7 April 2010

Menyoal Kompilasi Tulisan Mbak Lince (Gagasan #1)

BAGIKAN
Maaf tulisan ini saya bikin bukan berarti menghamba pada mbak Lince. Siapakah mbak Lince? Heueh…mbak Linda Djalil tea. Kenapa saya memanggilnya mbak Lince? Sebab saya ingin menjadi orang kedua di dunia ini, yang memanggilnya dengan Lince. Hmm, entah pelafalannya seperti apa. Lin cekatan atau cerdaskah? Bagaimana dengan Lin cewek? Atau Lince dalam bahasa Sundakah? Bahkan bisa juga Lince dalam lisan suku Batak? Saya tak tahu persis..soalnya belum pernah mendapat konfirmasi ikhwal gonjang-ganjing namanya ini. Hehe…seperti dunia politik saja; pake gonjang-ganjing segala. Capeee deh!


Yang pasti, saya lebih nyaman melafalkan nama Lince dengan Lin cekatan dan Cerdas. Karena begitulah kenyatataannya. Dan panggilan ini lebih nyaman di lidah orang Sunda seperti saya. Heuheu…meni kitu ah…mamawa suku sagala. Murukusunu deh!!!

Adalah kebenaran, bahwa mbak Lince secerdas yang kita duga. Saya baru tahu, istilah “Rumah Sehat” untuk menyebut Kompasiana ini salah satu inisiatornya ialah mbak Lince. Saya juga baru tahu, bahwa kata kompasiana sejak dulu pernah disebut-sebut almarhum PK Oyong. Saya juga baru tahu Marrisa Haque lebih terlihat cantik seumpama Peri tatkala bangun tidur. Saya baru tahu tanpa pake juga, Titiek Puspa itu semangatnya semuda menjangan. Saya baru tahu, almarhum WS Rendra pada 1969 dicurigai pernah menulis cerpen “Langit Makin Mendung” alias Ki Panji Kusmin yang mengakibatkan HB Jasin mendekam di penjara. Wow.., pokoknya ketika membaca tulisan mbak Lince di kompasiana, saya mendapatkan perspektif baru.

Satu lagi yang membuat saya merasa menemukan sesuatu yang baru. Ikhwal aura selebritas Sjafri Samsoeddin. Dari Pramugari ngelit Sampai nenek sekelas rakyat alit mengidolakannya. Padahal, yang diidolakan keluarga saya karena ketampanan itu ada tiga; Try Sutrisno, Yusril Ihza Mahendra, Andi Mallarangeng. Try Sutrisno diidolakan kakak saya, karena terlihat gagah dengan seragam tentaranya; Yusril diidolakan Bibi saya, karena selain tampan, beliau orangnya cerdas; dan Andi Mallarangeng diidolakan sepupu saya dari Bandung karena kumisnya yang seksi.

Sementara itu, ibu saya pernah mengidolakan ketiga-tiganya. Ketika ditanya siapa yang dia idolakan sekarang? Ia menjawab, “Din Syamsuddin”.

“Heuheu…aya2 wae si emak mah…”

Bagaimana dengan SBY? Tak tahulah…, karena emak saya yang buruh tani yang sudah pensiun itu, terlihat sewot dengan kondisi perekonomian yang tak sekinclong tahun2 yang lalu.

Kembali ke jalur semula. Ikhwal tulisan-tulisan mbak Lince yang saya kumpulkan. Pertama kali membaca…saya husnudzan kecerdasannya mengeksplorasi pengalaman via bahasa tulis sangat sangat marketable. Artinya tersimpan potensi pasar, seperti blook [sebutan konten blog yang naik derajat menjadi buku] Cat Rambut Yahudi, karya Chappy Hakim. Sebab konten yang ditulis mbak Lince adalah orang-orang terkenal dan besar. Karena itulah, setelah membaca sekian tulisannya di kompasiana; ada beberapa judul yang dapat Anda sendiri tilai pantas disematkan seandainya ada penerbit yang hendak menerbitkannya.

Pertama, Mulutmu Harimaumu. Judul ini saya ambil dari salah satu tulisan mbak Lince yang mencoba memberikan pemahaman bahwa mulut harus dijaga. Jangan mentang-mentang pintar dan kritis, tapi mengabaikan perasaan orang lain. Kelebihannya, judul ini akan dikenal masyarakat umum karena telah diketahui sejak menjadi siswa SD. Saya menominasikan judul ini karena gaya kehati-hatian memenuhi tulisan mbak Lince. Terlihat santun, menjaga perasaan, dan elegan; kadang ada juga kritikan tapi tidak dilakukan dengan keras. Tulisan mbak Lince seumpama mengusap sambil menggetok. Kelemahannya, judul Mulutmu Harimaumu, terasa seperti karya sastra dan terlalu umum. Dalam bahasa lain, pembaca akan susah menerka isi dari buku; kecuali ada subjudul yang menjelaskan keterangan judul buku.

Kedua, Sepatu Pak Menteri. Judul ini terlihat agak memberikan rasa penasaran. Soalnya dari sekian puluh menteri, pasti akan memiliki massa atau fans; sehingga bertanya-tanya…adakah tokoh idolanya di dalam buku ini. Atau, sepatu menteri siapakah yang coba dibahas dalam kompilasi tulisan mbak Lince. Judul ini strukturnya seperti Cat Rambut Yahudi, karya Chappy Hakim. Coba deh…telaah baik-baik. Cat dengan Sepatu menjelaskan benda; sementara Rambut Yahudi dengan Bapak Menteri agak mirip memang. Nanti kita bahas dalam kolom komentar…tentang struktur judl ini…Hahaha..maaf saya agak gila sedikit…

Ketiga, Gelar Komentar Linda. Pada judul ini mbak Lince menjadi pusat perhatian pembaca. Saya yakin ada ribuan penggemar mbak Lince di luar sana. Ini mirip dengan acara talkshow yang mengupas berbagai persoalan, yang dikomentari mbak Lince. Sayangnya, gelar komentar yang selalu dilakukan mbak Lince tak ditayangkan Televisi, seperti halnya dilakukan Andy F Noya. Judul ini akan terasa elegan dan bijaksana; di mana seorang wanita menjadi pemerhati sekaligus pembahas tentang berbagai persoalan yang dibahas di Rumah Sehat ini. Sekadar saran, kalau ingin memakai judul ini saya sarankan menggunakan subjudul yang agak merangsang pangsa pasar pembaca. Bukankah anggota kompasiana berjumlah lebih kurang sekitar 16.000? Belum lagi ratusan ribu blogger di luar sana. Lebih tepat apabila embel-embel blogger atau kompasianer disertakan dalam subjudul…sebagai penegas kepada siapa buku ini ditujukan…

Keempat, Air Mata SBY. Hmm…, judulnya mengandung banyak penafsiran. Tapi dari banyaknya penafsiran ini tersimpa potensi pasar. Di Indonesia terdapat berbagai pihak yang pro dan kontra pada sosok nomor satu di Indonesia ini. Like or dislike, he’s my president. Dari kalangan pro, judul ini bakal terlihat sebagai luap kesedihan SBY atas berbagai cobaan yang menimpa Indonesia. Selain itu, bisa berarti tokoh pujaan mereka adalah sosok yang bertanggungjawab. Cengeng – meskipun bukan satu-satunya indikator tanggung jawab – dapat ditafsirkan secara beragam oleh para pemuja SBY. Sementara bagi kalangan kontra SBY, judul ini akan mengundang rasa penasaran juga. Terlihat politis juga rasanya. Tetapi, kalau pembaca sudah menyelami isi buku ini akan melahirkan kesimpulan-kesimpulan yang keluar dari jalur. Dapatkah dijual ke pasar pembaca Indonesia tentang nama SBY ini? Wallahua’lam

Sekian presentasi pada rapat pertama kali ini…lain kali disambung lagi…kalau sudah fiks judulnya apa. Setelah itu, kita bahas juga bersama-sama tentang kemasan yang khas kompasianer….duh…serasa di ruang rapat redaksi penerbitan ini teh…hehehehe….meskipun kita tidak bekerja di penerbitan…ya cobalah menyelami sebagai karyawan penerbitan. Soal kemasan buku, yang khas di era 2.0 saya punya ijtihad dengan meniru tren weblog dan jejaring social facebook……kalau penasaran, silakan sms saya….dua-tiga hari saya off dulu dari kompasiana.

catatan penting…saya hanya mengumpulkan tulisan mbak lince…dan akan sudah dikirim ke email yang tertera di facebook kang pepih dan mbak lince…hatur nuhun….



BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: