8 April 2010

Mataku

BAGIKAN
Larut sudah malam ini. Aku masih belum dapat terlelap. Menutup rapat mata ini hanya usaha sia-sia. Serasa ada yang mengganjal. Menahan. Bahkan, menaburinya dengan bubuk lada. Mataku hanya berkedi-kedip; perih! Silvia malam itu menggerutu tanpa henti. Tape recorder di kamarnya berkali-kali memuntahkan suara-suara musik terapeutik. 


Alunan instrumental dari sekelas Kitaro hingga Beethoven terdengar menenangkan. Namun, Silvia tetap tak bisa menutup rapat matanya. Ia putus asa. Melamun. Merangkai imanjinasi. Tanpa sadar berbicara dengan sahabat karibnya, Silva. Sahabat yang dulu ditelantarkannya di sebuah pusat rehabilitasi pecandu rokok.
“Hai…” Silva menyapa Silvia terlebih dahulu.
“Hai juga. Ada apa nih. Malam-malam nongol ke kamarku?” jawab Silvia dingin.
“Ah..tidak ada apa-apa. Hanya heran saja.”
“Heran kenapa?” desak Silvia kesal.
“Jam 02.00 kok belum tidur. Apakah sedang menunggu ucapan selamat ulang tahun ya?” rajuk Silva.
“Nggak juga tuh. Aku hanya tidak bisa menutupkan kedua mata”, tukas Silvia sembari curat-coret membuat sketsa mata indah. Mata yang selalu teratur jam tidurnya. Bukan seperti mata yang dimilikinya. 
“Coba, Sil, adakah solusi yang dapat membuat bebanku mengecil.”, Lanjutnya.
“Oh..gampang, tusuk saja pake gunting. Setelah kamu nggak punya mata, pasti tak bakal dipusingkan dengan urusan mata.” Jawab Silva enteng.
Entah ada dorongan apa. Silvia waktu itu, berpikir sebentar. Berdiri. Berjalan ke arah gunting yang tergolek di atas meja belajarnya.
“Simsalabim..” Silvia berteriak keras.
Tanpa jeda yang begitu lama. Kedua mata Silvia sudah berada di atas baskom. Darah mengalir dari gunting yang menusuki kelopak matanya. Tanpa terasa sakit sedikit pun [ingat ini cerita fiktif]. Silvia hanya tersenyum dan mulai berkata pada Silva.
“Betul juga nih, adem, sejuk, tenang, dan nggak pusing. Ternyata memiliki mata sangat membebani.” Kata Silvia sembari berterima kasih pada Silva atas solusi yang diberikannya.
Tapi, tak terdengar suara dari Silva sedikit pun. Bahkan, nafasnya yang bau abu rokok itu tak tercium sedikit pun. Silvia merasa heran dan penasaran. Ada apa gerangan yang menimpa sahabat karibnya itu. Ia kembali berteriak. Berteriak. Dan terus berteriak. Sekeras deburan ombak di pantai Selatan pulau Jawa. Namun, tetap tak ada yang menyahutnya. Sepi. Serasa menjadi penghuni kendi keramat tak berpenghuni.
Akhirnya Silvia tersadar, hingga berbisik: “Andaikan mataku tak kucongkel…aku dapat melihat sekeliling ruangan ini.”
Terus menerus ia berkata seperti itu. Sambil terus juga meraba-raba seluruh ruangan di kamarnya, Silvia, akhirnya, tetap tidak menemukan cungkilan kedua matanya, yang kebetulan sedang berada di dasar perut harimau kecilnya. 
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: