6 April 2010

Membaca Postingan Linda Djalil di Kompasiana

BAGIKAN
Sosok mbak Linda Djalil, di Rumah Sehat Kompasiana, akhir2 ini memenuhi benak. Saya tak pernah mengikuti perkembangan tulisan2 mbak Lince secara berkala. Hanya beberapa kali membaca tulisan-tulisannya. Selain Omjay, kang Pep, Nurtjahjadi, Kate Raj, Mukti Ali, Teh Pipiet; mantan wartawati ini tak pernah saya komentari tulisannya. Ingat, tidak memberi komentar bukan berarti saya tidak membaca postingan mbak Linda dan barudak Kompasiana lainnya. Ada berbagai alasan. Entah itu, limit di billing warnet sudah melebihi isi dompet. Atau, laptop saya low battery - karena hanya tahan 1,5 jam - saking  jadulnya. Mau beli yang baru…mana tahan keuangannya. Hehehe…


Dua hari yang lalu kalau nggak salah. Ada pesan di Inbok facebook saya. Isinya dari mbak Linda Djalil. “Wah…hebat nih, ada surat dari orang terkenal. Mantan wartawati Istana Negara. Dekat dengan lingkungan elit negeri ini.” Bisik hati waktu itu sembari setengah berteriak pada Ibn Ghifarie, yang waktu itu bersama saya menggunakan fasilitas internet di PUSKOM UIN Bandung.

Ibn Ghifarie, waktu itu sedang dikejar target, menulis di media cetak. Ayah satu anak ini, sedang keranjingan menulis di media cetak. “Ah, kejar setoran lur.” Jawabnya, ketika saya mengomentari tulisannya yang di muat di Kompas Jabar pekan lalu. Saya gembira, karena saudara seiman dengan saya ini sudah sedikit merasakan keuntungan menulis di media cetak. “Alhamdulillah, hidup pas-pasan itu memang nikmat. Pas lagi butuh biaya berobat anakku, ada tambahan uang di ATM.” Ujarnya sembari terus menulis khusuk.

Sehari sebelum pesan mbak Lince - panggilan saudari Retno - datang ke inbok saya; 50 lebih tulisannya di kompasiana sudah saya kumpulkan. Sudah saya baca sebagiannya. Sudah saya reka-reka alam psikologis penulisnya. Sudah saya ukur wawasannya. Sudah saya kira, bahwa mbak Lince ini memiliki garis hidup yang bablas angine. Garis hidup ningrat karena dekat dengan orang-orang hebat. Artis, pejabat, pengusaha, musisi. Bahkan presieden sekelas Soeharto. Hmm, saya pikir garis hidup super baik ini tak bisa diperoleh Ibu saya di kampung. Bahkan, oleh saya sekalipun. Dalam pepatah Sunda, dikenal “Uyah mah tara tees ka luhur”, begitu juga dengan mbak Lince. Saya pikir, disamping kerja keras mbak, ada sebab-sebab teologis ikhwal garis hidup mbak yang tak seberuntung ibu saya di kampung.

Ibu saya, yang lulusan SR dan lahir di pelosok pojokan sebelah utara Garut. Hanya 4 km di sebelah timur Situ Bagendit yang legendaris itu. Letak geografis yang diberikan Tuhan lebih menguntungkan mbak Lince untuk berpendidikan dan mengukir karir secara gemilang. Dan, inilah kenapa saya katakan mbak Lince memiliki garis hidup super baik. Itu juga, kalau dibandingkan dengan ibu saya. Hehehe sebab, pabila dibandingkan dengan bu Ani, Inayah, dan almarhumah Tien Soeharto nasibnya akan berada lebih rendah ketimbang mereka. Tentunya, analisa ini ditinjau dari sisi jabatan dan materi. Namun, secara eksistensial, mungkin mbak Linda lebih beruntung.

“Wajib bersyukur, lho, mbak. Saya tunggu tulisan syukurnya, ya. Tentunya dengan tulisan-tulisan yang genit, cerdas, elegan, dan pujian yang tak berlebihan. Karena seburuk-buruknya iblis, ada sisi kebaikan yang tak bisa dinafikan. Misalnya, setan pernah tidak mau menyembah Adam, karena tak mau menduakan Tuhan (ini tafsiran awal). Apalagi yang banyak disoroti mbak Linda dalam tulisannya seorang manusia. Saya yakin, sejahat Adolf Hitler, masih menyimpan laku kasih dan sayang. Hahaha…”

Umur mbak saya tidak tahu dengan jelas. Tapi, membaca tulisan mbak di kompasiana, saya tahu mbak memiliki pengalaman yang luas. Pernah terbang ke bosnia. Pernah berinteraksi dengan pejabat. Pernah dipeluk Titiek Puspa. Saya juga berhipotesa, pasti mbak pernah mengenal pelantun, “Boneka cantik dari India” yang kerap saya nyanyikan ketika kecil di sungai Cimanuk. Waktu itu sambil terjun dari daerah tinggi, saya akan selalu menyanyikannya. Kelebihan saya, selalu menghafal lagu pada Reff-nya saja. Sementara syair utuhnya tak begitu saya hafal. Termasuk “Boneka cantik dari India itu, lho.” Hehehe saya pesan satu tulisan tentang pelantun lagu ini ya?!

Tulisan-tulisan mbak membalikkan anggapan miring terhadap seseorang. Saya dan mbak Linda Djalil serupa bumi dan langit. Tapi, saya yakin, perbedaan ini bukan jurang menganga yang dapat menghalangi kita untuk bersilaturahmi. Bukankah agama mengajarkan, “Tidak akan masuk sorga orang yang memutuskan tali silaturahim (persaudaraan).” Hadits itu tak menyebutkan secara khusus pada siapa kita memutuskan tali persaudaraan. Maknanya, persaudaraan bisa dibangun pada siapa pun; termasuk pada orang yang berbeda pemahaman dengan kita.

Sebagai bentuk silaturahim saya, tulisan mbak saya kumpulkan - sekitar 103 halaman spasi 1 - dan kalau agak senggang, nanti saya kirimkan file-nya. Sebetulnya, tulisan mbak yang saya kumpulkan hanya tulisan berkategori umum. Sekitar 50 lebih tulisan. Jujur, perasaan saya dibikin terkoocok-kocok dengan tulisan haru, lucu, asyik, horor, dan menambah wawasan; kadang berlebihan. Hehe

Sekian dari saya. Terima kasih! Maaf belum bisa kopdar dengan kawan2 kompasiana di Jakarta karena harus berjuang dalam kehidupan ini. Setelah merdeka, insyaallah, saya akan lebih intens melakukan silaturahim di dunia nyata. Karena di ranah maya, kita dan warga kompasiana lain sudah bersilaturahmi dengan bijak. Termasuk dengan Omjay, saudaraku, yang mengharapkan saya untuk bersilaturahim di dunia nyata.

“Sakali deui, haturnuhun….kana sagala kasaean, apresiasi, sareng pangrojong ka kuring ti  bapak-ibu anu aktip di kompasiana.”
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: