29 November 2018

Kebijaksanaan Manusia Sunda

BAGIKAN
Kebenaran Sunda sebagai kebudayaan tak arif bila ditempatkan sebagai kebenaran hidup mutlak. Meminjam analisis Hannah Arendt, kebudayaan-dalam hal ini Sunda ialah rutinitas umat manusia yang dapat diramalkan dan dipelajari. Ini mengindikasikan ketidakmutlakan Sunda sebagai jalan hidup. Dalam bahasa lain, kesundaan dapat ditafsirkan dengan kerangka pemikiran masing-masing, baik dari perspektif subyektivitas maupun intersubyektivitas. Dari sinilah lahir kesundaan yang beragam dan majemuk.

Contoh konkretnya adalah persoalan undak-usuk basa yang terfragmentasi menjadi tiga jenis hierarki berbahasa, yakni kasar, loma, dan lemes. Bagi urang Sunda Priangan, lafal bahasa Sunda akan berbeda dengan Sunda pakidulan seperti penutur basa Sunda di Banten, Sukabumi, dan Bogor. Ketika yang dijadikan acuan keberadaban berbahasa Sunda diarahkan pada dialek Priangan, hal ini tentu menafikan perspektif Sunda yang lian. Tak bijaksana rasanya ketika menafikan perspektif Sunda the other sehingga mengakibatkan lahirnya bentuk Sunda yang tertutup, kaku, bengis, keras, sombong, dan tidak dinamis.

Dalam bahasa lain, pandangan ihwal kesundaan mesti mengakui penafsiran yang berbeda dengan pemahaman kita tentang Sunda. Itulah wujud Ki Sunda sesungguhnya. Manusia asak ku pangalaman sehingga pandangan hidupnya dipenuhi kebijaksanaan, hubungan kolektif-kolegial, sifat mementingkan orang banyak, dan sejumlah perilaku positif lainnya.

Makna Ki Sunda

Saya agak heran mengapa disebut Ki Sunda, bukan Mang Sunda, Jang Sunda, atau Uwak Sunda? Tetapi, keheranan tadi terjawab karena di dalam alur kehidupan, sebutan "Ki" merupakan representasi dari kedewasaan, asak pangalaman, kebijaksanaan, pandangan visioner, dan tidak terjebak pada penilaian "hitam-putih". Term "Ki" adalah sebutan lain dari "Aki" karena dirinya menjadi tokoh masyarakat yang dijadikan pusat kehidupan. Karena telah memahami intisari kesundaan, ia memiliki keluhuran ilmu pengetahuan, kekayaan khazanah, dan perspektif yang majemuk ihwal realitas kebudayaan Sunda.

Alhasil, dirinya menjadi aktor penggerak masyarakat Sunda sehingga memiliki tradisi dan sikap hidup yang santun. Karakter Ki Sunda yang bijaksana tersebut lahir akibat dirinya telah menjalani pengembaraan yang luas di muka bumi hingga mengenal dan memahami berbagai kebudayaan. Sampai hari ini saya masih menempatkan tokoh historis Sunda-siapa pun dan dari daerah mana pun atau dalam naskah apa saja-sebagai manusia biasa yang niscaya terbuka untuk dikritisi. Bahkan, dalam tradisi hermeneutis, seorang nabi tak luput dari kritik. Tanpa mengabaikan penafsiran Sunda sebagai gerakan ideologis, kita juga tentunya tak boleh menutup mata bahwa Sunda merupakan gerak kebudayaan yang dinamis.

Apabila Sunda dipahami hanya sebagai gerakan ideologis, hal itu akan menancapkan stigma Sunda sebagai suku yang kaku, eksklusif, tidak ramah, rasis-fasis, bahkan tertutup terhadap nilai dan budaya baru. Satu tokoh Sunda tidak dapat dijadikan sebagai dasar untuk menjustifikasi bahwa Sunda harus seperti yang diperjuangkan sang tokoh. Alih-alih menjadikan manusia Sunda sebagai manusia neobijaksana, yang terjadi adalah menggusur pemahaman kesundaan pada sikap yang serasa menjauh dari ajen-inajen urang Sunda. Nanjerkeun kesundaan tak harus dengan jalan perang dan keras.

Nanjerkeun kesundaan ialah dengan cara membumikan konsep hidup yang kerap diejawantahkan Ki Sunda secara elegan dan luhung. Ia mampu menyikapi perbedaan secara legowo dan mengakuinya sebagai bagian dari hidup urang Sunda meskipun berasal dari kebudayaan luar Sunda. Itulah yang dikatakan sebagai manusia Sunda genuine.

Memang begitulah seharusnya kebudayaan lahir dan hidup. Itu karena culture lebih dekat secara semantik dengan nature, yang berarti berjalan mengikuti alur alami kehidupan. Sunda itu dinamis dan tidak tertutup terhadap kebudayaan luar. Selama hal itu baik bagi eksistensinya di masa mendatang, urang Sunda sejatinya memahami warisan budaya dan bakal terus berdinamisasi dengan perkembangan zaman.

Penafsiran "hitam-putih"

Penafsiran tunggal terhadap warisan Sunda akan melahirkan fanatisme kesukuan yang akut dalam diri warga Sunda ke depan sehingga Sunda sebagai kebudayaan diklaim milik salah satu elite kelompok tertentu. Karena itu, kajian terhadap Sunda, bila menggunakan penafsiran "hitam-putih", berubah menjadi kebudayaan barbarian, tidak toleran, asa aing, adigung-adiguna, dan tidak respons terhadap kebudayaan luar, apalagi bila menggunakan kacamata radikalisme pemikiran yang menempatkan manusia lian ti urang Sunda sebagai manusia biadab.

Hal itu tidak ada bedanya dengan gerakan ideologis yang kadang memakan korban dari warga am yang tak berdosa. Dalam catatan historis, kerap terjadi "benturan fisik" dan penyelesaian barbarian antarsesama karena diinisiasi perbedaan ideologi. Sunda hari ini adalah cermin dari mental, sikap, dan laku lampah Ki Sunda baheula. Itu memang betul sehingga ada kesimpulan menjadikan tokoh historis Sunda sebagai tolok ukur sikap dan laku manusia dalam konteks kiwari. Itu juga saya pikir agak betul.

Namun, apakah yang harus dijadikan model manusia Sunda kiwari itu hanya tersentralisasi pada satu tokoh historis ataupun tokoh fiktif dalam kajian naskah Sunda? Urang Sunda ternyata majemuk sebagai representasi keunikan manusiawi. Ada yang sahaok dua gaplok, ada yang hare-hare tai hayam, bahkan tak sedikit yang teu langkung kanu dibendo. Memersepsi manusia Sunda sehistoris dan seheroik apa pun mesti dibarengi pendekatan yang kritis dengan mempertanyakan motif apakah yang tersembunyi darinya? Tidak ada yang final dalam memahami kebudayaan yang lahir dari suku apa saja dan di mana saja sehingga kebudayaan akan terus mengepakkan sayap untuk terus berdialektika dengan kekinian zaman.

Ketika ada generasi muda Sunda yang gelagapan dengan bahasa Sunda yang dijadikan patokan keabsahan sebagai urang Sunda asli, sejatinya kita tidak mengklaim bahwa orang tersebut tidak nyunda. Konsekuensi perubahan zaman adalah keniscayaan tak nisbi dalam setiap kebudayaan, termasuk Sunda, yang saya pikir akan terus mencari bentuk akibat perubahan zaman.

Sunda tidak mengklaim dan diklaim sebagai milik orang-orang tertentu, Sunda nu aing, Sunda nu maneh, dan Sunda nu urang kabeh. Namun, celakanya, Sunda nu aing banyak diklaim sebagai Sunda nu urang kabeh. Akibatnya, yang tak sepaham dan tak sehaluan dengannya disebut sebagai "tidak nyunda". Sayang rasanya kalau nasib Sunda seperti ini.

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: