8 April 2010

Sedekah Menulis Euy

BAGIKAN
Rasulullah SAW menjelaskan, ''Jika anak Adam meninggal, amalnya terputus, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya (orang tuanya).'' (HR Muslim). Saya memang bisa dibilang punya pemikiran klasik-tradisional dalam hal bersadaqah. Letak bershadaqah adalah keikhlasan. dan, keikhlasan letaknya di hati (dalam bahasa kita). Teman saya, yang baru saja menjadi penulis ngomong: "wah...Kang Sukron mah mudah masuk media teh".

Siapa bilang mudah? Untuk bisa nongol di media otak harus bisa diputar agar dapat menarik hati redaktur. Utamanya, tulisan kita harus aktual dan ndak berbelit-belit. Satu lagi yang saya peroleh dari Kang Rahim, adalah tulisan harus tidak antiklimaks. Jujur saja, saya bukan penulis yang bisa menerangkan tulisan seseorang sebagai: deskriptif ataukah naratif, atau juga eksposisi dan lain sebagainya dalam pelajara Bahasa Indonesia. Sebab, saya menulis sesuai dengan mood hati. Kalau hati ndak enak, maka tulisan saya pun tidak enak buat disetubuhi dua bola mata alias dibaca.

Jadi, saya kerja keras dong agar tulisan berjudul: Tak Ada Privileges buat Koruptor (SINDO Jabar, 21 Juli 2008) dimuat oleh koran SINDO. Dari mulai mempelajari gaya penulisan yang diselerai redaksi, sampai melatih terus agar hati ini nggak menulis sesuai dengan gaya penulisan media lain.

Tapi, disamping usaha, saya masih yakin bahwa artikel yang dimuat itu adalah rezeki dari Tuhan. Maka, jika hasilnya tak kita bagi-bagi atau shadaqah-kan sekecil apa pun, Tuhan murka dong dengan laku itu. Kalau Tuhan sudah murka, bisa-bisa artikel kita suesah dimuat lho. Jadi, kalau artikel kita ingin dimuat, banyak berdoa, bersadaqah, dan rajin membagikan uang honor. Pasti deh, orang lain banyak mendoakan kita sehingga kita menjadi manusia yang sehat pikiran, tubuh, dan jiwa. Alhasil dengan kondisi ini, pasti dong kita akan produktif menulis artikel.

So, mari kita bersadaqah rame-rame. Jangan pelit mengeluarkeun duit buat sesama manusia yang membutuhkan. Duit itu mudah untuk dicari, dari mulai itungan mengedip kita, berjalan kita, berbicara kita, dan niat baik kita. Dari semua itu, terselip rezeki yang harus kita shadaqahkan kembali kepada yang membutuhkan. Ah, itulah yang dinamakan etika sosial buat penulis, yang di Indonesia pasti memiskinkan. Tapi, biar memiskinkan saya masih njoy menulis. Yang penting, ada 50 ribu yang akan diberikan kepada fakir miskin. Hore...siapa bilang kalau saya sombong...emang bener kalau shadaqah itu bisa melipatkan hasil rezeki.

Barangsiapa yang mendekati Allah sambil berjalan, maka Dia akan mendekati kita dengan cara Berlari secepat kilat. Ini artinya, barangsiapa yang bersadaqah untuk mengharapkan Ridha-Nya, maka Dia akan membalas Shadaqah hamba itu dengan balasan berlipat-lipat. Ngarti teu? Ah, biar teu ngarti oge. Kamana we nulis mah.
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: