29 November 2018

Lionel Messi “yang dijanjikan”

BAGIKAN
Seandainya sepakbola adalah “Agama” dan dalam setiap agama mesti ada yang membawa risalah; maka Lionel Messi bisa kita umpamakan sebagai seorang Nabi bagi agama baru sepakbola. Puncaknya pada pertandingan besar di Liga Champion kemarin melawan Arsenal. Lionel Messi, yang terlihat main luar biasa; membuat saya berdecak kagum. Sehingga pelatih Barca Pep Guardiola sesumbar, “Tak ada cara untuk mendeskripsikan penampilan Messi. Tak ada kata yang pas. Anda hanya harus melihatnya sendiri.”

Bayangkan, selama 80 menit pertandian lebih, Messi mencetak empat gol dengan pantastis. Saya yang tak terbiasa menjadi pengamat sepakbola – ketika menonton atraksi Messi – dibikin geleng-geleng kepala. Bukan benci. Melainkan takjub atas skill-kemampuan Messi mengolah si kulit bundar hingga membuahkan gol. Namun, di Piala Dunia mendatang apakah dia mampu mengantarkan negaranya, Argentina untuk menjuarai kembali piala bergensi antar Negara ini?

Tak tahulah. Tapi sebagai pendukung fanatik Argentina, saya sangat berharap prestasi Messi di liga Eropa tersebut dapat mengantarkan negaranya menjadi juara. Apalagi, Maradona “si Tangan Tuhan” ialah pelatih tim nasional. Ketika “si tangan Tuhan” berdampingan dengan “sang messiah sepakbola” bukan tidak mungkin akan mengejutkan publik pecinta sepakbola di dunia. Meskipun, beberapa pengamat dan media massa di Argentina meragukan keberhasilan Maradona dan penampilan Messi; saya tetap mendukung Argentina menjadi juara Piala Dunia 2010.

Pada tahun 90 saja Argentina bisa mengejutkan dunia, meskipun pada awalnya tim nasional Argentina harus melalui babak Playoff untuk menjadi peserta piala dunia 1990. Kini, 30 tahun berlalu. Maka bukan tidak mungkin lagi tim Nasional Argentina akan menjadi juara. Setelah Argentina, saya mengidolakan Spanyol, Perancis, Brazil, dan Portugal. Ah, sepakbola pada Juni mendatang akan menjadi ritual “keagamaan” di berbagai penjuru dunia. Para pemain, ibadahnya adalah mengocek dan mengoper bola; kalau bisa mencetak gol. Sementara itu, bagi penonton atau penggemar, cukup hanya dengan sebungkus rokok, berteriak-teriak, kadang mencaci, bahkan sambil menghisap rokok. Mereka seolah sedang melaksanakan ibadah yang sering memenuhi sistem keagamaannya.

Ah, okelah kalo begitu….    
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: