18 February 2010

Nostalgia Underground Movement #1

BAGIKAN
Saya sering lupa. Ini risiko jadi manusia. Tuhan, sih, bikin manusia yang cenderung berbuat salah dan lupa. Jadi ketika Kaka Jibril (saya usulkan namanya ditambah Mikail) meminta tulisan biographi, lupa bahwa 1998an pernah jadi pemain band. Susah sebetulnya mengembalikan pikiran saya ke ruang dan waktu 12 tahun ke belakang. Saya tidak ingin terjebak pada romantisme historis. Seperti halnya agamawan yang menganggap penafsiran ulama berabad-abad sebagai sumber pijakan. Apalagi ini pengalaman yang coba saya kubur dalam-dalam beberapa tahun ini.


Oke...untung Tuhan ngasih memori pada saya. Berkat ini memori, yang space-nya sampai triliunan Terabyte, saya (Anda dan manusia lain juga punya lho) dapat mengingat lebih kurang 2 tahun menjadi personil band “Bad System”. Hehe..saya senyum sendiri. Ketika pukul 13.00 selesai shalat Zhuhur. Selesai mandi. Selesai makan di dapur. Selesai makan krupuk satu bungkus, karena Bi Ade kalah cepat dengan saya. Orang lain kebagian dua buah krupuk saja. Saya dkk sampai dua bungkus. Bersama Ali Datoek, Rizki “Riweuh”, Hamzah “Tarman”, Azat “Bontot”, dan saya sendiri. Kerupuk dua bungkus itu dihabiskan di ruangan sebelah dapur. Anda pasti tahu ruangan kelas mana yang sering kami gunakan untuk membabat habis kerupuk itu (NB: untuk santri Bentar saja).

Saya menangis...kasihan juga itu kerupuk. Tidak punya dosa, kok, dibabat habis. Sekarang..., berdosa rasanya saya. Apalagi ketika UG (organisasi santriwati) banyak yang menolak cinta saya. Sangat merasa berdosa..kadang juga marah pada keadaan. Kok saya tidak dijadikan santri yang guaaanteeeeng-nya sekelas Leonardo Dicaprio? Terhitung...sejak saya menjadi pembetot Bass di “Bad System” malahan bertambah santriwati yang menolak saya. Main band di pesantren tidak ada untungnya. Malahan banyak yang menganggap miring komunitas penggemar musik cadas. Termasuk membenci saya.

Ya, terpaksa (untuk mensublimasi kekecewaan), saya main musik saja. Kebetulan..., Asep “Oncom” kerjaannya menularkan musik cadas di pesantren. Musik yang dulu, lebih dikenal dengan “pemberontakan” itu menjadi perlabuhan terakhir ketika saya kecewa atas berbagai kondisi. Saya ingat [sorry tahunnya lupa], main pertama di Gor Bulutangkis, Banyuresmi, membawakan hit song dari band Runtah, yakni “Posher”. Brutal (meskipun musik acak kadut), chaos, anarki, rebelion, mengagetkan musisi di sana. Mungkin, ketika kami bermain di panggung mereka berbisik, “musik apaan ini? Gandeng amat sih!”

Satu lagi kebiasaan “Bad System” yang tak menyenangkan band lain, kalau main suka merafelkan lagu. Kira-kira sampai sepuluh judul lagu, yang saya juga sudah lupa (apa saja judulnya) kerap dimainkan “Bad System”. Pada acara Cinta Damai I juga, “Bad System” merafelkan banyak lagu yang diciptakan sendiri. Ditambah, hit song band Punk
Rock lain saat itu, seperti Jeruji, Turtle Jr, dan Runtah. Acara Cinta Damai I adalah panggung terakhir saya bermain dengan “Bad System”. Kalau perusahaan menyebutnya saya di PHK begitu. Selain itu, saya juga mendirikan grup band “Teuing” yang mengambil genre musik Oi (Skin Head). Band ini juga hanya satu kali tampil pada acara festival musik di Garut Teater (GT). Setelah itu, saya bermain musik hanya dijadikan sampingan. Kalau sedang suntuk mengaji di pesantren, setiap pukul 13.00 mengunjungi basecamp “Bad System” di rumahnya Kurnia Hadi “Ehex”.

Posisi saya di “Bad System” juga digeser oleh Bono, yang kebetulan seangkatan dengan barudak “Bad System” lainnya. Sementara saya, waktu itu baru kelas 3 tsanawiyah, ya? Wah, timpang sekali. Akhirnya saya memutuskan mandiri bikin band sendiri. Tapi kebersamaan kami meskipun makin lekat ketika saya keluar dari “Bad System”. Tidur..., ngerokok, dan saya akan menjawab maaf ketika ada yang menawari...hehehe.

Basecamp “Bad System” sering dijadikan tempat belajar memahami ideologi underground movement. Saya masih ingat dengan konsep “Animal Liberation” yang diusung oleh punker dari Bandung. Mereka menolak “animal testing”, dan memperjuangkan hak asasi hewan/binatang. Mulia sekali, bisik saya waktu itu. Hewan saja sudah dibela. Apalagi hak asasi manusia...! tapi kenyataannya banyak perkelahian muncul di scene mereka. Nonjok “anjing” dilarang....sementara nonjok manusia...itu dibilang pembebasan. Ini yang tidak saya suka. Punker sejati.., tentunya mengetahui kemana arah gerakan scene mereka, yakni menyuarakan penindasan terhadap kaum proletariat.

Unik memang kalau kaum santri ada yang bermain musik cadas seperti ini. Shalat lima waktu jalan terus...kadang mempraktikkan fiqih ibadah, Jama'-Qashar. Hehe...sok sarolat keneh euy????? mening siga baheula...biar ngeband asal nyantri...hehe.

Bersambung......
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: