29 November 2018

Sari Kebijaksanaan di Taman Kebenaran

BAGIKAN
DOKTRIN sufi yang terkenal adalah mengenal proses penciptaan sebagai ketetapan dan Entifikasi-Diri dari nama dan Sifat Tuhan ke dalam ranah arketifal (al-a’yan al-tsabitah) yang kekal dari semua ciptaan. Inilah yang disebut Seyyed Hossein Nasr dengan al-fayadh al-aqdas (pancaran tersuci) dalam setiap makhluk Tuhan. Kemudian arketif kekal tersebut, menurut Nasr dimasuki “ruh Maha Penyayang” Tuhan, sehingga lahirlah segala bentuk-wujud yang ada di muka bumi.

Alam semesta, termasuk apa yang ada di dalamnya (manusia, hewan, tumbuhan, bebatuan, dsb) adalah hasil dari tiupan Tuhan dengan nafas al-rahman. Oleh karena itulah, semua yang ada di alam semesta hakikatnya merupakan nafas Allah. Realitas kealaman, bagi Nasr, merupakan pantulan dari kesucian ilahi (teofani) yang sejatinya mendapat perlakuan yang bijaksana dan arif dari sang khalifah fi al-ardh (umat manusia). Secara indah, Seyyed Hossein Nasr, dalam buku ini menyitir rangkaian sastrawi Matsnawi karya Jalaluddin Rumi: Andaikan segala yang ada memiliki lidah/Maka akan tersingkaplah seluruh tirai dari segala yang ada//.

Seyyed Hossein Nasr, adalah guru besar studi Islam di Universitas George Town. Ia seorang akademis yang berpuluh tahun mereguk ilmu-ilmu tradisional dan modern dari Barat. Bagi dunia, Nasr ialah juru bicara utama ikhwal spiritualitas dan filsafat Islam dengan bahasa modern, kontemporer nan canggih. Baginya, tradisi tasawuf telah dilestarikan selama berabad-abad dengan memadukan daya inisiasi (wilayah/walayah) dan berkat (al-barakah) yang diperlukan untuk bekal perjalanan spiritual umat manusia.

Yang menarik dari buku ini. Selain bahasanya yang reflektif dan spiritualistis; Seyyed Hossein Nasr – seperti ditulis Prof. Komaruddin Hidayat – mampu mengangkat kebenaran perennial tasawuf secara modern. Tak hanya itu, di tengah krisis lingkungan yang mendera muka bumi ini dengan beragam atribut: pemanasan global (global warming), bencana (natural disaster), dan perilaku merusak alam oleh segelintir umat manusia. Nasr, menyadarkan kita bahwa sesungguhnya hakikat alam, baik makrokosmos maupun mikrokosmos adalah pancaran ruh ilahi. Segala yang ada di muka bumi, dalam bahasa lain, sebagai “wujud lain” Tuhan.

Hal itu mengindikasikan laku eksploitatif dan destruktif yang kita lakukan pada ekosistem kehidupan (alam sekitar) – untuk dalih pembangunan – merupakan bentuk pengkhianatan terkejam pada eksistensi Tuhan. Ini dikarenakan manusia terhijab keangkaramurkaan, keangkuhan, dan kesombongan. Dengan gamblang, ia menopang hipotesis kesufiannya secara modern dengan pendekatan filsafat analitik-religius. Ia – dalam buku ini – memandang bahwa wujud memiliki tingkatan-tingkatan yang menandai bentuk realitas tertinggi. Realitas terbawah (alam ini), bagi pakar Sufisme ini, diselubungi hijab tetapi sekaligus mengungkapkan realitas tertinggi (sang Pencipta).

Tujuan dari kehidupan spiritual untuk mengangkat atau mendobrak tabir yang menyelubungi kesadaran manusia atas realitas yang sedang dijalaninya. Maka, tasawuf eksistensinya adalah sebagai alat dobrak yang dirancang secara spiritual. Tasawuf, dalam buku ini, seperti diungkapkan Seyyed Hossein Nasr, berbicara tentang yang tampak (al-zahir) dan yang tersembunyi (al-bathin) yang tak hanya menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, akan tetapi dengan seluruh Makhluk-Nya (hlm. 69).

Beliau (Nasr) pun mengutip syair sastrawi psikospiritual dari filsuf dan penyair Persia abad 11, Nashiri Khusraw: Pandanglah kenyataan batiniah dunia dengan mata/yang memandang ke dalam/Karena dengan mata yang memandang ke luar engkau takkan pernah/dapat melihat yang di dalam//. Tabir yang menyelubungi kesadaran perennial manusia dapat disingkapkan (kasf al-mahjub) dengan menjelajahi taman kebenaran. Segala yang ada, termasuk Hadirat Yang Satu akan tersingkap.

Buku versi Indonesia yang diterbitkan penerbit Mizan ini tak berlebihan jika menjadi koleksi bacaan buku-buku spiritualitas Anda. Sebab, di dalamnya terkandung intisari kehidupan yang dibutuhkan manusia modern yang serba sibuk. Seyyed Hossein Nasr, dalam buku ini, berhasil mengetengahkan khazanah sufistik dalam bahasa yang canggih. Selamat mereguk sari tasawuf yang nikmat untuk dikonsumsi ruhani Anda.

dimuat Harian Republika, Jumat 09 April 2010.

Judul                : The Garden of Truth; Mereguk Sari Tasawuf
Judul Asli         : The Garden of Truth; The Vision and Promise of Sufism, Islam’s Mystical Tradition
Penulis             : Seyyed Hossein Nasr
Penerjemah    : Yuliani Liputo
Penerbit          : Mizan, Bandung
Cetakan           : I, Januari 2010
Tebal               : 304 hlm
Harga              : Rp. 57500

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: