11 March 2010

Gini-gini Juga Pesepakbola Kampungan

BAGIKAN
Dulu, selain Volly Ball, olahraga yang saya gemari adalah sepakbola. Masih ingat di memori saya tersimpan rapi kenangan bagaimana mengolah si kulit bundar hingga menjadi goal. Ketika cahaya matahari menyoroti bumi dengan panasnya, dibalut keringat yang asin seasin air laut, saya bersama kawan-kawan di desa asyik menggiring bola.
Di kampung saya, warga di sana kerap memanfaatkan pesawahan yang kering untuk bermain sepakbola sampai musim hujan tiba. Bahkan kebiasaan bermain bola mengalahkan semua aktivitas. Dari mulai ibadah (seperti shalat) sampai rutinitas keseharian (misalnya makan) terlupakan begitu saja. Pantas, kalau kang Jalal pernah bilang, sepakbola telah menjadi semacam agama buat manusia.

Kenapa saya dan kawan-kawan di kampung lebih menyukai "olahraga rempugan" ini? Kolektivisme lah yang menyebabkan sepakbola digemari setiap orang. 22 pemain saling menyerang, saling mengoper, saling berlomba memasukkan goal ke gawang lawan. Kalau boleh dibandingkan, sepakbola kampungan lebih rame daripada sepakbola nasional (yang prestasinya kian merosot). Pernah suatu ketika tim saya mengalahkan tim lawan sekampung dengan angka telak 12-0. Istilah di kampung saya, "sepakbola salosinan". Bisa dikatakan menang apabila tim lawan sudah kalah dengan agregat 12-0.

Saya biasa bermain di posisi bek kiri. Kalau tidak bek kiri, paling juga gelandang serang kiri. Bahkan pernah beberapa tahun menjadi playmaker. Ini tidak bohong. jujur, sebelum lutut saya terkilir (cedera) saya selalu menjadi starter di tim kampung saya dan tim sepakbola pesantren. Namun, karena saya berada pada kelas pesepakbola kampungan, akhirnya karir sepakbola saya berakhir ketika mengalami cedera. Ya itu tadi, karena pesepakbola kampungan kalau cedera, tidak mendapatkan perawatan maksimal dari tim management. Akibatnya, tamat deh, riwayat sepakbola saya.

Tapi, kalau di kampung ada pertandingan sepakbola dengan kampung lain, saya masih suka bermain bola. Meskipun tidak selincah dulu. Kalau dapat bola, sekarang hanya dapat menggiringnya sejauh 3 meter. Kalau tidak dioper ke teman. Ya, saya langsung melesakkan tendangan kaki kiri, yang kerap berbuah goal. Tapi, banyaknya melenceng. hehe

Sekarang, ketika saya sudah berhenti total bermain di lapangan sepakbola. Hobi baru muncul, yakni bermain di lapangan futsal. Ah, bukan menang yang sekarang ada di tujuan inti bermain sepakbola. Melainkan kesehatan dan kebugaranlah yang menyebabkan saya masih bermain bola di lapangan futsal di stadion Erlangga, Cibiru, Bandung. Selain menulis, membaca; tentunya kesehatan fisik juga mesti dijaga. Ya, salah satunya dengan memanfaatkan permainan yang bersifat kolektif ini.

By The Way, ketika bermain bola, orang yang terlihat alim dan bijaksana, akan dengan mudah membuat cedera lawannya.Ini terbukti pada teman saya. Dalam keseharian ia terkenal kalem, Cool, arif, dan bijaksana. Tetapi ketika berada di lapangan, jurus elang kerap digunakan ketika mendang bola atau memarking lawan yang sedang menguasai bola. Kasihan lawan saya itu, karena harus bangkit tertatih-tatih dijegal teman saya.

Wah, itu mungkin pemain yang terkategori kampungan. Ah, tapi atmosfer persepakbolaan negeri kita juga begitu rasanya. Mantan pemain nasional, Anang Ma'ruf, mengalami nasib yang sial. Ketika tangannya patah karena dijegal oleh pemain sekelas Liga Super. Jangan-jangan kalau orang Eropa melihat permainan sepakbola kita, mereka menyebut pemain-pemain Indonesia sebagai pesepakbola kampungan. Hehe...tapi kenapa Persipura kalah telah 9-0? Saya tak mengerti dengan pesepakbola kita. Garang di kandang...pecundang saat tandang....apalagi ketika berada di negara lain. Penjaga gawang menjadi bulan-bulanan tendangan pesepakbola lawan.

Hahahaha.............(Sekian dari catatan dari pesepakbola kampungan)...

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: