3 April 2010

Assegaf Kenapa Kau Ini?

BAGIKAN
Ada sesuatu yang aneh, dari postingan Assegaf malam ini di visibaru.com. Judulnya, “Peci Putih Menipu Tuhan”. Saya baru sadar, bahwa pernah membaca tulisannya yang terlihat santun pada kisah seorang katolik pembela muslim, di Kompasiana. Faizal Assegaf tak saya percayai memposting tulisan yang agak provokatif dan menebar kebencian. Omjay, yang dalam tulisan Assegaf, diberi gambar seekor anjing sedang menggigit tulang, pantas saja merasa terlihat lemas. Saya mencoba menyelami perasaan Omjay, sahabatku ini, “Kenapa blogger bisa berbuat begitu. Mengatakan saya sebagai penjilat konglomerat?” 


Omjay, adalah Guru yang memegang teguh keikhlasan. Ini bukan berarti saya pro Omjay lho. Ketika sedang saki, Omjay masih bisa berbagi secara ikhlas dengan pembacanya di dunia maya. Produktivitas Omjay juga terwadahi berkat adanya blog social network semacam kompasiana. jadi, tak salah kalau omjay merasakan kompasiana sebagai tempat berkaryanya. Kalau pun Omjay sudah tiada di muka bumi ini, dengan merengek pada Tuhan — di Surga sana — ia akan meminta jaringan internet dengan berbekal notebook nomor satu di kahyangan.

Memuji orang lain, dalam agama Islam, bukan hanya diperuntukkan bagi sesama muslim saja. Suatu hari, Rasulullah pernah memberikan pujian kepada kaum Yahudi. Bahkan, dalam Al-Quran saya pernah menemukan kabar bahwa Bani Israil itu orangnya pintar-pintar. Ketika Omjay menyebut Jacob Oetama sebagai Guru Bangsa. Memang itu dapat dibuktikan secara riil. Kompas — perusahaan JO — telah ikut menciptakan iklim demokrasi dan kebebasan berpendapat di Indonesia. Kalau dia mendapatkan gelar Guru Bangsa, tak bedanya dengan Gusdur dan Buya Syafi’i Ma’arif (dari Islam) yang mendapatkan gelar yang sama dengan Jacob Oetama.

Saya sedikit heran, kenapa ada orang yang pelit untuk memberikan pujian kepada orang lain. Karena blogging lebih mengedepankan aspek emosional; jangan salahkan kalau konten yang ditulis blogger akan lebih banyak mengeksplorasi perasaan. Inilah yang menjadi perdebatan pengusaha perbukuan dulu. Ketika banyak blog yang naik menjadi blook (sebutan buku yang diangkat dari blog). 

Yang harus digarisbawahi dari polemik provokatif dengan Omjay, Assegaf perlu saya ajukan pertanyaan: “Kenapa kau ini hanya menyerang Omjay?” Bijaklah menulis. Jangan terjebak pada hasrat dendam dan nafsu kecurigaan yang kental. Sehingga kau akan menjadi serupa umat yang dikasihi Tuhan. Tidak ada larangan kalau blogger mengagumi seorang tokoh. Tak terkecuali dengan Omjay. Meskipun Omjay seorang muslim taat, tak ada larangan untuk mengagumi dan memuji seorang non-muslim.

Kenapa kau ini Assegaf? Ada motif apa hingga kau berani memposting tulisan yang tidak mencerminkan kebijaksanaan. Tapi, ini negeri yang menjunjung tinggi kebebasan. Tentunya pendapat yang dikemukakan juga mesti berlandaskan pada objektivitas dan etika-norma yang berlaku. Hehe, Al-Ghazali pernah menyinggung hal ini, 900 tahun yang lalu: “Manusia itu ada yang bodoh dan tidak tahu bahwa dirinya bodoh. Ada orang yang pintar tapi tidak tahu bahwa dirinya pintar. Ada yang bodoh tapi merasa dirinya pintar. Ada orang yang pintar tapi merasa dirinya bodoh.” Termasuk manakah seorang blogger yang bisa menyamakan blogger lain dengan hewan yang menyimbolkan kenajisan.

Ada sesuatu yang salah dari cara berpikir Faizal Assegaf. Dalam bayangannya, Jacob Oetama, adalah manusia yang harus dicari celah kelemahannya. Seperti halnya, aktivis Hijbuttahrir yang meyakini bahwa Negara Amerika siapa pun pemimpinnya; negara itu adalah musuh.
Salam damai…



BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: