terus hidup; pasti saya masih setia memposting tulisan di kompasiana. Sebab, kompasiana telah melahirkan gen baru dalam diri saya: berbagi tanpa pamrih tentang segala sesuatu. Selain itu, menjadikan saya lebih beradab! Nah…betul juga kalau kini kita wajibulkudu mulai berkampanye….Ngeblog Itu…Kompasiana.

Silakan berkunjung dan mendaftar di www.kompasiana.com, agar kita menjadi manusia beradab. Saya merasakan kekuatan baru dari new media besutan barudak kompas ini. Percayalah saya merasakan menjadi penulis sungguhan karena menulis di kompasiana, dalam waktu sekejap terjadi interaksi memukau antara penulis dan pembaca!!!!!!

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: