6 January 2010

Non-Muslim adalah Saudara

BAGIKAN
“Allah tidak melarangmu sekalian berbuat baik dan memberi sebagian dari hartamu kepada yang tidak seagama denganmu, selama mereka tidak memusuhimu dalam agama atau mengusir kita dari kampung halamanmu” (QS Al-Mumtahanah [60] : 9).

“Saudara” dalam bahasa Al-Quran adalah akh. Kata ini pada mulanya berarti “per-sama¬an dan ke¬¬serasian”. Karenanya Al-Quran surah Al-Isra’ ayat 27 mempersaudarakan pemboros de¬¬ngan setan karena sifat mereka sama. Di da¬lam Al-Quran kita temukan kata akh dalam ben¬tuk tunggal sebanyak 52 kali, sebagian dalam arti saudara kandung, lainnya lagi da¬lam arti sau¬da¬ra sebangsa meskipun tidak se¬agama, se¬perti firman Allah, Kepada kaum ‘Ad (yang durhaka) diutus saudara mereka (Nabi) Hud (QS Al-A’râf [7]: 65).

Agama berpesan bahwa hubungan antar¬manusia adalah hubungan persaudaraan, bu-kan hubungan take and give. Perlakukan¬lah orang lain sebagai saudara, bukankah kita semua dari satu ibu dan bapak? Bukankah kita semua sakit bila dicubit dan senang bila di-hibur? Persaudaraan ini menuntut hubungan yang serasi dan jalinan kasih sayang: “Kunjung mengunjungilah, bertukar hadiahlah,” sabda Nabi saw. memberi contoh beberapa cara.

Itulah sebabnya agama tidak melarang pe¬¬nerimaan maupun pemberian hadiah dari dan kepada siapa pun selama hal tersebut tidak melahirkan pencemaran akidah. Nabi sendiri menerima hadiah dari penguasa Mesir yang beragama Kristen, misalnya, berupa seorang gadis bernama Mariah yang darinya lahir putra beliau, Ibrahim.

Pada suatu ketika, ada sahabat Nabi saw. yang telah terbiasa memberikan bantuan ke-pada non-Muslim, bermaksud menghenti¬kan bantuannya dengan harapan penghentian itu akan mengantarkan mereka memeluk Islam. Per¬hatikan bahwa mereka bersikap pasif, bu-kan memberi agar mereka menukar keyakin¬an¬¬nya. Maksud para sahabat ini dengan tegas dilarang, melalui Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 272, Bukan urusanmu memberi petunjuk ke¬¬¬pada mereka (menjadikan mereka Muslim), Allah yang memberi petunjuk (lanjutkan pem-beri¬an itu, karena harta apa saja yang kita beri¬kan meskipun kepada orang yang tidak se-agama) maka ganjarannya adalah untuk kita sendiri.”

Dengan kata lain, ayat di atas menegas¬kan bahwa “janganlah mengaitkan hadiah atau bantu¬¬an dengan keimanan atau ke¬kufur¬an, te¬tapi pemberian itu semata demi per¬saudara¬an atau kemanusiaan”. Al-Qur¬thubiy da¬lam tafsirnya menulis, “Ayat ini ber¬kaitan dengan persoalan sedekah, maka seakan-akan pe¬tunjuk-Nya menjelaskan kebolehan bersedekah terhadap non-Muslim.”

Benar, menjalin hubungan kasih sayang dengan musuh adalah terlarang. Namun perlakuan adil terhadap mereka adalah kewajib¬an, demikian Al-Quran surah Al-Mumtahanah ayat 8 menegaskan. Ayat ini turun berkenaan de¬ngan keengganan Asma’ ibn Abu Bakar r.a., me¬nerima hadiah dari ibunya yang ketika itu belum memeluk Islam. Mengetahui hal itu, Nabi Mu¬hammad Saw. memerintahkannya un¬tuk me¬nerima dan berbuat baik. Bahkan, lanjut¬an ayat itu menyatakan: “Kunjung mengunjungilah, bertukar hadiahlah,” Itulah sebagian cermin persaudaraan yang diajarkan Islam. Wallahua’lam
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: