10 June 2010

Nulis Tentang Pejabat? Ogah Ah!!!!

BAGIKAN
Bukannya saya tak bisa menulis tentang SBY, Boediono, Sri Mulyani, Bu Ani, Hatta Radjassa, dan pejabat Negara lainnya. Bukan pula saya tak sanggup mengeksplorasi pribadi mereka pada kompasianer. Alasannya…kenapa saya tidak pernah menulis tentang pejabat…karena saya anti dengan gaya hidup ngelit. Saya tak biasa tidur di hotel. Tak biasa sarapan susu dan roti. Kalau pun dipaksakan tubuh saya bisa kemasukan angin, dan pasti maunya keluar-masuk WC. Maksudnya…untuk ee..!

Selain itu, saya juga membenci segala hal yang berbau selebritas. Pejabat kita, kan, sudah terkena waham selebrasi yang nggak perlu. Jadi saya benci semua pejabat. Siapa pun dia. Meskipun sang pejabat sama berjenggot seperti saya. Pokoknya, saya benci mereka karena tetangga saya tak kunjung sejahtera hidupnya. Jujur…saya membenci pejabat yang tak bisa jujur pada hati nurani. Saya tak habis pikir, mungkin mereka tak pernah main ke tempat-tempat kumuh, tak pernah lapar karena banyak duit, tak pernah sakit perut karena telat makan. Pokoknya itulah penyebab saya tak suka menulis tentang pejabat.

Termasuk ketika Kompasianer, latah-latahan menulis tentang Sri Mulyani yang nggak penting. Apakah dia ada di Indonesia atau di Amerika sana, tetap saja tetangga saya masih pada miskin semua.  Saya tak ambil pusing dengan Sri Mulyani. Kenal juga tidak. Malahan saya tak pernah digaji ibu Sri Mulyani, bahkan oleh SBY sekalipun. Mereka berdualah yang saya gaji. Jadi, secara logika mereka lebih rendah dari saya. Bukan sombong…ini kenyataan para anggota dewan, pejabat Negara, dan kalangan birokrat setinggi apa pun pangkatnya, mereka semua digaji oleh rakyat. Semuanya makan dari keringat rakyat.
Saya tidak kuat dengan AC dan makanan hotel yang super mahal ketika mewawancarai mereka.

Kalau pun saya mencoba untuk mewawancarai mereka, nggak mungkin lah mereka mau menemui bosnya yang kebetulan suka memakai sandal jepit. Rakyat adalah bos pejabat, kan? Tetapi kini hal itu terbalik 180 derajat. Pejabat adalah bosnya rakyat. Malahan bukan bos, karena kalau bos sering ngasih tunjangan dan bonus. Lebih pantas kalau pejabat saat kini bagaikan mandor kuli bangunan yang super kejam. Kalau ada untung buat dirinya, rakyat kebagian 100 ribu.

Saya sangat suka reportase yang ditulis Kompasianer, di mana dalam tulisan itu ada pengangkatan masyarakat tertindas. Para pengamen, anak putus sekolah, pengangguran, kejahatan, BBM mahal, kritikan pada pemerintah, dsb. Pokoknya segala sesuatu yang menyangkut kehidupan warga terpinggir karena saya berasal dari warga jenis ini.

Jadi, kalaupun saya membaca tulisan tentang pejabat, yang tak pernah kelaparan, tentunya tidak akan bermanfaat buat saya. Yang ada adalah rasa iri dan dengki, karena bu SMI sukses betul orangnya. Sifat inilah yang tak boleh ditiru Kompasianer…dalam bahasa agama, itu dosa lho.

Saya sudah terbiasa tak memakai baju ketika musim dingin. Saya juga terbiasa tidak makan selama 3 hari 3 malam. Bahkan, pernah selama dua minggu saya harus terus berdoa dan berusaha keras memutar otak untuk mendapatkan nasi yang seharga 5000 perak.

Berikut ini, saya sertakan beberapa alasan kenapa saya tidak mau menulis tentang pejabat.

1.    Saya tidak bisa tidur di kamar hotel karena kasurnya yang empuk…, kemudian WC-nya yang tidak bisa berjongkok, ditambah lagi AC yang tetap bikin keringat saya keluar. Sarapan paginya juga bukan kopi hitam dan sebatang rokok. Bisa berabe deh kalau saya harus menulis tentang mereka. Saya orangnya nyantai, kadang menyebalkan, bahkan seringnya ditipu orang yang baru ketemu untuk diminta ongkos. Hehe

2.    Saya tidak mau menjadi orang kaya. Anda tahulah, kalau menulis tentang pejabat RI, bakal ada fee mulai dari HP atau uang chas…wong tukang cukur Presiden RI juga punya rumah yang mirip istana di dekat kampung saya, di Garut. Apalagi, orang yang bertugas mempublikasikan pejabat ke media massa baik cetak, elektronik, maupun online. Dijamin deh, tajir….! Hehe Nah inilah yang tidak saya inginkan, tajir dari hasil merangkai kalimat manifulasi….silakan anda debat alasan ini, sah-sah saja kok…

3.    Saya seorang manusia indenpenden dan tak mungkin berteman dengan pejabat. Saya terbiasa dengan aktivitas informal…dan tak nyaman ketika di acara-acara formal memakai pakaian formal. Maunya terus pake kaos oblong…celana pendek…sesekali pakai sarung. Bisa Anda bayangkan kalau saya menulis para pejabat…saya jamin setiap hari saya harus makan ati……….

4.    Pokoknya banyak lagi dah…salah satunya suka kentut kalau kedinginan…hahaha

NB: Hasil obrolan dengan beberapa korban PHK, petani, dan warga miskin. Ditambah dengan beberapa pendapat saya yang bisa dipertanggungjawabkan, bahwa para pejabat tidak pernah kelaparan. Tulisan yang saya posting ini, merupakan “Sumpah Palapa” saya untuk tidak pernah menulis tentang pemimpin negeri ini selama angka kemiskinan masih berada di atas 5 persen.
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: