18 June 2010

“Berkah” Ngeblog di Kompasiana

BAGIKAN
Dalam khazanah kepesantrenan, “berkah” ialah bertambah dan menetapnya suatu kebaikan (tsubut al-khair). Aktivitas yang terkategori baik secara etis maupun moral di lingkungan masyarakat kalau dilakukan terus-menerus akan mengundang berdatangannya kebaikan. Ngeblog merupakan salah satu bentuk aktivitas tersebut. Kebudayaan yang lahir dari kecerdasan manusia dalam mengelola perangkat komunikasi teknologis.  
Pun yang terjadi dengan blog social network ini. Ya, kompasiana merupakan bentuk kecerdasan jajaran pekerja kreatif (baca: manusia) yang bernaung di kompas.com. Sejak awal bergabung pada 2008 saya merasakan beragam manfaat. Selain aktivitas menulis yang wajib dimiliki kompasianer, ada beragam tantangan dan peluang. Tantangan itu ialah sering diadakannya lomba menulis yang bekerjasama dengan setiap perusahaan. Tak heran kalau di kompasiana tersimpan sejumlah “peluang” bagi blogger, penulis pemula, dan warga melek internet lainnya untuk meraih peluang berharga.
 
Saya berandai-andai saja. Seandainya tak pernah mengenal kompasiana, tentunya tak akan pernah mendapatkan kesempatan berharga. Ya, kesempatan untuk berkompetisi memposting teks dalam helatan akbar lomba menulis di kompasiana. Ketika saya mengikuti kompetisi; ketika itulah saya berkesempatan meraih “peluang”. Namun, bagi peserta yang belum menjadi pemenang bukan berarti gagal menggapai “berkah”. Ingat, “berkah” itu bukan berwujud material-inderawi. “Berkah” ialah sejumlah hasil positif yang diperoleh tatkala kita melakukan sesuatu.
 
Seorang buruh tani, yang sehari-harinya mencangkul sawah, siapa yang menyangka kalau dia pulang akan membawa “genjer” dan “belut” [sebutan di Sunda bagi tumbuhan dan hewan sawah]. Ketika sang buruh tani tersebut berangkat dari rumah, tentu saja ia tidak meniatkan diri memburu “belut” dan menjadi petani “genjer”. Dari rumahnya, ia membulatkan tekad [hanya] untuk mencangkuli sawah. Kalau pun di sawah tersebut ada sesuatu yang dapat dimanfaatkan buat menghidupi keluarga, ya dia ambil saja.

Kompasiana adalah sawah bagi petani tersebut. Tugas kompasianer ialah mencangkuli kompasiana agar membuahkan hasil bagi warga Indonesia. Hasilnya dapat berupa konten menarik ikhwal berbagai persoalan yang diposting menurut kategori. Saya yakin, ratusan ribu pembaca kompasiana dari puluhan ribu artikel di kompasiana akan merasakan manfaat. Entah itu para pelajar, mahasiswa, dosen, pendidik, tokoh parpol, ulama, pendeta, pastur, dan banyak lagi. Mereka merasa tertolong ketika mencari informasi yang dibutuhkan dirinya dibawa pada berpetak-petak “sawah informasi” bernama kompasiana.
Mungkin netizen akan berteriak: “terima kasih kompasianer”!
 
Kompasianer juga akan lebih dewasa, berpengetahuan, bijaksana, dan elegan. Dirinya terus bermetamorfosa menjadi blogger yang tak gampang menuduh, arogan, barbar, dan dipenuhi sinisme “hitam-putih”. Karena kompasiana dikelola oleh para “petani informasi” dari berbagai latar belakang agama, budaya, dan ideologi. Inilah yang saya sebut dengan “berkah”, bertambah dan menetapnya sebuah kebajikan. Selain, berpeluang menjadi pemenang ketika mengikuti perlombaan, kompasiana akan memberikan mata pelajaran menjadi blogger sejati [saya pinjam bahasa Omjay]. “Berkah” yang tak akan pernah diperoleh ketika seorang blogger tak pernah membangun jaringan.
 
Blogger wajib berjejaring. Dan, kompasiana bisa memberikan jaringan untuk membangun relasi. Dari relasi inilah “berkah” akan diperoleh. Seperti yang pernah dibilang seorang guru menulis saya; berjejaring sama dengan filosofi Laba-Laba. Artinya LABA DI SINI…LABA DI SANA. Bagi kompasianer, berjejaring mirip dengan “silaturahmi 2.0” dalam agama saya, BERKAH DI SINI…BERKAH DI SANA.
 
Jujur saja, saya mendapatkan “berkah” ngeblog di Kompasiana. Bukan material…namun lebih dari itu…”berkah” intelektual dan “berkah” kedewasaan diri menyikapi hidup. Ketika saya kesal dan jenuh dengan hidup, seutas tali tambang tak akan menggoda sedikit pun untuk membunuh diri sendiri. Inilah “berkah” sesungguhnya.
 
Kalau ada kompasianer yang bunuh diri…bisa2 rame di headline berita media mainstream lho. 
Hehehe…Selamat dan Sukses terus Kompasiana.               
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: