29 November 2018

Membaca Kunci Peradaban

BAGIKAN
“ The man who does not read good books  has no advantage over the man who cannot read them “ (orang yang tidak membaca buku bagus tak ada bedanya dengan mereka yang tak bisa membacanya) -Mark Twain-

Pada dasarnya manusia terlahir dalam keadaan tidak tahu. Kemudian, lahir proses pencarian hingga mengantarkannya pada pengetahuan tentang segala sesuatu. Salah satu pencarian tersebut terdapat dalam aktivitas membaca.

Ungkapan Mark Twain di atas sangat jelas, membaca merupakan kewajiban umat manusia yang berperadaban. Ketika kita tak menyukai aktivitas membaca padahal mampu melakukan, posisinya sama dengan orang yang buta huruf. Sederhananya, kalau ingin mengetahui sebuah Negara atau pemikiran seseorang, kita tidak perlu mengunjungi Negara atau orang tersebut, tetapi bisa mengetahui lewat karya tulis yang dibuatnya.

Membaca tidak hanya identik dengan buku, ataupun karya orang lain dalam bentuk tulisan, akan tetapi saat kita memperhatikan keadan terus memikirkanya itupun sudah dikatakan membaca yaitu dengan cara membaca situasi dan keadaan. Kalau dikaitkan membaca dengan peradaban, tentunya tidak bisa lepas dari kebudayaan. Sebab kebudayaan melahirkan peradaban. Pun sebaliknya, peradaban adakalanya melahirkan kebudayaan.

Seperti dijelaskan Selo Soemardjan dan Soelaeman, kebudayaan ialah karya, rasa, dan cipta manusia. Sedangkan peradaban lebih pada kemajuan dan kesempurnaan. Jelasnya peradaban identik dengan kemajuan yang dihasilkan kebudayaan. Apabila kita hubungkan dengan membaca, sangat erat kaitannya. Karena semua karya, baik itu lisan maupun tulisan akan diketahui dengan membaca. Dan dari budaya membaca ini, setiap manusia berusaha mengukir peradabannya.

Betul apabila ada yang mengatakan, membaca merupakan kunci peradaban dan buku sebagai gudang peradaban. Berdasarkan pengalaman, membaca memiliki nilai dan pengaruh pada sikap seseorang. Ketika seorang anak (sebut saja si A) dididik semenjak usia dini untuk membaca, itu akan berbeda dengan si B yang tidak dididik untuk membaca. Tidaklah heran kalau ada anak usia tujuh tahun sampai hapal Al-Qur’an. Itu terjadi karena adanya aktivitas membaca, sehingga membuat anak tersebut menghafalnya.

Proses membaca akan mengubah dan merubah pola pikir setiap orang, tanpa memandang usia. Sehingga pempukan gizi intelektual merupakan langkah awal  dari tidak tahu menjadi tahu  salah satunya dengan membaca. Untuk menunjang aktivitas membaca  harus ada instrument (pelengkap) yang mendukung, seperti perpustakaan, taman baca, dan sebagainya.
Kehadiran Kampung Belajar yang digagas Roni Tabroni dkk, merupakan bentuk kerja suci dari segelintir anak muda negeri ini. Dengan menjadikan Kampung Belajar sebagai daerah binaan, ke depan diharapkan akan melahirkan tradisi membaca di kalangan masyarakat marjinal. Dengan memudahkan akses mereka membaca buku, itu cikal bakal melahirkan peradaban gemilang di masa mendatang. Wallahu’alam
BAGIKAN

Penulis: verified_user

2 komentar:

Cecep Hasanuddin said...

Ada pula dampak bagi mereka yang enggan membaca. Salah satunya yang saya baca di koran Tempo edisi minggu, tanggal 30 Mei 2010. Katanya, siapa saja yang malas membaca dapat menyebabkan kepikunan alias jadi pelupa!
Tidak suka membaca, berati juga ikut memperkosa peradaban dan segala isinya. Mari kita ciptakan ruang membaca di ruang publik, seperti yang telah digagas sekitar Mall Jakarta. Dan sebentar lagi, gedung Palaguna Bandung akan disulap menjadi taman baca! Semoga terwujud.

Sukron Abdilah said...

oke juga semoga apa yang kita harapkan bersama dapat terlaksana sesuai apa yang diharapkan...