7 April 2010

Etika Memberi

BAGIKAN

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir,”
(QS. Al-Baqarah [2]: 264).


Satu perilaku mulia nan indah tapi kurang mudah adalah perilaku “memberi”, bukan menerima. Ini telah dicontohkan oleh panutan umat Islam, Rasulullah, sepanjang hayatnya. Saking gemarnya memberi, Rasulullah sampai menangis saat menyaksikan seorang yatim dan miskin. Sampai, Rasulullah menawarkan istrinya, Aisyah, untuk menjadi ibu angkat bagi anak yatim itu saat Idul Fitri tiba. Bahkan, tak jarang demi kegiatan berbagi, Rasulullah rela mengganjal perutnya dengan batu kerikil. Padahal, orang sederajat Rasul, bukan tak punya makanan. Tapi makanan itu diberikan kepada fakir miskin.
Namun, dalam ayat di atas, setinggi apa pun keinginan untuk berbagi – dalam hal ini sedekah – tetap perlu mengindahkan perasaan hati si penerima. Memberi dengan cara menghardik atau memamer-mamerkan apa yang telah kita berikan merupakan perilaku yang dapat mengundang rasa sakit hati si penerima. Karena itu, alangkah lebih baik jika memberi dengan niat ikhlas menolong orang ke luar dari rasa sedih, khawatir, dan resah. Sehingga laku kita nampak terhormat dan elegan. Inilah yang membuat perilaku memberi menjadi tidak mudah. Sebab, sedikit saja tergelincir dari niat, kita malah akan terjebak pada perilaku riya (ingin terlihat baik oleh orang lain).
Indahnya, memberi itu laksana matahari yang menyinari bumi. Bayangkan, dengan cahayanya yang kadang terasa menyengat, matahari melepaskan seluruh makhluk bumi dari ancaman kematian. Tanpa matahari, alam semesta akan kehilangan energi yang mampu memberikan kekuatan untuk bergerak. Hebatnya, setarang dan sebanyak apa pun matahari melepaskan cahayanya, ia tak pernah meminta balasan juga tak pernah membicarakan apa yang diberikannya pada makhluk lain.
Ada pun bagi si penerima, kurang pantas jika menolak pemberian orang atau meminta lebih dari apa yang orang lain berikan. Sebab, menolak rezeki lewat tangan orang lain juga tidak disukai oleh Rasulullah. “Janganlah me­nolak permintaan seseorang, walaupun kamu melihatnya memakai se­pasang gelang emas,” begitulah salah satu sabda Rasulullah, Muhammad ibn Abdullah, berbunyi. Hanya, satu catatan perlu diingat; jangan sampai membuat orang keasyikan dengan kebiasaan menerima pemberian. Sebab, dalam ajaran Islam, praktik meminta-minta tidak begitu disenangi. Rasulullah Saw. berwasiat: “Siapa yang meminta guna memper­banyak apa yang dimilikinya, maka se­sungguh­nya ia hanya mengumpulkan bara api (ne­raka).”
Karena itu, pemberi yang baik adalah pemberi yang sekaligus mampu memberdayakan si penerima hingga mampu hidup mandiri, seperti matahari. Hal ini dikatakan Moeslim Abdurrahman dalam bukunya Islam sebagai Kritik Sosial (1996: 41) sebagai Muslim “organik”. Yakni kegiatan tolong menolong antarsesama yang dapat menciptakan ikatan masyarakat yang teguh di tengah kondisi lemah dari cengkraman modernisasi kebablasan. Dalam arti lain; masyarakat yang mampu memaksimalkan segala SDM dan SDA yang ada untuk menopang kebutuhan hidup masyarakatnya.
Kalau memerhatikan segudang potensi di sekitar kehidupan kita. Banyak sekali hal yang dipandang sepele padahal bisa mendatangkan banyak materi. Karena itu, konsep Moeslim Abdurrahman membangun Muslim “organik” patut menjadi petunjuk guna mewujudkan kesejahteraan hidup. Artinya, tidak ada alasan lagi bagi kita berkeluh kesah dan mengharap belas kasihan orang lain. Bukankah kita pernah mendengar sabda nabi Saw., “Tangan di atas (pemberi) lebih baik dari­pada tangan yang di bawah (peminta)?”
Lebih jauh dari itu, seiring diciptakannya manusia ke dunia ini, Allah Swt. telah menyediakan segala perbekalannya masing-masing. Seperti Allah telah berfirman: ”Dan carilah pada apa yang telah Allah karuniakan kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan,” (Q.S. Al-Qashshash [28]: 77).
Dalam ayat ini, baik si pemberi maupun si penerima adalah sama-sama alat menuai pahala dengan berbagi. Si pemberi mendapatkan pahala karena kedermawanannya. Si penerima mendapatkan pahala karena telah memberi lahan bagi si dermawan untuk berbagi. Karena itu, keharmonisan hidup seperti itu tidak boleh dirusak dengan perilaku yang tidak pantas. Si kaya tidak sombong dengan caranya berbagi. Si miskin tidak menolak dan tidak selalu berharap-harap pemberian orang lain. Sehingga, saling berbagi senantiasa menjadi cerminan perilaku mulia dan indah. Puncaknya, kedamaian dan kerukunan hidup dapat terwujud selaras dengan harapan setiap dari kita. Wallahua’lam

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: