9 April 2010

Garut dan “Surak Ibra”

BAGIKAN
Di daerah perbatasan antara Banyuresmi dengan Wanaraja – kampung Sindangsari Desa Cinunuk – hiduplah sebuah seni pertunjukan yang bernilai historis. Dari tahun 1910 hingga kini, seni pertunjukan itu kerap diadakan secara konsisten. “Surak Ibra” adalah nama dari seni pertunjukan yang dimainkan oleh puluhan orang (60) sampai seratus lebih itu. Kesenian khas warga Garut ini, konon, merupakan reproduksi dari kesenian “Surak Ibra” khas warga Cibatu. Penggagasnya adalah putera dari Raden Wangsa Muhammad, penyebar ajaran Islam di daerah Wanaraja dan Banyuresmi. Makamnya hingga kini masih diziarahi warga dari berbagai daerah.  

Sebagai putera daerah Garut, dan tanpa kebetulan mendengar kisah tentang kesenian ini dari beberapa generasi tua di kampung, saya merasa bangga. Garut, selain pernah menelurkan karya sastra fenomenal ikhwal kehidupan multietnik abad 19 (novel berjudul Fatat Gorut), yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 1998 menjadi “Gadis Garut”. Adalah kebanggaan tersendiri karena terlahir dari daerah yang diprediksi sebagai kabuyutan di masa kerajaan baheula ini.
 
Bahkan, kata orang tua – mereka pasti mendengarnya dari orangtuanya juga – Situ Bagendit pada awal abad 19 pernah menjadi tempat pavorit Ratu Belanda. Charlie Chaplin juga, kabarnya pernah singgah sebentar di daerah yang mendapatkan julukan swiss van java ini. Kenapa Garut dinamai dengan Swiss Van Java oleh bangsa Belanda?
 
Tentunya ada beberapa kemungkinan. Bisa jadi warga Garut sangat ramah pada penjajah seperti halnya rakyat di Negara Swiss, yang cintai damai. Dalam catatan historis, Negara Swiss saat meledak lahir para diplomat ulung. Mereka dengan kesopansantunan, tak kenal lelah memperkenalkan ngera Indonesia pada dunia dengan ramah. Selain pemberontakan di Cimareme terhadap penjajahan bangsa Belanda, Garut juga banyak melahirkan kalangan cerdik yang dekat dengan kalangan penjajah. R Muhammad Musa, Hasan Musthafa, dan yang lainnya. Mereka hanya mengambil kepintaran orang Belanda. Akan tetapi, saya yakin mereka masih memiliki sebercak perlawanan atas laku menjajah bangsa walanda ini. Buktinya, setelah meletus tragedi Cimareme, yang terkenal dengan istilah “Garoet Genjlong” itu…perlawanan terhadap Belanda semakin menguat.
 
Surak Ibra adalah potret perlawanan warga Garut terhadap Belanda dengan pengemasan seni pertunjukan. Sekarang, seni pertunjukan ini mesti kita [warga Garut] pelihara bersama-sama. Jangan lagi terjadi, di daerah Utara Garut ada warga yang terpaksa memakan selain nasi..apa itu? Tak tahulah entah itu camunuk, dage, genjer, oyek dll. Pokoknya, Garut harus sejahtera…karena seperti dibilang orang Arab, sang penulis novel Gadis Garut “bahwa disinilah tetesan surga itu ngeclak…” 
 
“Garut…belong to me…I love full……….!”    
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: