7 June 2010

Jangan Minjem Uang ke Bank, Kecuali Nyar’i

BAGIKAN

Saya mohon maaf terlebih dulu kepada Bank di Indonesia. Judul di atas terkesan provokatif. Akan tetapi, banyak terbukti warga yang minjem ke Bank tak mampu mencicil sesuai perjanjian hitam putih di atas kertas. Akibatnya, akta rumah, surat BPKB, dan barang berharga lainnya jadi tumbal untuk melunasi utang. Saya memiliki kisah nyata. Sebetulnya, hal ini tak penting di-share di kompasiana. Dikarenakan kisah ini kenalan dekat saya, akhirnya tak salah kalau pengalaman ini dibagi rata pada Anda.

Rumah yang nggak begitu luas itu, Kamis (20/05/2010) pagi, sekitar pukul 10. 03 WIB, telah ditempeli peringatan dari sebuah perusahaan BANK. Bahkan kini tembok di depan rumahnya sudah dicat dengan warna merah. Wah, wah, gawat nih… Saya tidak tahu berapa besar yang dipinjamnya. Yang pasti, kalau sampai diberi peringatan begitu tentunya jumlah pinjaman tersebut besar. Apalagi rumah yang dijadikan agunan kredit. Ia selalu mengadukan kesulitan ekonominya. Dari mulai anak yang banyak, lelaki berusia 40 tahun ke atas tersebut, kerap curhat tentang kesulitan usahanya. Sehingga ia kerap menyalahkan cicilan motor yang saya kira bukan alasan tepat untuk menjustufikasi ketidakbecusannya mencicil kredit pinjaman ke Bank.
Hampir setiap hari ia mengadukan kesulitan ekonomi. Saya saat itu hanya kesal pada diri sendiri. Coba kalau saya memiliki kekayaan seperti Bill Gates. Sudah dibayangkan akan saya bayar semua utang pinjamannya yang sampai nunggak bukan saja kepada pihak Bank. Tapi, sampai menunggak kepada koperasi dan rentenir. Kalau saya nasihati juga, dia tak pernah menggubris…alasannya kepepet. Saya hanya bisa mengurut dada. Membantu tidak bisa. Mencari solusi juga sering tidak diterima. Akhirnya, kotak Pandora itu kini terbuka lebar…isinya meloncat kemana-mana.  
  Saya jadi berpikir, kehidupan tak seharusnya dipenuhi keserakahan sehingga berani meminjam duit diluar batas kemampuan. Akan tetapi, inilah hidup. Pinjam-simpan seolah tak berlaku. Yang ada adalah pinjam-pinjaman. Parahnya lagi, sang peminjam tak pernah merasa bertanggung jawab untuk melunasi utangnya. Rumah pun menjadi alternatif terakhir. Memang betul, kalau bangsa ini bangsa yang gemar meminjam uang. Entah itu pemerintahannya. Entah warga miskin. Bahkan, pegawai negeri sipil (PNS) pun banyak yang menggadaikan SK-nya untuk kepentingan konsumtif. Ini terjadi di Garut, lho; hampir 60 persen PNS yang baru diangkat menggadaikan SK-nya ke Bank. Entah untuk menutupi apa, yang pasti begitulah realitas bangsa kita. Mereka sama…kalau sedang kepepet meminjam uang meskipun tak mampu dibayar.
Sekadar saran bagi saya kepada kompasianer dan perusahaan bank. Jangan pernah minjem uang ke Bank kalau tak sanggup membayar. Apalagi jumlahnya puluhan juta. Mendingan seperti di kampung saya, para petani kerap meminjam uang kepada ibu saya tanpa ada agunan dan bunga. Bahkan tanpa batas waktu yang ditentukan. Sesuai dengan kesadaran dan kemampuan si peminjam. Akan tetapi, Bank bukan ibu saya. Pinjaman puluhan juta tidak bisa begitu saja direlakan. Bank harus ada keuntungan untuk menggaji karyawan. Jadi, tak heran kalau pinjaman 20 juta misalnya, biaya untuk membayarnya bisa melebihi angka tersebut.    
Bank Syariah bagi saya harus mulai menyeleksi pinjaman yang dilakukan nasabah. Program pinjaman modal jual-beli dengan menggunakan sistem mudharabah dan musyarakah yang adil pembagiannya harus mulai digalakan. Di Indonesia ada banyak pengusaha mikro, kecil dan menenngah (UMKM) yang terkendala pembiayaan. Mereka tidak membutuhkan ratusan juta untuk menyuntik usahanya agar sehat wal afiat. Tak lebih dari 50 juta per tahun dibutuhkan mereka yang hendak terjun di ranah usaha kecil dan menengah. Bahkan, ada juga yang hanya membutuhkan modal sekitar 10 juta per tahun. Kalau jeli membaca pasar masayarakat alit – bukan hanya elit yang membutuhkan dana 200 jutaan – sebetulnya pihak BANK syariah dapat memperoleh keuntungan yang sangat besar.
Kalau di Bank Konvensional lebih pada pemberian modal, adapun soal cicilan per bulan yang dibebankan kepada peminjam tidak tahu menahu dari mana asalnya. Sederhananya, Bank Konvensional melakukan pembiayaan kepada pengusaha yang meminjam duit tanpa ada ikatan apa pun. Seperti yang terjadi pada kasus yang saya ceritakan di atas. Seorang peminjam dengan memberikan jaminan berupa Akta Rumah kepada Bank itu merupakan bentuk kesepakatan yang mesti disepakati oleh kedua pihak. Ketika sang peminjam tidak dapat membayarnya, rumah yang harganya melampaui jumlah pinjaman akan disita oleh pihak Bank. Ini menurut saya transaksi ekonomi yang tak adil.  Prinsip transaksi ekonomi seperti ini mirip dengan sistem kapitalis yang mendewakan peran pemilik modal. Bank sebagai pihak bermodal gede, dengan semena-mena mencekik peminjam yang berasal dari kelas miskin dengan jaminan tempat tinggal.
Bank syariah tentunya tidak demikian. Di dalam sistem perekonomian yang dicetuskan untuk mengimbangi modernitas ini, pemilik modal ialah seorang dermawan yang adil dan hadir untuk saling tolong menolong. Adil berarti memberikan pinjaman sesuai kebutuhan nasabah atau peminjam dengan kesepakatan yang tak merugikan salah satu pihak. Sementara tolong menolong berarti ada tersimpan visi suci dalam mengelola kekayaan atau hartanya untuk kepentingan orang lain. Jadi, kalau ada kasus seperti yang menimpa kenalan saya di atas – meminjam sepenggal lirik dari bang Haji Rhoma Irama – “Ter….La…Lu.”
Kebetulan saya membaca buku tipis yang ditulis DR. Umer Chapra. Buku tersebut merupakan kumpulan makalah yang diterjemahkan Ikhwan Abidin Basri, MA. Judul buku “Haramkah Bunga Bank?” ini agak sedikit fiqhiyah, namun isinya menggambarkan sikap moderat Umer Chapra. Sesampainya pada makalah kedua, halaman 43 s.d 86, saya mendapatkan sedikit gambaran ikhwal sistem pinjaman yang disyari’atkan Islam. Saya sedikit tahu, bahwa pinjaman yang disyari’atkan Islam mesti digunakan untuk sesuatu yang produktif. Adapun pinjaman untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dapat diperoleh dari laba usaha atau tetangga yang memiliki kekayaan lebih. Pada halaman 49 s.d 50, Umer Chapra menjelaskan bahwa hidup glamour ditunjang kemudahan fasilitas kartu kredit telah menjadikan manusia menjadi makhluk konsumtif. Sehingga, terjadi apa yang disebut dengan penurunan angka pelunasan kredit. Di negeri berkembang, bahkan penurunan tersebut sangat besar sekali dari 34.2% menjadi 26.0 % dari periode 1971-1998. Boleh Anda bayangkan kalau mental glamour terus dipegang oleh setiap warga di Negara berkembang. Bukan tidak mungkin, bahwa akan banyak terjadi kasus penjabelan agunan kredit seperti yang terjadi pada kasus kenalan saya.
Nah, Bank Syariah sudah menjadi kewajiban untuk memperkenalkan diri kepada warga, di mana meminjam uang tidak bijak kalau berdasarkan nafsu konsumtif, tanpa ada upaya-upaya produktif. Pinjaman yang dilakukan Bank Syariah lebih banyak diarahkan pada penggunaan secara produktif. Tanpa menggunakan sistem bunga, Bank Islam telah menjadi pelopor pinjaman berbasis aktivitas produktif. Seperti diungkapkan Umer Chapra, bahwa di dalam sistem pinjaman ini setidak-tikdaknya Islam menganjurkan untuk menyertakan modal (equity financing), pembiayaan berbasis jual-beli (sales based modes of financing), dan pinjaman berbasis jual beli (profit and loss sharing). Dengan ketiga sistem tersebut, tentunya sang peminjam dituntut untuk menggunakan uangnya bagi kepentingan pemberdayaan, produktivitas usahanya, dan meraih laba atau keuntungan. Dengan demikian, warga tidak hanya menggunakan kartu kredit untuk membeli barang-barang konsumtif, melainkan untuk melakukan transaksi jual-beli dengan konsumen.
Uh, enak betul apabila kenalan saya dalam kasus di atas mengenal prinsip-prinsip yang menguntungkan dan memberdayakan yang digulirkan setiap Bank berbasis syariah. Tak hanya pinjaman bebas bunga; tetapi melatih diri untuk menjadi wirausahawan/wati dengan uang pinjaman yang diberikan Bank kepadanya. Persoalannya, maukah Bank Syariah melirik sektor riil usaha kecil dan menengah? Semoga saja mau….hehehe…    
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: