16 March 2010

Membagi; Bukan Menumpuk-numpuk!

BAGIKAN
Nju di Papandayan tahun 2000
Obrolan sore tadi, dengan sang teman membikin hati berkedip-kedip. Susah betul menangkap sinyal kehidupan yang kadang kembang kempis dalam hidup ini. "Benarkah kaya lekat dengan kelimpahan materi? Kalau itu yang kau kehendaki, berarti Agama tak berfungsi alias mati. Adakah pemahamanmu yang baru, yang dapat mengobati hatiku, yang saat ini tengah gelisah? Pasalnya, aku hidup di tengah harga diri tinggi bernama masyarakat metropolitan, Jakarta."



Hmm, rasanya pertanyaanmu sulit aku jawab. Bukankah, manusia kerap silau dengan kelimpahan materi? Tak sedikit yang menggadaikan harga diri demi kelimpahan tersebut. Tak sedikit juga kelimpahan membuat manusia kalut. Bahkan, banyak juga yang mengandalkan kelimpahan untuk memuaskan keserakahan. Realitas ini membuktikan, kaya diartikan dengan kelimpahan materi.

Namun, bagiku, kaya tak seperti itu. Kaya, merupakan terma yang begitu kompleks sekaligus komplit. Ketika engkau bertemu dengan sang pengemis, kemudian memberikan koin seratus rupiah; engkau memiliki kekayaan melebihi jutaan dolar.

Hidup ini belantara hutan. Ada beragam hewan buas yang siap menerkam. Menghajar. Menghantam. Dan siap mencelakaimu. Engkau hanya perlu memiliki sistem pertahanan hidup agar mereka tak mencelakaimu. Pun dengan kekayaanmu. Duit lima juta yang engkau habiskan untuk berpoya-poya tak lebih berharga dibandingkan dengan seribu perak yang engkau habiskan untuk seorang fakir miskin. Makanan lezat tak lebih berfaedah ketimbang tahu dan tempe yang kau bagikan dengan tetangga miskin.

Lihatlah ulama kita hari ini. Hukum menjadi sumber pesanan bagi sang pemilik modal. Hukum juga menjadi inisiator laku korup. Bukankah pak Jusuf Kalla pernah melontarkan istilah "korupsi kebijakan"? Bukankah haram, makruh, dan mubah diberikan patokan harga? Begitulah, ujarku pada sang teman, kalau kaya didefinisikan dengan kelimpahan harta, yang bersifat material. Begitu juga kalau manusia tak mendedah hatinya dengan dasar keruhanian. Bagiku, kaya, adalah tergantung pada iqtikad yang mulia dalam memperlakukan harta yang kau miliki sebesar apa pun. Kalau agama memerintahkan kaya, menumpuk-numpuk harta; aku begitu tak setuju. Agamaku, Islam, hanya memerintahkan membagi-bagikan harta yang kadang kau cintai melebihi Tuhan.

Dan, itulah kenapa Islam, agamaku, menganjurkan umatnya untuk meraih keberdayaan ekonomi. Tentunya agar dia dapat membagi-bagikan hartanya sesuai dengan konteks...."Sekian...terima kasih banyak. Kapan-kapan kita sambung lagi obrolan ini, ujarnya mengakhiri teleponnya.

 

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: