4 January 2010

Spirit Perubahan Tahun Baru

BAGIKAN
Siapa orangnya yang tak ingin hidup lebih baik. Setiap manusia menginginkan hari ini lebih baik ketimbang hari kemarin. Pemain sepak bola sekelas Lionell Messi juga berharap dapat meningkatkan performa permainannya kendati sudah memperoleh gelar pemain terbaik dunia 2009. Seorang penulis tak dapat mengklaim apa yang ditulisnya telah mencapai kesempurnaan. Sang ulama pun sama. Setiap hari aktusnya mesti diarahkan demi perbaikan. Menjadi lebih baik adalah misi suci setiap manusia. Mewujudkan misi tersebut akan mengantarkannya pada puncak kepuasan eksistensial. Kepuasaan yang tak hanya bersifat semu, duniawi dan manusiawi, tapi dibarengi kepuasan ilahiyah nan abadi. Kalau kita mengaku sebagai manusia beragama!

Dia (Allah) merupakan awal mula kebaikan. Ketika setiap orang berusaha memperbaiki aktus hari ini hingga lebih baik daripada hari kemarin, itu berarti keberkahan-Nya berada di pelupuk mata. Kiranya itulah mengapa Tuhan menciptakan waktu. Dengan kehadiran waktu, manusia diharapkan sadar atas fungsinya di muka bumi. Bagi umat Islam, awal kesadaran atas waktu bermula pada bulan Muharram yang baru mencapai hitungan 1431. Pada Januari kali ini, hitungan tahun Masehi baru menginjak 2010. Adakah yang baru dari perubahan tahun Hijriyah dan Masehi ini?

Bagaimana dengan semangat hidup? Bagaimana dengan perubahan bangsa? Bagaimana entitas kebahagiaan? Bagaimana dengan landasan filosofis hidup? Bagaimana dengan praktik hidup yang sedemikian angkuh, sombong, serakah, dan superior? Rendahkah orang yang tertidur di kolong jembatan? Tampilan jasadiyahkah yang dijadikan dasar penilaian dalam berinteraksi? Adakah semua itu telah berhasil kita perbaiki? Pada tahun baru ini, mampukah memperbaiki kualitas hidup secara positif?

Seperti halnya pemberantasan korupsi yang hanya menjadi bahan dasar mulut berbusa. Pun begitu dengan perubahan dalam hidup. Selain wacana dibutuhkan pula perangkat aktivitas yang bersifat praksis. Maka, tanpa konsistensi yang teguh terhadap pemberantasan korupsi jangan harap bangsa ini mampu sejajar dengan bangsa yang lebih maju. Tanpa kesungguh-sungguhan melaksanakan perubahan ke arah yang terbaik jangan berharap ada setitik cerah transformasi diri dalam hidup ini.

Hijriyah dan Masehi

Berdekatannya perayaan dua tahun baru (Hijriyah dan Masehi), diharapkan ada secercah harapan transfomatif bagi kelangsungan NKRI. Tahun baru hijriyah harus diawali dengan hijrah-nya bangsa ini dari kondisi kurang baik menjadi baik. Kemudian, tahun baru masehi adalah awal kita menengok tingkah laku di tahun yang lalu dan menatap optimis apa yang hendak dilakukan pada tahun yang akan datang.

Seperti seorang siswa sekolah yang baru naik kelas ke tingkat yang lebih tinggi.
Pertama kali seorang memasuki kelas baru dan meninggalkan kelas lama, ada semacam kebiasaan di kelas lama yang tanpa sadar dibawanya ke kelas baru. Tahun baru juga begitu rasanya. Kita memasuki tahun baru, tapi ada kebiasaan tahun lalu yang sulit diubah, direkonstruksi, dan bahkan diganti dengan kebiasaan yang lebih baik. Dan, tugas kita adalah menyelami secara reflektif dan kritis apakah ada tingkah laku yang semestinya diubah, diganti, bahkan harus dibuang dan ditinggalkan.

Kecanggungan kultural, biasanya akan menyertai pergantian tahun baru. Gegap gempita perayaan tahun baru tidak menggambarkan kondisi jiwa bangsa seluruhnya. Di tengah kegembiraan, belum tentu setiap orang merasakan kegembiraan tak terkira. Riuh-rendahnya suara terompet dan taburan kembang api pada pukul 00.00 juga tak mewakili kegembiraan bangsa. Bukan hal mustahil kalau di tengah perayaan yang gerlap gemerlap itu ada sejumlah warga yang terganggu, tak bisa makan, dan tidur beralaskan tembikar di trotoar jalan raya, yang pasti dipadati pengendara bermotor.

Dalam mitologi Yunani kuno, awal tahun baru masehi diberi nama Januari, karena diambil dari nama Janus, salah satu dewa yang memiliki dua wajah. Kenapa Januari memiliki dua wajah? Sebab, di satu sisi bulan ini berdekatan dengan tahun 2009 dan juga babak awal memasuki tahun 2010. Biasanya, ada peralihan budaya di awal tahun (Januari). Kita bakal merasa susah menanggalkan kebiasaan di tahun 2009, tapi cahaya optimisme meruak setiap kali memandang kalender yang berganti dengan angka 2010.
Renungan kasih kebangsaan

Malam tahun baru harusnya diisi dengan refleksi, tafakkur, dan renungan kasih terhadap kondisi bangsa yang sedemikian lelah dengan soal sosial-politik, ekonomi, budaya, dan tetek bengek soal lainnya. Jengah hati ini dengan praktik korupsi. Gelisah jiwa ini dengan bertebarannya kemiskinan dan kesenjangan. Golput adalah filsafat politik protes dari sebagian bangsa yang mulai tak percaya kepada partai politik. Ini bukan soal cerdas ataukah tidak bangsa Indonesia. Tapi, soal kejujuran dan keteguhan memperjuangkan aspirasi rakyat yang mulai memudar dari wakil rakyat bagai air laut yang mulai tak terasa asin lagi.

Mari kita tengok filsafat hidup kura-kura. Ada tanda keawasan dan kewaspadaan yang mesti ditiru pada binatang ini. Kebijaksanaan hidup lewat tempurung yang selalu dijadikan tempat berlindung, berefleksi, merenung, dan mengoptimalkan kekuatan diri. Sambil mengawasi segala marabahaya yang setiap saat pasti mengancamnya dari luar menjadikan hewan bijaksana ini memiliki usia panjang. Artinya, kesejahteraan Indonesia akan panjang, kalau para pejabat awas dan waspada terhadap bahaya yang mengancam stabilitas nasional dari dunia luar.

Kekuatan kolektif sekumpulan semut juga patut diperhatikan. Kerendah-hatian sebatang pohon bambu dan setangkai padi juga, adalah kesederhanaan yang mesti dipegang para pejabat negara. Kedermawanan kerang berbalut mutiara juga adalah ajaran yang mesti memenuhi aktivitas di masa mendatang. Kesabaran menggelindingkan batu besar dari Sisifus, adalah soal ketekunan yang harus mulai dilaksanakan bangsa ini. Mudah-mudahan di tahun baru, kita mampu berkaca pada tahun lalu, untuk kemudian berjalan awas di tahun yang baru.

Itulah semangat yang harus mulai ditanamkan dalam jiwa ketika membangun Indonesia tercinta. Selamat tahun baru 1431 H dan tahun baru 2010. Semoga kita bahagia selalu menjalani tiap detik, menit, jam, dan hari di tahun yang akan datang. Sebab, tahun adalah sekumpulan ruang dan waktu yang didalamnya, kita harus mulai mencelubkan diri memberikan arti bagi kehidupan. Bukankah mendiang bung Karno pernah mengajarkan, bagi bangsa pejuang tidak ada stasiun terakhir ? Wallahua’lam
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: