10 April 2010

Naungan Allah

BAGIKAN
Suatu ketika, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Allah akan menaungi tujuh orang pada hari di mana tak ada lagi naungan selain naungan-Nya. Mereka itu di antaranya: 1). Pemimpin yang adil, 2). Pemuda yang menggunakan masa mudanya dengan beribadah pada Allah, 3). Orang yang memakmurkan mesjid, 4). Dua orang yang berkasih sayang karena Allah, dan berpisah karena-Nya, 5). Seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh wanita kaya dan cantik, tetapi ia menjawab “Aku takut pada Allah”, 6. Orang yang bersedekah, hingga tidak diketahui tangan kiri apa yang disedekahkan-nya, dan 7). Orang yang mengingat Allah ketika sendirian kemudian ia menangis.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kebahagiaan akan dirasakan seorang muslim ketika dirinya mendapatkan naungan dari Allah Swt. Dalam perspektif hukum kausalitas, ada pepatah mengatakan tak ada asap kalau tak ada api. Pun begitu dengan naungan dari-Nya. Tanpa menunaikan perintah dan anjuran Allah (dalam Al-Quran dan hadits) bukan naungan yang diperoleh. Melainkan kemurkaan-Nya hingga kita tidak akan menjadi manusia yang berbahagia di akhirat kelak.  

Secara tersirat, naungan dapat diartikan ketenangan, ketentraman, kedamaian, kesejahteraan, keamanan dan kebahagiaan hidup. Kondisi tersebut sangat diharapkan setiap mukmin. Baik di dunia maupun di akhirat. Naungan di dunia dapat berbentuk ketenangan, ketentraman, dan kesejahteraan. Sementara itu, naungan di alam ukhrowi dapat berbentuk kebahagiaan abadi. Inilah yang disebut kenikmatan. Di alam duniawi, kenikmatan disebut dengan lazzah (lezat). Sedangkan, di alam ukhrawi kenikmatan itu biasa disebut sa’addah (kenikmatan paripurna).

Tanpa mempola tindak keseharian dengan landasan ilahiyah, naungan-Nya akan sulit diperoleh. Naungan Allah tentunya akan melahirkan emosi positif dalam setiap jiwa hamba-Nya. Sebagai mukmin, kita diwajibkan berlaku adil. Memanfaatkan usia sebaik-baiknya. Kita juga wajib memakmurkan mesjid. Kemudian, melandaskan relasi dengan sesama karena Allah (lillahita’ala). Menahan diri dari dorongan berbuat maksiat. Bersedekah secara ikhlas. Terakhir, selalu mengingat Allah dalam setiap kesempatan.

Firman Allah Swt., “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya, seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang bertakwa,” (QS. Ali ‘Imran [3] 133).

Ketika kita konsisten mengamalkan hal itu, tentunya naungan Allah Swt. akan kita dapatkan. Sehingga, kita menjadi hamba-Nya yang diselimuti ketenteraman jiwa. Allah Swt. berfirman, “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’du [13]: 28).

Segala bentuk kriminalitas, KKN, dan kejahatan lainnya menjadi keniscayaan ditinggalkan dalam hidup keseharian. Sebab, tujuan penciptaan manusia oleh-Nya agar dapat mengisi kehidupan ini dengan ibadah. Ini berarti, memperoleh naungan-Nya mesti dengan jalan menaati-Nya. “Sesungguhnya Aku Ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain aku, Maka sembahlah Aku dan Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”(QS Thaahaa [20]:14).

Berlaku adil, konsisten, lillahi ta’ala, sadar diri, memakmurkan masjid, dzikir, dan sedekah merupakan laku mulia. Insyaallah dengan menjalankan semua itu kita akan memperoleh naungan-Nya di dunia maupun di akhirat. “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong berlaku tidak adil. Berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maa’idah [5]: 8). Wallahua’lam Bishshawwab 




BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: