23 February 2010

Mengenang “Bad System”

BAGIKAN
Menyambung notes (catatan) saya kemarin, barudak “Bad System” jadi kawan menambah wawasan seputar “Punk N Skins”. Asep “Oncom” saat itu jadi guru pertama yang menjejali otak saya dengan genre Punk Rock. Karakter musik “BS” saat saya masih menjadi pembetot bass, memang agak nyantai. Hit song (hehe seperti band label saja) yang kerap kami bawakan pada saat latihan adalah, wah...lupa lagi nih. Pokoknya dibawakan band Keparat dan Runtah.

Keras, anarkis, chaos, dan memberontak! Itulah kesan pertama saya saat berinteraksi dengan demo mereka. Apalagi kalau mendengarkan kembali demo Runtah berjudul, “Mega”. Demo band asal Bandung ini menjadi menu pembuka dan penutup kala latihan di studio Mega.



Akhirnya, atas washilah Oncom juga saya mengenal genre musik underground Oi. Kami sering membawakan lagu “The Boot Go Marching In”...(halah lupa lagi...nama band-nya nih). Yang jelas, saya jatuh cinta dengan semangat barudak “Skin Head”. Sesekali membawakan demo bikinan sendiri. Kadang juga lagu yang diliris The Ramones. Kalau band lokalnya, siapa lagi kalau bukan “Bambu Runcing”? Setelah resmi keluar dari “BS” saya bergabung dengan Datoek, Riweuh, Kodel; mendirikan band aliran Oi dengan nama “Teuing”.

Filosofinya? “Teuing ah teu apal!!!!” Ini akibat virus Skin Head ditularkan oleh Asep “Oncom” (gitaris Bad System). Uped juga, katanya pernah kesemsem dengan scene ini, lho?! Tak tahu sekarang nasib itu si uped. Masih jadi “Skin Head” atau rambutnya sudah dikriwil-kriwil? Karena pasti, istrinya akan bilang, “Kang...panjangin dong rambutnya. Biarrrrr!” (maaf disensor..hehehe).

Kembali ke jalur yang benar. Oncom bagi saya, dan “Punk n Skins” waktu itu telah memengaruhi hidup. Mulai ketularan “Tarman” (maksudnya “tara mandi”), ketularan juga sifat pemalu ketika berhadapan dengan cewek, dan ketularan ngerokok merk “Ardath”. Kalau “ngejage”...tak pernah rasanya. Paling menjadi seksi PDAM (penyedia air minum) saja. Kalau lagi ketiban untung gede, menghabiskan kacang garuda lho.

Tetapi yang lebih saya sukai adalah soal semangat pemberontakan yang menjadi ideologi gerakan “Punk n Skins”. Saya menyebut “Punk n Skins” sebagai gerakan, karena tak sekadar bermain musik; tapi menyuarakan kritik sosial. Bahkan, kritisisme terhadap rasisme, fasisme, dan pemerintahan otoriter. Catatan merah, oncom kalau main di panggung anarkis abis, chaos, dan paling suka memainkan lagu sebanyak-banyaknya. Di Banyuresmi, misalnya, oncom chaos dan berutal!!! Pasti masih ingat ya? Tak heran jika waktu itu, “Bad System” saya sebut sebagai band Anarcho-punk.

Oncom dan barudak “BS” juga waktu di pesantren, menggagas semacam “Magazine” yang memuat kontent “Underground movement” versi pesantren. Saya masih ingat, waktu itu diphoto depan sumur di rumahnya si “Ehex”. Untuk kaver depan Zine, katanya. Zine tersebut juga dicetak dan diphoto copy, kemudian disebarkan di sekitar asrama pesantren. Kadung saja, semua santri heboh (angkatan oncom doang).

Eh iya, Zine-ya masih ada nggak ya???? hanya sekadar mengenang ni ye...!
Catatan penting: “BS” bukan BARANG SISA. Tapi sekarang, entah saya tidak tahu.

Apakah masih tersisa personil band ini? Kalau saya ikut reunian pun, akan gelagapan; karena sudah tidak dapat memainkan guitar bass lagi. Apalagi, sekarang, dengan “Damn to Decay”-nya Asep “Oncom” piawai bermain guitar. Slogan bermusik Oncom pan, “Salilana Grindcore”. Hmmm...kalau pun terpaksa mungkin perlu brifing kembali di kamar si “ehek” sambil memesan baso aci yang murah meriah. Sesekali bermain krambol....lihat jurus “baling bandung” saya oke. Insyaallah kalau ada izin dari-Nya. Hehehe.....

Bersambung..................!


BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: